fbpx

MOJOK.COInter Milan dan AC Milan akan bersua dalam Derby della Madonnina. Pertarungan keduanya lebih mirip mahasiswa semester tua melawan mahasiswa pragmatis lulus cepat.

Derby della Madonnina antara AC Milan melawan Inter Milan. Pertarungan abadi rival satu kota ini selalu menyedot banyak perhatian. Namun perhatiannya tidak lagi sebesar dulu, mengingat AC Milan masih sibuk merangkak naik dari lubang yang mereka gali sendiri sedangkan Inter Milan sedang menikmati masa-masa terbaik mereka di Serie A.

Meski terlihat berat sebelah, bukan berarti pertandingan ini tidak menarik. Apalagi, setelah kamu membaca komentar Antonio Conte dan Stefano Pioli menjelang derby.

Stefano Pioli masih bicara hal-hal yang abstrak ketika Conte memberikan sesuatu yang nyata. Pioli menegaskan kalau AC Milan akan menunjukkan karakter mereka di laga ini. Mantan pelatih Lazio itu penuh dengan kata-kata manis. Dia berkata AC Milan akan menjadi Milan yang kuat di hadapan Inter Milan. Semua punya kelemahan, tak terkecuali Inter Milan.

Sementara itu, Conte lebih nyata. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan di laga penting itu. Penting karena jika Inter Milan berhasil mengamankan tiga poin, mereka akan menyamai poin Juventus di puncak klasemen. Sebelumnya, Juventus kalah dari Verona. Kekalahan yang baik untuk sehatnya persaingan Serie A.

Conte, dengan berani, langsung membuka diri kepada wartawan. Dia langsung bicara soal taktik secara spesifik. Pelatih berusia 50 tahun itu berkata akan menggunakan pendekatan 3-5-1-1 dengan Christian Eriksen menemami Romelu Lukaku di lini depan.

Pelatih Inter Milan ini tidak berbicara di luar hal teknis, langsung ke inti masalah. Terdengar tidak menarik dan pragmatis, tapi tentu saja itu tidak salah. Wajar kalau pelatih memilih sesuatu yang nyata, fokus di depan daripada melihat semburat indah kenangan.

Derby Kota Mode ini memang terasa romantis. Sejarah panjang, sejarah rivalitas yang sangat nyata. Oleh sebab itu, pelatih yang terkadang tidak siap akan bicara soal hal-hal abstrak. Soal karakter, mungkin juga soal determinasi, niat untuk tidak kalah, dan lain sebagainya. Padahal kita tahu, siapa sih yang mau kalah di laga derby?

Baca juga:  Alasan-Alasan Mengapa Juventus Harus Juara Eropa

Gaya pelatih memang berbeda-beda dan itu menunjukkan bagaimana pendekatan mereka terhadap pertandingan. Pioli, dengan pernyataannya, mirip mahasiswa semester tua, sementara Conte mirip mahasiswa yang akan menempuh ujian skripsi tepat waktu.

Pioli dan AC Milan adalah mahasiswa veteran terencam DO yang gampang ditemui di kantin dibanding di kelas. Dengan kopi hitam dan sebatang rokok menyala, AC Milan akan mendongeng seberapa seru kampus di masa lalu. Senior-senior galak nan garang tapi menyenangkan, jumlah bribikan yang tak terhingga, aib dosen, dan juga gosip-gosip kampus akan mengalir dari mulutnya. Idealisme, romantisme didendangkan dari mulutnya.

Singkatnya, AC Milan seperti hidup dalam gelembung masa lalu, makin kabur karena kepulan asap rokok. Pemilihan kata Pioli ini sangat menarik. Terutama ketika kita melihat bagaimana AC Milan bermain di beberapa pertandingan terakhir. Misalnya ketika Ismael Bennacer absen, mereka kehilangan “cara mengontrol pertandingan”.

Berbeda dengan Inter Milan, Setan Merah orisinal bukan Setan jadi-jadian di Inggris sana itu, masih mencari formulasi terbaik. Masalah adaptasi masih menjadi dalih Pioli.

“Tim ini sedang tumbuh, banyak gak berubah di cara pemain menempatkan diri di lapangan dan di dalam diri mereka sendiri. Juga sangat jelas kalau kami baru bersama selama empat bulan dan empat bulan tidak cukup untuk menyempurnakan segala hal. Tapi, kami sedang berusaha menuju arah tersebut,” kata Pioli.

Ketika kamu menghadapi Conte dan Inter Milan, lalu bicara soal adaptasi, ya nggak salah kalau AC Milan seperti mahasiswa veteran yang tidak tahu harus gimana di ujung masa studi. Conte, selama empat bulan, bisa menunjukkan kejelasan ide, meski memang belum sempurna. Namun, ketika ide sudah jelas, Inter Milan bisa berkembang lebih cepat yang mana terbukti musim ini.

Baca juga:  Awkarin dan Pesona Remontada: Dari Barcelona, AS Roma, Hingga Liverpool

Pioli bercerita soal hal-hal indah. Soal karakter, yang kita tahu pasti merujuk ke masa lalu. Ketika AC Milan berada dalam periode terbaik dan lebih rutin menang derby. Namun, 50 tahun di masa depan itu lebih dekat dibanding lima detik di masa lalu. Seberapa hebatnya dirimu di masa lalu, tidak akan mengubah kenyataan di masa kini.

Conte dan Inter Milan adalah mahasiswa yang menyelesaikan tugas sebelum tenggat waktu. Sesekali bersenang-senang, tapi mengisi hidupnya dengan rencana-rencana berbobot dan siap eksekusi. Hidupnya tersusun rapi, menyingkirkan omong kosong yang didendangkan karena paham dia hidup tidak boleh berjarak dengan realita. Dia pamit untuk menyelesaikan kuliah, maka dia lakukan sesuai apa yang dia katakan.

Conte hidup untuk masa kini, karena dia tidak berjarak pada apa pun. Dia fokus dengan target di depan mata dan bekerja sebagaimana mestinya.

Conte sudah berbicara taktik, menatap fokus ke laga. Inter Milan akan memainkan satu striker dengan Eriksen mendukung di belakangnya di belakang.

Pendekatan ini jelas terbaca sebagai usaha memperkuat lini tengah. Inter Milan sudah fokus kepada lawan. Terdengar membosankan? Ya memang, tidak ada untaian kata manis sama sekali. Tapi Conte paham, itulah tugasnya. Dia tidak dibayar untuk jadi pujangga, dia dibayar untuk menyusun taktik.

Duel Inter Milan vs AC Milan ini memang tak sekadar duel, selalu soal harga diri. Nyata atau abstrak, semua dibuktikan di lapangan. Namun, kemenangan hanya milik orang yang bersiap, dan Kota Milan akan menjadi hakim kesiapan dua tim tersebut.

BACA JUGA AC Milan & Inter Milan: Sepasang Kekasih Mendefinisikan Sebuah Rumah atau tulisan menarik lainnya dari Rizky Prasetya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles