Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
26 April 2026
A A
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO

Ilustrasi Kerja di Jakarta (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi sebagian besar anak muda yang baru lulus kuliah alias fresh graduate, Jakarta selalu terlihat sebagai kota impian. Gaji UMR di atas Rp5 juta, deretan gedung perkantoran mentereng, dan gaya hidup asyik saat akhir pekan, seringkali menjadi magnet yang kuat. 

Narasi bahwa “sukses itu harus ke Jakarta” masih menempel erat di kepala banyak orang.

Jika melihat sekilas, narasi itu sepertinya benar adanya. Tengok saja pengalaman Kevin (26). Lulus dari sebuah kampus swasta di Jawa Barat, ia langsung merantau ke ibu kota dan diterima bekerja di sebuah agensi sejak awal 2025 lalu. 

Hidup enak asal punya privilese

Bagi Kevin, Jakarta adalah tempat yang sangat nyaman. Gajinya besar, kariernya bisa melesat cepat, dan setiap akhir pekan ia bisa nongkrong santai di kafe-kafe kawasan Jakarta Selatan.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal penting yang sering dilupakan. Kevin mengaku bisa menikmati ibu kota karena ia memiliki privilese. Salah satunya tidak perlu membayar sewa tempat tinggal. 

Kevin tinggal secara gratis di paviliun milik saudara di daerah Tebet. Ia juga bukan tulang punggung keluarga yang harus rutin mengirim uang ke kampung.

Alhasil, gajinya seratus persen ia gunakan untuk biaya hidupnya sendiri.

Nyatanya, banyak fresh fraduate yang menderita di Jakarta

Sayangnya, kondisi ideal seperti Kevin adalah pengecualian. Kenyataannya, untuk sekadar diterima bekerja di Jakarta saja butuh perjuangan panjang. Saya sendiri memiliki banyak teman yang merantau ke Jakarta.

Dan, cerita mereka selalu sama: lowongan kerja di Jakarta memang banyak, tapi mereka harus bersaing dengan puluhan ribu orang dari seluruh Indonesia.

Ketatnya persaingan ini bukan isapan jempol belaka. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), setiap tahunnya selalu ada jutaan pengangguran terdidik setingkat sarjana atau diploma. Jakarta menjadi arena pertarungan utama. 

Keputusasaan fresh graduate yang ingin segera punya pekerjaan inilah yang akhirnya sering dimanfaatkan oleh pihak perusahaan. Alih-alih memberi upah layak, banyak kantor yang justru mengeksploitasi anak baru dengan menawarkan gaji jauh di bawah UMR. 

Modusnya bermacam-macam, mulai dari sistem probation (masa percobaan) yang tak jelas kapan selesainya, hingga program magang dengan beban kerja layaknya karyawan penuh.

Cerita mereka ini pun beberapa kali saya tulis di Mojok.

Dapat gaji 5 juta sebulan, hitungannya pun masih sedikit

Lalu, anggaplah kamu termasuk golongan yang beruntung. Kamu berhasil menyingkirkan ribuan pesaing dan mendapat pekerjaan dengan gaji UMR Jakarta. Apakah hidup otomatis langsung sejahtera? 

Iklan

Nyatanya, bagi Fajar (25), itu tidak terjadi.

Saat pertama kali pindah dari Jogja ke Jakarta pada 2024 lalu, Fajar membayangkan gaji Rp5 juta adalah jumlah yang sangat besar. Namun, realitas keras langsung menamparnya saat ia mencari tempat tinggal. 

Bagi Fajar, yang mengutip teori perencanaan keuangan dasar, biaya sewa tempat tinggal idealnya maksimal seperlima dari total pendapatan. Dengan gaji UMR, Fajar mematok anggaran kos mentok di angka Rp1 juta sebulan.

Di daerah asalnya, Jogja, uang segitu mungkin sudah bisa menyewa kamar yang cukup luas. Namun, tidak di Jakarta.

Dengan uang sejuta, ia hanya berhasil menyewa kamar kos sepetak di dalam gang sempit yang sumpek di Tebet.

“Ekspektasiku pas awal, gaji 5 juta bisa nabung. Nyatanya kerja keras sebulan penuh cuma buat numpang lewat bayar ibu kos sama makan,” cerita Fajar, Minggu (26/4/2026). 

Sisa gajinya habis tersedot untuk ongkos transportasi dan kebutuhan harian. Di akhir bulan, uang yang berhasil ia tabung ternyata sama kecilnya dengan teman-temannya yang memilih bekerja di daerah asal.

Jakarta menguji kewarasan pekerja

Bagi fresh graduate lain, penderitaan di Jakarta bukan cuma soal uang yang numpang lewat, tapi juga fisik dan kewarasan yang terkuras habis. Nisa (24) adalah salah satu korbannya.

Karena tidak sanggup membayar kos di tengah kota, Nisa terpaksa mencari tempat tinggal murah di daerah pinggiran. 

Imbasnya, ia harus rela menukar uang dengan tenaga fisiknya. Setiap hari, Nisa sudah harus bangun jam lima pagi untuk ikut berdesakan di gerbong KRL dan adu nasib di Stasiun Manggarai. 

“Belum juga mulai bekerja, fisik udah lelah duluan di jalan,” katanya.

Beban itu makin berat dengan adanya tuntutan gaya hidup alias “pajak pergaulan”. Di lingkungan kerjanya, sering ada ajakan makan siang di mal atau ngopi di kafe mahal tiap pekan. 

Karena takut dikucilkan dan tidak punya teman, Nisa terpaksa ikut, meski ujung-ujungnya harus mengeruk isi dompetnya.

“Apalagi di Jakarta itu standard makan berapa sih? 50 ribu cuma sekali makan.”

Fresh graduate langsung nekat ke Jakarta, mentalnya langsung dihajar

Setelah fisiknya habis di jalan, mental Nisa pun ikut dihajar oleh tuntutan kerja yang tidak kenal waktu. Misalnya, dan paling bikin ia stres, bosnya kerap mengirim pesan urusan pekerjaan di hari Minggu. 

Beban pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh tiga orang, dilimpahkan semuanya ke pundak Nisa karena statusnya sebagai “anak baru”.

Apa yang dialami Nisa nyatanya selaras dengan temuan berbagai lembaga ketenagakerjaan.

Survei dari organisasi seperti Gallup secara rutin melaporkan bahwa generasi muda saat ini, terutama Gen Z, merupakan kelompok pekerja dengan tingkat stres dan burnout paling tinggi di tempat kerja.

“Gaji 5 juta di Jakarta itu sebenarnya bukan gaji murni. Itu hitungannya cuma uang kompensasi buat mental kita yang dirampas perusahaan,” keluh Nisa.

Baiknya “menggembleng” mental dulu di daerah asal

Nisa, yang kini memilih kerja di Jogja dengan gaji lebih kecil, berpendapat bahwa tak ada salahnya memang fresh fraduate langsung kerja di Jakarta. Hanya saja, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan.

Misalnya, jika baru lulus kuliah dan hanya ditawari gaji mepet UMR atau bahkan di bawahnya, lebih baik kerja di kota asal karena hitung-hitungannya sama saja.

“Kataku sih, kalau gajinya mentok UMR Jakarta, mending cari dulu pengalaman kerja selama satu atau dua tahun di daerah asal terlebih dahulu untuk mematangkan kemampuan diri.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto Atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 April 2026 oleh

Tags: biaya hidup di jakartafresh graduatejakartakerja di jakartamerantau ke jakartapilihan redaksiUMR Jakarta
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO
Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.