Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Asal Muasal Istilah Makar yang Sering Dipakai untuk Menakuti Penguasa

Redaksi oleh Redaksi
13 September 2025
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menanggapi peristiwa demonstrasi di pekan terakhir Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto tanpa teks di depan para wartawan mengeluarkan kembali sebuah diksi yang sekiranya sudah lama punah dalam kamus politik Indonesia kita tercinta ini. Kata itu adalah makar.

Kata makar biasanya ditujukan kepada mereka yang dianggap telah melukai aparat keamanan, membakar fasilitas umum, atau menyerang markas polisi. Dalam konstruksi politik Orde Baru maupun pascareformasi, istilah ini menjadi senjata ampuh untuk menempelkan stigma kepada siapa pun yang berseberangan dengan penguasa.

Iklan

Kilas balik ke masa lalu, kita pernah menyaksikan momen paling dramatis pada pekan-pekan awal 1974. Kala itu, malapetaka Januari pada 15 Januari, ketika mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan, disusul dengan kerusuhan di kawasan Senen yang menargetkan markas Brimob serta kantor Gegana. Kata makar pun mulai menguat sebagai tuduhan politik.

Jejaknya tidak berhenti di sana. Dua dekade kemudian, menjelang akhir 1990-an, istilah yang sama kembali dipakai. Tahun 1998, dalam gelombang reformasi, tuduhan makar diarahkan pada mahasiswa yang melakukan demonstrasi menolak Sidang MPR di bulan November. Gerakan mereka dianggap upaya menggulingkan pemerintahan yang sah, yakni pemerintahan B.J. Habibie kala itu.

Dengan demikian, kata makar tidak pernah benar-benar hilang dari politik Indonesia. Dari Malari 1974, Kudatuli 1996, hingga Tragedi Semanggi 1998, istilah ini terus dipakai untuk memburu mahasiswa, aktivis, maupun lawan politik. Kini, di era Presiden Prabowo, kata itu kembali menggema.

Lewat episode Jasmerah kali ini, Muhidin M. Dahlan, dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir Indonesia, mengajak kita membaca ulang sejarah panjang “makar” sebagai diksi politik: bagaimana ia dipakai untuk membungkam, menakut-nakuti, sekaligus membentuk narasi penguasa.

Tags: jasmerahmakarPolitik Indonesiapolitik orde barutragedi makar

Terpopuler Sepekan

Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Tips Meningkatkan Kenikmatan Ayam Goreng Olive Chicken Jogja (Mojok/Agung)

Tips Meningkatkan Kenikmatan Rasa Ayam Goreng Olive Chicken Jogja yang Sudah Menjadi Legenda Kuliner Itu

3 Juli 2026
Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi MOJOK.CO

Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi

3 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.