MOJOK.COAC Milan dan Inter Milan adalah sebenar-benarnya dua kekasih, yang menjadi satu untuk bersama-sama mendefinisikan makna sebuah rumah.

Ada sebuah cerita rakyat di Eropa belahan timur. Tentang jiwa manusia yang mengambang, tanpa nama dan tak punya rumah. Ia melayang, hinggap di dalam rongga hati orang lain. Jiwa yang mengambang ini lalu punya nama. Ia disebut “Hans”, di lain waktu berganti “Peter”, di lain hari menjadi “Adolf”. Di malam yang sunyi, ia disebut “Vollmond”.

Jiwa yang mengambang itu begitu bahagia ketika ia punya nama. Dilagukan oleh orang lain yang tidak ia kenal. Dibuatkan sebuah lelucon oleh wanita yang lucu. Namun, kebahagiaannya belum lengkap. Senyumnya masih tertahan ketika mengenakan nama orang lain. Jiwa yang mengambang itu mengidamkan sebuah rumah.

“Aku bisa masuk ke rongga hati banyak orang. Namun, aku tak punya yang sebenarnya rumah. Aku hanya sementara di kehidupan panjang. Aku hanya sekelebat di malam yang sunyi. Aku ingin sebuah rumah.”

“Nama” tak lagi memuaskan kebahagiaan jiwa yang mengambang itu. Pergulatan batin yang hebat membuat jiwa itu terpecah menjadi dua. Satu bernama AC Milan dan satu lagi menamai dirinya sendiri Inter Milan.

AC Milan pergi ke utara kota, Inter Milan melayang ke sebelah selatan. Keduanya mencari bahan terbaik untuk membangun rumah. Jiwa yang melayang ke utara menemukan bahan terbaik itu, yang bernama “sejarah”. Hanya butuh 13 bulan, AC Milan selesai membangun rumah. Rumah megah pada zamannya itu diberi nama “San Siro”, seperti nama santo tempat rumah itu berdiri.

Baca juga:  Persebaya 93 Tahun, Menerjemahkan Rivalitas Sebagai Aktualisasi Diri, Bukan Sekadar Cinta dan Benci

AC Milan mendefinisikan sebuah rumah sebagai pilar kokoh tempat sejarah menempel. Susah dan senang, sebagai bagian dari aliran sejarah, menempel di sana. Tahun 1901, 1906, dan 1907, mereka membuat perayaan besar. Perayaan akan sebuah sejarah. San Siro menjadi pliar yang menyokong kebahagiaan itu.

Sementara itu, Inter Milan yang melayang ke selatan kota akhirnya berbentuk. Tak lagi sebuah jiwa yang melayang dengan sebuah nama yang tersemat. Ia menjadi kenyataan. Sebuah kenyataan bahwa dirinya adalah bagian dari belahan jiwanya sendiri: AC Milan. Saat itu, jiwa Inter Milan bersemayam di Napoleonic Arena bernama La Scala. Saat ini, La Scala sudah menjadi monumen megah.

Rumah memang tak pernah soal bangunan fisik. Tahun 1935, AC Milan menjual San Siro ke pemerintah kota. Setan Merah dari Kota Mode tahu bahwa sejarah yang berjejal dan kelak akan menumpuk tak bisa ditampung oleh rumah sederhana. San Siro harus dipugar, dibuat lebih sempurna untuk masa depan.

Tiga tahun kemudian, pemerintah kota memperbesar San Siro. Memberi AC Milan sebuah panggung megah untuk menyambut perayaan yang lebih majestic. Rocca dan Calzolari merancang San Siro baru. Keduanya menambahkan struktur baru untuk “teras yang menggantung”, menambah kapasitas rumah itu menjadi 150 ribu orang, untuk kemudian dikurangi menjadi 100 ribu saja demi keamanan.

Tahun 1954, renovasi kedua dilakukan untuk mempercantik San Siro. Oktober 1955, kapasitas rumah itu dipastikan menjadi 85 ribu tempat duduk. Tahun 1947, jiwa yang terpisah itu akhirnya “pulang”. Dalai Lama pernah bilang: “Beri kekasihmu sayap untuk terbang, akar sebagai alasan pulang, dan sebuah alasan untuknya tinggal.”

Baca juga:  Yang Diving Napoli, yang Diledek Juventus: Penderitaan Menjadi Antagonis

Inter Milan pulang dan menyatu dengan kekasih, separuh jiwanya. Dua jiwa atinya dua kehendak. Dua jiwa ini tidak pernah betul-betul akur, padahal berasal dari akar yang sama. Namun, meski keduanya tak sebetulnya akur, perihal rumah, keduanya bersepakat. Rumah adalah rongga hatimu, yang tak bisa diisi oleh entitas lainnya.

Keduanya bersepakat untuk mempercantik rumah. Betul sekali, pencahayaan penting untuk sebuah panggung pencipta ilusi. Maka, dipasanglah pada tahun 1957. Satu dekade kemudian, papan skor elektronik seperti menjadi chandelier, menyambut peserta perayaan.

Tertanggal 3 Maret 1980, lewat sebuah plakat yang dipasang di pintu utama, San Siro resmi menyandang nama kedua: Giuseppe Meazza. Ia adalah seorang laki-laki sejati yang menemani jiwa Inter Milan di saat-saat berat, menjadi sumber perayaan kebahagiaan, dan pencatat sejarah paling terang. Sepuluh tahun bersama, 200 perayaan dipersembahkan Meazza untuk Inter Milan.

San Siro dan Giuseppe Meazza adalah satu, bangunan kehidupan untuk dua jiwa, AC Milan dan Inter Milan. Hingga saat ini.

“Atmosfer penuh kasih yang terasa di dalam rumah adalah fondasi hidupmu,” kata Dalai Lama suatu kali lagi.

San Siro dan Giuseppe Meazza menggaungkan kasih untuk masing-masing jiwa. Keduanya menjadi fondasi sejarah AC Milan dan Inter Milan. Kini, keduanya bersepakat untuk membangun rumah baru, yang lebih akrab dengan zaman, yang lebih mudah dicintai olah semua orang.

Baca juga:  Elegi untuk Davide Astori

AC Milan dan Inter Milan adalah sebenar-benarnya dua kekasih, yang menjadi satu untuk bersama-sama mendefinisikan makna sebuah rumah.