Gempa Jogja memang sudah 2 dasawarsa berlalu. Pada 27 Mei 2026 nanti peristiwa pilu itu diperingati. Bagi para saksi hidup dahsyatnya guncangan bumi tersebut, ada hal penting yang ingin diwariskan pada generasi sekarang. Tentu bukan warisan trauma dan ketakutan, tapi warisan kesiapsiagaan jika bencana yang sama terulang sewaktu-waktu.
***
Sebagaimana pagi-pagi biasanya, sebelum berangkat mengajar di SMAN 1 Kalasan, Muhammad Marjuki (50) mengerjakan beberapa aktivitas di halaman rumah. Begitu juga pagi itu, Sabtu (27/5/2006).
Tidak ada firasat apa pun sebelumnya. Sampai tiba-tiba sebuah guncangan hebat membuat Marjuki langsung diserang kepanikan. Ia teringat istri dan anaknya yang masih berada di dalam rumah.
“Waktu itu usia saya 30 tahun. Anak saya masih umur 3 tahun. Istri saya pagi itu sedang masak. Saya langsung lari ke dalam rumah, menggendong anak dan membawa istri keluar,” ungkap guru Pendidikan Olahraga dan Kesehatan itu bercerita di lapangan SMAN 1 Kalasan, Jumat (22/5/2026).

Sudah mengamankan diri di luar, Marjuki teringat lagi kalau kompor di dapur belum sempat dimatikan. Takut terjadi apa-apa, di tengah gempa susulan dan teriakan-teriakan warga, Marjuki kembali masuk ke dalam rumah untuk mematikan kompor.
“Rumah kami waktu itu modelnya kan rumah lama yang bangunannya tidak begitu kuat. Waktu saya masuk—untuk mematikan kompor—itu, gunungan rumah ambrol. Ambrolnya persis di sebelah anak saya yang pas saya masuk ternyata nginthil di belakang dan tidak saya sadari karena sudah kemrungsung dan panik,” beber Marjuki. Sebelum akhirnya keluarga Marjuki dan warga lain menuju titik lapang yang aman.
SMAN 1 Kalasan: Saksi bisu trauma di sisi sesar Opak
Tidak hanya rumah, sekolah tempat Marjuki mengajar—SMAN 1 Kalasan—pun ambruk sebagian. SMAN 1 Kalasan menjadi satu dari 450 bangunan sekolah di Jogja yang mengalami kerusakan serius akibat gempa.
Kegiatan belajar-mengajar di SMAN 1 Kalasan yang dilakukan di hari-hari setelahnya pun terpaksa dilakukan di tenda-tenda darurat yang dipasang di tengah lapangan sekolah, karena sebagian bangunan kelas rusak parah dan belum bisa difungsikan.
Marjuki menatap nanar para siswa yang belajar di dalam tenda-tenda darurat tersebut. Sebab, mereka harus belajar dalam bayang-bayang kecemasan adanya gempa susulan yang sama dahsyatnya. Mengingat, Kalasan menjadi salah satu jalur perlintasan sesar Opak, yang artinya kapan pun harus siap dengan potensi gempa bumi.
“Waktu itu belum banyak edukasi soal kesiapsiagaan. Dan karena gempa Jogja 2006 itu dahsyat sekali, pasti trauma,” tutur Marjuki.
Trauma serupa juga dirasakan oleh Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Kalasan Bidang Humas, Aris Widaryanti (60). Usianya 40 tahun saat gempa mengguncang Jogja pada pukul 05.53 WIB itu.
“Saya tidak menyangka sebesar itu ya. Waktu itu benar-benar kecau sekali. Banyak orang berlarian dengan luka-luka, orang nangis, menjerit. Anak-anak saya yang saya amankan saat itu juga pada nangis ketakutan,” beber Aris.
“Rumah saya retak-retak. Sementara rumah tetangga-tetangga ada yang hancur,” sambungnya.
Ia juga tidak mengira kalau dampak yang terjadi di tempatnya mengajar, SMAN 1 Kalasan, juga begitu parah. Selama masa recovery kegiatan belajar-mengajar di sekolah, tampak sisa-sisa ketakutan di wajah para pelajar dan guru karena kenyataan bahwa gempa bumi adalah bencana yang niscaya mengintai Kalasan.

Tak ingin wariskan trauma dan ketakutan dari gempa Jogja 2006
Belajar dari gempa Jogja 2006, baik Aris, Marjuki, maupun seluruh civitas akademika SMAN 1 Kalasan lantas menyadari betapa pentingnya kesadaran tanggap bencana di lingkungan sekolah. Mereka tidak ingin mewariskan ketakutan dari gempa Jogja 2006 kepada generasi sekarang.
Lebih dari itu, bagi Aris, generasi sekarang justru harus dilatih agar tangguh dalam menghadapi setiap potensi bencana.
Aris menjelaskan, di antara hal fundamental yang kemudian dilakukan SMAN 1 Kalasan adalah: Menggunakan konstruksi bangunan sekolah yang dirancang tahan gempa. Jalur-jalur evakuasi juga dirancang sedemikian rupa.
Tidak berhenti di situ, SMAN 1 Kalasan menaruh perhatian serius pada aspek kesiapsiagaan dan tanggap bencana di kalangan guru dan pelajar di dalamnya. Itu lah kenapa Aris mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan-pelatihan tanggap bencana.

“Karena ketika terjadi gempa kalau tidak punya kesadaran bagaimana menyelamatkan diri yang benar, bahaya. Misalnya, kita lebih pilih lari saat guncangan ketimbang berlindung di bawah meja. Karena sudah panik lebih dulu,” ungkap Aris.
“Pelatihan tanggap bencana menjadi sangat penting untuk digalakkan, supaya kita seperti negara-negara seperti New Zealand dan Jepang, yang sudah punya mitigasinya tiap terjadi bencana seperti gempa bumi,” imbuhnya.
Dan Aris menegaskan, pelatihan semacam itu bukan lah seremonial belaka. Tetapi benar-benar demi membekali kesadaran para guru dan pelajar terkait keselamatan bencana.
Warisan untuk 1000 pelajar di Jogja: Jadi tangguh dan peduli sesama
Siang itu, Jumat (22/5/2026), InJourney Destination Management (IDM) mengadakan Pelatihan Tanggap Bencana Gempa Bumi yang disambut antusias oleh para guru dan siswa SMAN 1 Kalasan.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program InJourney Community Care, yakni program pelatihan tanggap bencana untuk 1000 pelajar dari 10 sekolah di Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, dan Kota Jogja yang berada di kawasan sesar opak.
Adapun 10 sekolah tersebut antara lain: SMAN 1 Pundong, SMAN 1 Jetis, SMAN 1 Sewon, SMAN 1 Pleret, SMAN 1 Piyungan, SMAN 1 Patuk, SMAN 5 Yogyakarta, SMAN 1 Prambanan, SMKN 1 Kalasan, dan SMAN 1 Kalasan.
Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi intensif antara IDM bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), serta bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DI Yogyakarta melalui Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB) di masing-masing unit sekolah.

“Pelatihan ini dirasa perlu karena kita memerlukan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh, sigap, dan peduli keselamatan bersama,” jelas Direktur Operasi InJourney Destination Management, Indung Purwita Jati.
Bagi Indung, generasi muda merupakan aset penting sebagai agen perubahan. Oleh karena itu, dari 20 tahun peristiwa gempa Jogja, mereka harus mendapat warisan penting berupa literasi kebencanaan dan keselamatan.
“Sehingga mereka bisa menyebarluaskan bagaimana seharusnya jika terjadi bencana, mereka bisa memberikan edukasi kepada orang-orang sekitarnya, sehingga bisa cepat tanggap, serta tujuannya untuk selamat,” jelas Indung.
Saat sirine berbunyi selepas hujan…
Hujan sempat turun di Kalasan. Selepasnya, di tengah hiruk-pikuk aktivitas di SMAN 1 Kalasan, sirine tiba-tiba berbunyi keras, diiringi dengan seruan peringatan dari pengeras suara sekolah.
“Gempa…!”
“Gempa…!”
“Berlindung!”
Aba-aba gempa itu membuat para pelajar dan guru yang masih di dalam kelas langsung berlindung di kolong-kolong meja. Sesaat setelah guncangan mereda, seluruh penghuni sekolah langsung berbondong-bondong keluar ke lapangan dengan melindungi kepala dan tengkuk menggunakan benda-benda sekitar.

Proses evakuasi kemudian dijalankan: Mengecek jumlah pelajar dari setiap kelas, memberi tindakan pertolongan pertama pada yang terluka, dan seterusnya. Itu adalah simulasi—hasil Pelatihan Tanggap Bencana Gempa Bumi—yang langsung dipraktikkan para pelajar SMAN 1 Kalasan.
“Pertama, pokoknya jangan panik. Kalau di kelas atau di dalam ruangan, berlindung di bawah meja. Setelah itu, pastikan teman-teman dalam kondisi aman untuk kemudian bersama-sama keluar ke tempat terbuka,” begitu ungkap Eza, pelajar dari kelas 11 yang mengikuti simulasi.
Gadis 17 tahun tersebut memang belum lahir saat gempa Jogja 20 tahun silam—yang berkekuatan 5.9 Skala Richter—terjadi. Namun, dari cerita orang tuanya, gambaran situasi pada 2006 itu benar-benar sangat mencekam. Rumah-rumah hancur, banyak warga terluka bahkan meregang nyawa.
Sampai saat ini, orang tua Eza masih menyimpan trauma itu. Tiap kali terasa lindu, orang tua Eza pasti bereaksi panik.

Eza sebenarnya sadar kalau daerah yang ia tinggali (Kalasan) adalah perlintasan sesar Opak. Tidak dimungkiri, fakta itu membuatnya diam-diam menyimpan rasa cemas pula jika gempa sebagaimana 20 tahun silam terjadi lagi.
“Tapi seenggaknya sekarang tahu metodenya menghadapi gempa. Kalau dari awal nggak panik, maka bisa berpikir jernih: Apa yang bakal dilakukan, terus siapa yang harus diselamatkan,” jelas gadis ceria tersebut. Warisan kesiapsiagaan, ketangguhan, dan kepedulian kepada sesama itu lah yang Marjuki dan Aris maksud sebelumnya.
Sementara itu, Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK. Andre Notohamijoyo, yang turut hadir di tengah-tengah pelajar SMAN 1 Kalasan mengatakan, peringatan 20 tahun gempa Jogja pada dasarnya menjadi momentum membangun kembali ingatan kolektif.

Secara nasional, tercatat ada sekitar 250 ribu sekolah yang berada di daerah rawan bencana. Tidak hanya gempa bumi, tapi juga potensi bencana lain seperti gunung meletus, tanah longsor, banjir, dan lain-lain.
“Jadi 20 tahun gempa Jogja ini bukan hanya peringatan. Tetapi upaya kita untuk terus-menerus secara berkesinambungan membangun budaya tangguh bencana di masyarakat secara keseluruhan,” tegas Andre.
Gemuruh tepuk-tangan dari seluruh pelajar dan guru SMAN 1 Kalasan mengakhiri selesainya simulasi siang menjelang sore itu. Pemahaman mengenai bagaimana menghadapi situasi gempa bumi tersebut diharapkan menjadi bekal penting saat situasi darurat datang sewaktu-waktu.***(Adv)
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA: Kisah Kampung Ahli Sumur di Jogja yang Mendadak Ditinggal Laki-laki Usai Gempa 2006 atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
`














