Bagi sebagian besar anak muda yang baru lulus kuliah alias fresh graduate, Jakarta selalu terlihat sebagai kota impian. Gaji UMR di atas Rp5 juta, deretan gedung perkantoran mentereng, dan gaya hidup asyik saat akhir pekan, seringkali menjadi magnet yang kuat.
Narasi bahwa “sukses itu harus ke Jakarta” masih menempel erat di kepala banyak orang.
Jika melihat sekilas, narasi itu sepertinya benar adanya. Tengok saja pengalaman Kevin (26). Lulus dari sebuah kampus swasta di Jawa Barat, ia langsung merantau ke ibu kota dan diterima bekerja di sebuah agensi sejak awal 2025 lalu.
Hidup enak asal punya privilese
Bagi Kevin, Jakarta adalah tempat yang sangat nyaman. Gajinya besar, kariernya bisa melesat cepat, dan setiap akhir pekan ia bisa nongkrong santai di kafe-kafe kawasan Jakarta Selatan.
Namun, di balik semua itu, ada satu hal penting yang sering dilupakan. Kevin mengaku bisa menikmati ibu kota karena ia memiliki privilese. Salah satunya tidak perlu membayar sewa tempat tinggal.
Kevin tinggal secara gratis di paviliun milik saudara di daerah Tebet. Ia juga bukan tulang punggung keluarga yang harus rutin mengirim uang ke kampung.
Alhasil, gajinya seratus persen ia gunakan untuk biaya hidupnya sendiri.
Nyatanya, banyak fresh fraduate yang menderita di Jakarta
Sayangnya, kondisi ideal seperti Kevin adalah pengecualian. Kenyataannya, untuk sekadar diterima bekerja di Jakarta saja butuh perjuangan panjang. Saya sendiri memiliki banyak teman yang merantau ke Jakarta.
Dan, cerita mereka selalu sama: lowongan kerja di Jakarta memang banyak, tapi mereka harus bersaing dengan puluhan ribu orang dari seluruh Indonesia.
Ketatnya persaingan ini bukan isapan jempol belaka. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), setiap tahunnya selalu ada jutaan pengangguran terdidik setingkat sarjana atau diploma. Jakarta menjadi arena pertarungan utama.
Keputusasaan fresh graduate yang ingin segera punya pekerjaan inilah yang akhirnya sering dimanfaatkan oleh pihak perusahaan. Alih-alih memberi upah layak, banyak kantor yang justru mengeksploitasi anak baru dengan menawarkan gaji jauh di bawah UMR.
Modusnya bermacam-macam, mulai dari sistem probation (masa percobaan) yang tak jelas kapan selesainya, hingga program magang dengan beban kerja layaknya karyawan penuh.
Cerita mereka ini pun beberapa kali saya tulis di Mojok.
Dapat gaji 5 juta sebulan, hitungannya pun masih sedikit
Lalu, anggaplah kamu termasuk golongan yang beruntung. Kamu berhasil menyingkirkan ribuan pesaing dan mendapat pekerjaan dengan gaji UMR Jakarta. Apakah hidup otomatis langsung sejahtera?
Nyatanya, bagi Fajar (25), itu tidak terjadi.
Saat pertama kali pindah dari Jogja ke Jakarta pada 2024 lalu, Fajar membayangkan gaji Rp5 juta adalah jumlah yang sangat besar. Namun, realitas keras langsung menamparnya saat ia mencari tempat tinggal.
Bagi Fajar, yang mengutip teori perencanaan keuangan dasar, biaya sewa tempat tinggal idealnya maksimal seperlima dari total pendapatan. Dengan gaji UMR, Fajar mematok anggaran kos mentok di angka Rp1 juta sebulan.
Di daerah asalnya, Jogja, uang segitu mungkin sudah bisa menyewa kamar yang cukup luas. Namun, tidak di Jakarta.
Dengan uang sejuta, ia hanya berhasil menyewa kamar kos sepetak di dalam gang sempit yang sumpek di Tebet.
“Ekspektasiku pas awal, gaji 5 juta bisa nabung. Nyatanya kerja keras sebulan penuh cuma buat numpang lewat bayar ibu kos sama makan,” cerita Fajar, Minggu (26/4/2026).
Sisa gajinya habis tersedot untuk ongkos transportasi dan kebutuhan harian. Di akhir bulan, uang yang berhasil ia tabung ternyata sama kecilnya dengan teman-temannya yang memilih bekerja di daerah asal.
Jakarta menguji kewarasan pekerja
Bagi fresh graduate lain, penderitaan di Jakarta bukan cuma soal uang yang numpang lewat, tapi juga fisik dan kewarasan yang terkuras habis. Nisa (24) adalah salah satu korbannya.
Karena tidak sanggup membayar kos di tengah kota, Nisa terpaksa mencari tempat tinggal murah di daerah pinggiran.
Imbasnya, ia harus rela menukar uang dengan tenaga fisiknya. Setiap hari, Nisa sudah harus bangun jam lima pagi untuk ikut berdesakan di gerbong KRL dan adu nasib di Stasiun Manggarai.
“Belum juga mulai bekerja, fisik udah lelah duluan di jalan,” katanya.
Beban itu makin berat dengan adanya tuntutan gaya hidup alias “pajak pergaulan”. Di lingkungan kerjanya, sering ada ajakan makan siang di mal atau ngopi di kafe mahal tiap pekan.
Karena takut dikucilkan dan tidak punya teman, Nisa terpaksa ikut, meski ujung-ujungnya harus mengeruk isi dompetnya.
“Apalagi di Jakarta itu standard makan berapa sih? 50 ribu cuma sekali makan.”
Fresh graduate langsung nekat ke Jakarta, mentalnya langsung dihajar
Setelah fisiknya habis di jalan, mental Nisa pun ikut dihajar oleh tuntutan kerja yang tidak kenal waktu. Misalnya, dan paling bikin ia stres, bosnya kerap mengirim pesan urusan pekerjaan di hari Minggu.
Beban pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh tiga orang, dilimpahkan semuanya ke pundak Nisa karena statusnya sebagai “anak baru”.
Apa yang dialami Nisa nyatanya selaras dengan temuan berbagai lembaga ketenagakerjaan.
Survei dari organisasi seperti Gallup secara rutin melaporkan bahwa generasi muda saat ini, terutama Gen Z, merupakan kelompok pekerja dengan tingkat stres dan burnout paling tinggi di tempat kerja.
“Gaji 5 juta di Jakarta itu sebenarnya bukan gaji murni. Itu hitungannya cuma uang kompensasi buat mental kita yang dirampas perusahaan,” keluh Nisa.
Baiknya “menggembleng” mental dulu di daerah asal
Nisa, yang kini memilih kerja di Jogja dengan gaji lebih kecil, berpendapat bahwa tak ada salahnya memang fresh fraduate langsung kerja di Jakarta. Hanya saja, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan.
Misalnya, jika baru lulus kuliah dan hanya ditawari gaji mepet UMR atau bahkan di bawahnya, lebih baik kerja di kota asal karena hitung-hitungannya sama saja.
“Kataku sih, kalau gajinya mentok UMR Jakarta, mending cari dulu pengalaman kerja selama satu atau dua tahun di daerah asal terlebih dahulu untuk mematangkan kemampuan diri.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto Atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














