MOJOK.COKiat biar nggak jadi sarjana nganggur, setidaknya cuma ada dua. Pertama, soft skill yang didapat dari pengalaman. Kedua, attitude di depan semua orang.

Bagi beberapa mahasiswa, magang dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) itu nggak cukup jadi bekal setelah lulus kuliah. Saya bilang beberapa karena memang hasilnya beragam. Ada yang dapat tempat magang bagus. Peluang kerja jadi terbuka, bahkan sebelum lulus. Ada juga yang sekadar menghabiskan waktu beberapa bulan demi dapat tanda tangan.

Ada yang KKN-nya sukses dan membuka kesempatan baru. Misalnya bikin program ternak lele dan ternyata bisa di-scale up setelah lulus. Ada pula yang waktu KKN-nya habis cuma buat bikin gapura karena nggak kuat menolak permintaan warga yang kadang aneh-aneh. Hasilnya, dapat kenalan bapak-bapak di sebuah kampung, yang cuma asik buat cangkruk sambil ngopi.

Bagi yang magang dan KKN-nya gagal, mereka berpotensi menyandang status sarjana nganggur. Lho, ini serius. Ada beberapa teman saya di kampus yang jadi sarjana nganggur, tidak langsung dapat gawean setelah lulus. Karena kepepet kebutuhan, waktu, dan usia, mereka memutuskan mencoba profesi berbeda, jauh dari ilmu yang didapat ketika kuliah.

Mereka mencoba melamar posisi editor di penerbit. Ada pula yang mau jadi wartawan. Namun, mereka gagal ketika wawancara. Karena baru saja lulus, teori-teori tentang bahasa dan sastra masih segar di dalam kepala. Ketika menjelaskan teori, mereka seperti dosen yang mengajar. Tapi, ketika diminta menerapkannya ke dalam sebuah kejadian nyata, susahnya minta ampun.

Baca juga:  Ciri Mahasiswa yang Bakal Jadi Musuh Bersama Saat KKN

Di dalam kepala mereka tidak ada konteks “kejadian nyata” itu. Tubuh mereka tidak pernah merasakannya. Mulut mereka tidak terbiasa memburu fakta dari narasumber.

Periode jadi sarjana nganggur itulah yang terkadang meruntuhkan mental. Membuat mereka cuma bisa menyesal. “Ngapain aja aku waktu kuliah.” Kok ya ndilalah, kebanyakan dari mereka termasuk dalam golongan mahasiswa “kupu-kupu” alias, kuliah lalu pulang. Mereka lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan, cuma buat membaca buku atau pakai wi-fi gratisan.

Kiat biar nggak jadi sarjana nganggur

Kiatnya menghindari status sarjana nganggur udah banyak. Salah satunya kudu punya soft skill atau kemampuan untuk berinteraksi. Kampus menyediakan UKM, sementara di fakultas biasanya banyak seminar yang bisa diikuti.

Nah, ini yang dulu terjadi.

Sebelum masuk UKM, sering terjadi, mahasiswa baru, mendengar cerita-cerita negatif. Mulai dari kehabisan waktu untuk belajar karena padatnya acara UKM, sampai cerita nakalnya kakak-kakak angkatan. Cerita-cerita yang nggak sepenuhnya bener itu sukses membuat mahasiswa baru mengurungkan niat untuk bersosialisasi.

Kenapa saya cerita ini? Karena ini pengalaman saya dulu. Cerita-cerita itu banyak menghambat mahasiswa baru membangun soft skill di lingkungan kampusnya sendiri dan berakhir jadi sarjana nganggur. Ketika kuliah sudah berjalan beberapa semester, mereka juga kehilangan minat untuk ikut seminar atau pelatihan menulis. Misi mereka adalah mengejar nilai A dan IPK di atas 3.

Baca juga:  5 Alasan Putus Sama Pacar Saat KKN

Saya mungkin sedikit beruntung. Rasa bosan membawa saya dari seminar satu ke seminar lainnya. Dari pelatihan menulis ke pelatihan mengedit. Ketemu banyak orang besar, orang-orang baik yang nggak pelit berbagi ilmu. Ilmu yang justru nggak ada di bangku kuliah.

Dorongan untuk mengubah ide menjadi tulisan membantu saya mendapatkan proyek menulis buku sebelum lulus kuliah. Salah satu proses yang harus saya lewati adalah wawancara.

Yang punya proyek adalah sebuah penerbitan besar di Jawa Tengah. Saya ketemu langsung dengan direkturnya. Beliau nggak pernah bertanya saya kuliah di jurusan apa. Beliau hanya membaca sebuah esai yang saya tulis. Dari esai itu, pertanyaan-pertanyaan tidak terduga muncul. Jenis pertanyaan yang mungkin tidak bisa saya jawab jika tidak pernah merasakan pengalaman di luar kampus.

“Berapa lama, Mas, bisa menyelesaikan satu bab?”

Ini jenis pertanyaan dunia nyata. Di kampus, saya belajar soal pembabagan bab dan subbab. Namun, dosen tidak pernah menjelaskan berapa lama dan caranya seorang penulis menyelesaikan satu bab. Saya mendapat kiatnya ketika ikut sebuah pelatihan menulis. Nggak cuma kiatnya, tapi cara menjelaskannya kepada pemberi kerja juga penting.

Ilmu di kampus memang sangat berharga. Masih terpakai sampai saya kerja di Mojok sekarang. Namun, pengalaman sama pentingnya. Bagi saya, pengalaman itu mengiringi teori.

Kiat kedua biar kamu nggak jadi sarjana nganggur adalah attitude. Jangan keminter, sok pintar di depan calon pemberi kerja. Kamu nggak akan pernah tahu tingginya ilmu dan banyaknya pengalaman si pemberi kerja. Meskipun beliau masih sangat muda. Sikap yang bagus, bukan saja ditujukan kepada mereka yang lebih tua. Terapkan sikap terbaik kepada semua usia.

Baca juga:  Meminimalisir Kontak dengan Mahasiswa Senior Saat Ospek

Karena sudah bekerja sebelum lulus, semua pintu seperti terbuka. Setelah lulus, semuanya jadi lebih mudah. Terutama ketika kamu harus mengisi CV. Oya, pelajari juga cara terbaik menulis email lamaran pekerjaan. Email lamaran pekerjaan bukan sekadar “permohonan” minta kerjaan. Surat itu menjadi wakil dirimu di depan calon pemberi kerjaan sebelum kalian tatap muka di sesi wawancara.

Seumur hidup, cuma satu kali saya bikin lamaran. Bukan mau sombong. Cuma mau ngasih gambaran (caranya sombong) kalau pintu yang terbuka itu, akan bersambung ke pintu lain secara tidak terduga. Pengalaman dan attitude. Dua hal mahal yang sebaiknya kamu miliki biar nggak jadi sarjana nganggur.

BACA JUGA Betah di Kampus atau Lulus tapi Nganggur? atau esai YAMADIPATI SENO lainnya.