MOJOK.CO Jangan menangis, Ki Amien Rais yang semakin dibenci setelah aksi 22 Mei selesai. Ini, ada 5 alternatif pekerjaan yang saya susun khusus untuk Bapak Reformasi.

Dear Ki Amien Rais, saya tahu kalau saat ini Bapak sedang perlu berkonsentrasi kepada panggilan dari pihak kepolisian sebagai saksi dalam kasus makar Eggi Sudjana. Saya cuma ingin menyampaikan: jaga kesehatan ya, Pak. Indonesia ini membutuhkan lebih banyak pahlawan seperti bapak.

Saya sedikit sedih ketika nama Bapak semakin tiada harum setelah aksi 22 Mei akhirnya selesai juga. Ki Amien Rais bahkan dianggap sebagai salah satu provokator dari kericuhan yang terjadi dalam rangkaian aksi 22 Mei yang lalu. Ada pembakaran, penyerangan kepada polisi, dan lain sebagainya.

Ketika Ki Amien Rais menyampaikan pendapat, bahwa ada kecurigaan kalau polisi menggunakan peluru tajam untuk menembaki peserta aksi. Banyak yang langsung terpelatuk dan mengata-ngatain Bapak. Astaghfirullah, para haters ini memang nggak paham, Pak.

Ketika membuat video menunjukkan selongsong peluru tajam, saya yakin Ki Amien Rais nggak tahu dari mana peluru itu berasal. Pasti ada peserta aksi 22 Mei yang datang dan mengadu sambil bawa selongsong. Sebagai bapak dan kakek yang tidak punya hati curiga dan selalu positif kepada semua orang–termasuk lawan politik–Ki Amien lalu melakukan pembelaan. Kalian yang nggak tahu saja.

Ketika pada akhirnya melakukan ralat dengan menjelaskan bahwa bukan polisi yang melakukan pembelaan, kalian harusnya tahu seberapa bening sanubari sesepuh PAN ini. Mana ada sih sekarang ini politikus yang mau mengalah, padahal sudah terang kalau (sementara ini) kalah. Mengakui kesalahan, dan mengakui kemenangan lawan itu sungguh sikap langka dan Ki Amien menunjukkannya. Ini sosok pilih tanding, junjungan. Cocok dapat Kalpataru.

Oleh sebab itu, dearest Ki Amien Rais, saya tidak rela nama bapak semakin coreng-moreng setelah aksi 22 Mei. Saya mengusulkan Ki Amien untuk pensiun saja dari dunia politik. Toh, tidak ada yang bisa memahami betapa visionernya Bapak. Baik dari sisi diksi, penciptaan istilah, sampai satire Bapak yang tingkat lanjut dan sulit dicerna banyak orang itu. Perlu saya akui, saya pun sering nggak paham.

Yah, tapi itu nggak penting. Ki Amien Rais layak mendapatkan penghargaan yang lebih layak. Berikut saya sampaikan 5 alternatif profesi untuk Bapak.

Baca juga:  People Power, Dimulai dan Diakhiri Amien Rais, Tak Diacuhkan Sandiaga Uno

1. Penulis buku primbon dengan nama pena: Ki Amien Rais.

Menjadi penulis primbon dibutuhkan kemampuan terawangan yang mumpuni. Ki Amien Rais tak perlu bekerja keras. Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri seperti di aksi 22 Mei.

Bisa merasakan keberadaan jin dan genderuwo di Hotel Borobudur, bisa memahami permintaan malaikat yang mendoakan Jokowi kalah, sampai bisa membuat dikotomi Partai Setan dan Partai Allah. Orang Jawa menyebutnya werung sakdurunge winarah atau ‘bisa tahu sebelum hal itu terjadi’.

“Buat kamu yang semalam mimpi kencing tapi kasur ikut basah. Itu artinya kamu ngompol.” Sungguh terawangan yang riil dan andhap asor.

2. Nyalon Ketua RT atau RW.

Warga Pandean Sari, Condong Catur, Depok, Sleman pasti nggak keberatan kalau Ki Amien Rais pulang kandang dan menjabat sebagai Ketua RT/RW. Kalau bisa malah kasih jabatan itu dengan masa bakti seumur hidup.

Bagaimana nggak setuju, pengalaman bertahun-tahun di dunia politik pasti bikin beliau sangat paham cara menggerakkan massa. Ki Amien Rais bisa menggiatkan lagi program jimpitan rakyat yang sering bolong-bolong itu. Selain jimpitan yang kadang nggak tertib, warga juga perlu disiplin untuk ikut acara kerja bakti.

Sebagai nasionalis sejati, membakar semangat warga dengan video yang diunggah lewat Twitter pasti ampuh. Kasih sedikit hoaks seperti di aksi 22 Mei, makin sedap.

“Kepada warga Pandean Sari, saya sedih, saya menangis. Bisa-bisanya tenaga kerja asing, mungkin dari Cina, malah kerja bakti, sementara kita sok-sokan ikut Car Free Day di Malioboro yang jauh lagi macet itu. Padahal sampai di Car Free Day cuma foto-foto dan sarapan soto bukannya olahraga. Ayo, kita bersatu. Rebut kembali ranah kerja bakti kita dari rongrongan tenaga kerja asing! Ini pemerintah daerah harus turun melihat kondisi warga!”

3. Bikin franchise makanan kekinian, sekaligus one stop services.

Ketimbang demo seperti aksi 22 Mei, mending jadi wirausaha, Pak.

Dearest Ki Amien Rais, sekarang ini lagi musimnya franchise makanan kekinian. Roti John, roti panjang yang isinya macam-macam dan harganya mahal itu, misalnya. Atau bisa juga mulai bisnis teh tarik, kedai kopi merangkap co-working space yang harga minumannya sungguh mahal tapi pengunjung nggak peduli karena yang penting nggak ketinggalan zaman meski duit di dompet tinggal Rp50 ribu buat beli kopi plastikan habis Rp39 ribu itu.

Baca juga:  Di Tangan Persaudaraan Alumni 212, Kasus Hilangnya Foto Instagram Amien Rais Bisa Sampai Mahkamah Internasional

Saya membayangkan Ki Amien Rais membangun one stop services untuk kuliner franchise-an ini. Bisa dikasih nama Kampoeng Rais, kalau disingkat jadi KR. Sebuah kependekan yang bisa kamu panjangkan juga jadi Kedaulatan Rakyat. Sudah cocok dengan people power, ahh maaf, sudah ganti dengan gerakan kedaulatan rakyat yang Bapak kreasikan.

Gerakan kedaulatan rakyat untuk merebut kembali ruang-ruang kosong dan dijadikan tempat makan fancy dibalut konsep jadul. Pedulit setan dengan ruang terbuka hijau. Kita akan selalu butuh tempat makan, ngopi, dan ghibah yang paling update.

4. Mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa di SD Budi Mulia.

SD Budi Mulia Dua punya slogan yang berbunyi, “Bersekolah dengan senang dan senang di sekolah”. Sebagai pendiri dari Budi Mulia Foundation, kembali ke “kandang” juga bisa berlaku di sini, bukan hanya sebagai Ketua RT/RW di Pandean Sari.

Mata pelajaran yang cocok diampu oleh Ki Amien Rais adalah Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Untuk Bahasa Indonesia, teori dan praktik bisa disatukan. Membuat diksi dan istilah secara kreatif itu adalah kerja komprehensif dari memadukan kerja memahami teori dan praktik secara langsung. Uopoh…

Sementara itu, saat ini, jumlah pengajar Bahasa Jawa semakin berkurang. Pun orang tua zaman sekarang ini sudah nggak paham sama pelajaran Bahasa Jawa. Lha wong keponakan saya saja kalau belajar Bahasa Jawa perlu bertanya ke bapak saya.

Bisa kamu bayangkan, Ki Amien Rais sebagai kakek yang mengayomi dan menumbuhkembangkan kreativitas, mengajari anak-anak Budi Mulia dengan sabar. Seperti kakek yang dengan senang hati membimbing cucunya belajar Ha Na Ca Ra Ka. So kyooot…

5. Menulis untuk Mojok!

Satire Ki Amien Rais itu sudah berada di level yang berbeda dibanding semua politikus Indonesia. Saya semakin yakin kalau Mojok ini adalah platform yang tercipta khusus untuk Ki Amien! No explanation needed!