fbpx

MOJOK.COToh pada akhirnya, karakter terbaik adalah milik Inter Milan, sementara kekalahan hampir selalu milik Zlatan Ibrahimovic, eh maaf, AC Milan, bukan Internazionale.

Saya rasa, Derby della Madonnina adalah salah satu derby yang hasil akhirnya sulit diprediksi. Misalnya, ketika Inter Milan sedang dalam periode buruk pun, mereka punya cara untuk mengalahkan AC Milan. Kecuali kemenangan Milan dengan skor 6-0 pada musim 2000/2001, skor pertandingan derby ini hampir selalu tipis.

Internazionale kembali bermain sangat buruk di babak pertama derby Milan musim 2019/2020. Mereka tertinggal dengan skor 0-2. Koordinasi lini belakang yang membuat Inter cukup kokoh di Serie A musim ini terlihat lepas dari genggaman. Konsentrasi Internazionale hilang ketika Milan mencetak gol pertama lewat kaki Ante Rebic.

Ketika Zlatan Ibrahimovic membuat gol mudah dan mengubah skor menjadi 0-2, seolah-olah derby sudah selesai. Gaung suara Stefano Pioli menjelang pertandingan seperti terdengar kembali. Pelatih asal Italia itu menegaskan kalau mereka akan menunjukkan karekter terbaik sekaligus mengungkapkan kalau siapa pun punya kelemahan, termasuk Inter Milan.

Ketika memperhatikan jalannya pertandingan pun penonton bisa memaklumi kalau Milan memang layak unggul atas Inter Milan. Sekali lagi, koordinasi Internazionale, mulai dari lini pertahanan hingga lapangan tengah seperti kabur. Pemosisian pemain terlihat begitu salah, membuat AC Milan dengan enak mensirkulasikan bola lewat dua sisi lapangan.

Namun, sekali lagi, Derby della Madonnina memang sulit diprediksi. Inter Milan masuk ke lapangan dengan konsentrasi yang berbeda. Dua sisi lapangan yang memang menjadi salah satu kekuatan Inter lebih hidup. Penempatan posisi dan pengambilan keputusan kapan harus men-delay umpan, kapan harus melepas umpan silang, lebih terasa pas.

Sejak menit pertama di babak kedua, Inter Milan sudah tahu apa yang harus dilakukan. Sesuatu yang sejak awal sebenarnya sudah ditegaskan oleh Conte. Mereka bermain dengan skema 3-5-1-1. Teorinya sederhana: jika ingin unggul di dua sisi lapangan, kamu harus menguasai lapangan tengah, begitu juga sebaliknya. Matias Vecino, Marcelo Brozovic, dan Nicolo Barella, dari sisi teknis, memang lebih unggul dari gelandang AC Milan.

Baca juga:  Membayangkan Kantor Sebagai Sebuah Tim Sepak Bola

Sejak Inter Milan masuk ke lapangan di babak kedua, Milan melakukan satu kesalahan mendasar bagi semua klub yang sudah unggul. Mereka membiarkan Inter menentukan tempo pertandingan. Sejak awal babak kedua, Internazionale seperti diberi bagian untuk menentukan pertandingan secara cuma-cuma.

Sejak awal babak kedua, justru Internazionale yang mampu menunjukkan karakter. Sebuah penegasan bahwa mereka memang layak menjadi pengganggu Juventus mengejar Scudetto di musim 2019/2020.

Sebetulnya, hanya melihat sosok Conte saja kita tahu kalau Inter Milan tidak akan melepaskan laga ini. Sekali lagi, Internazionale mungkin tengah dalam periode terburuk, tetapi mereka selalu punya cara untuk mengalahkan AC Milan. Sekali Pioli melepaskan kendali laga, AC Milan sudah kalah. Ini pelajaran penting bagi AC Milan yang berusaha mendekati empat besar Serie A. karakter.

Milan, melihat skuat yang ada, sebetulnya dipenuhi pemain dengan kualitas teknis kelas elite. Namun, mereka seperti memasrahkan kotak penalti hanya kepada Ibrahimovic saja. Pemain asal Swedia itu memang akan memberi hasil berupa gol. Namun, Ibrahimovic saja tidak akan menentukan sebuah laga.

Apalagi, ketika kita melihat sejarah pertemuan Inter Milan vs AC Milan di mana Ibrahimovic ada di dalamnya, klub yang disebut kedua hampir tidak pernah menang. Kemenangan AC Milan atas Inter di mana Ibrahimovic turut bermain hanya terjadi satu kali, yaitu pada 14 November 2010. AC Milan menang dengan skor tipis, 1-0, atas Internazionale. Ibrahimovic mencetak satu-satunya gol lewat titik penalti.

Laga di musim 2010/2011 di mana AC Milan menjadi Scudetto itu menjadi ikonik berkat adu mulut antara Ibrahimovic dan Julio Cesar, kipper Internazionale. Setelah gol terjadi, Ibrahimovic meledek Julio yang sebelumnya memprovokasi dirinya. Kemenangan kedua AC Milan di mana Ibrahimovic ada terjadi pada musim yang sama. Namun, kali ini, Ibrahimovic tak bermain karena cedera.

Baca juga:  Milan Atau Juventus, Siapa yang Diuntungkan Dari Saga Caldara, Bonucci, dan Higuain?

Milan menang dengan skor 3-0. Dua gol dicetak oleh Alexandre Pato dan satu lagi disumbang Antonio Cassano. Setelah itu, AC Milan tak bisa lagi mengalahkan Inter Milan. Sekali lagi, bahkan ketika Inter berada dalam periode terburuk.

Kejadiannya adalah musim 2010/2011. Skor akhirnya identik seperti musim 2019/2020, yaitu Inter Milan menang dengan skor 4-2. Proses kemenangan Internazionale pun mirip. AC Milan unggul lebih dulu lewat dua gol Ibrahimovic, skor di babak pertama adalah 2-1.

Ketika babak kedua dimulai, lagi-lagi Ibrahimovic menjadi satu-satunya protagonista AC Milan, situasi berubah. Skuat Inter Milan saat itu adalah sisa-sisa skuat legendaris yang memenangu treble pada musim 2009/2010. Skuat yang sudah tua dan kesulitan bermain dengan intensitas tinggi. Namun, sekali lagi, karakter Inter justru muncul ketika tertekan.

Milan kembali menjadi pecundang ketika Ibrahimovic menjadi satu-satunya protagonista. Pada musim 2010/2011, Ibrahimovic “dibuat malu” oleh Diego Milito. Striker legendaris asal Argentina itu mencetak trigol. Internazionale menang dramatis.

Pada titik tertentu, Derby della Madonnina adalah perebutan karakter terbaik. Dan yang terjadi, Inter lebih sering keluar sebagai pemenang. Mungkin, sudah saatnya Milan mengikuti saran para filsuf, yaitu silent is gold. Tidak perlu sesumbar akan menunjukkan karakter sekaligus mengumbar janji mereka sudah tahu kelemahan Inter Milan.

Toh pada akhirnya, karakter terbaik adalah milik Internazionale, sementara kekalahan milik Ibrahimovic, eh maaf, AC Milan.

BACA JUGA Inter Milan vs AC Milan, yang Nyata dan yang Abstrak atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.



Tirto.ID
Loading...

No more articles