MOJOK.COIbrahimovic kembali ke AC Milan setelah kontrak bersama LA Galaxy habis. Banyak yang ragu akan kemampuan Ibrahimovic mengingat dia bermain di liga yang kalah kompetitif.

Zlatan Ibrahimovic resmi kembali berseragam AC Milan. Pada awalnya rumor yang beredar dia akan berseragam Napoli, namun di akhir justru dia kembali ke Milan.  Kepindahannya ke Milan menegaskan bahwa dia masih sanggup untuk bermain di liga kelas atas.

Kontrak senilai 3 juta euro dengan opsi perpanjangan menegaskan bahwa Milan yakin mereka membutuhkan Ibrahimovic. Namun, suara sumbang sudah terdengar bahkan sebelum Ibra bermain, bahwa kemampuan dia sudah habis dan tidak bisa bersaing di liga papan atas, mengingat dia menghabiskan satu musim bermain di liga AS yang dianggap liga kelas gurem.

Banyak orang mulai membandingkan skuad Ibrahimovic dulu saat masih bermain di AC Milan versus AC Milan yang sekarang. Dengan pemain macam Mark van Bommel, Nesta, Thiago Silva, dan Zambrotta, Ibrahimovic bisa bersinar di Milan. Namun skuad AC Milan kini tentu berbeda jauh dengan masa lalu. Tanpa diperkuat pemain dengan profil mentereng, Ibrahimovic dianggap bakal kesulitan.

Tapi sebenarnya keadaan tidak separah yang diberitakan. Walau memang tidak berisi nama besar, tapi bukan berarti mereka pemain buruk. AC Milan kini diperkuat Romagnoli, Piatek, Suso, dan Gigi Donnarumma. Mereka bukan pemain kelas gurem. Suso bahkan sempat dilirik Real Madrid untuk menggantikan posisi Ronaldo. Jika membawa skuad Milan saat ini untuk pembenaran atas keraguan kepada Ibra, itu sudah melewati batas nalar.

Baca juga:  Mengingat Arsene Wenger dan George Weah Sebagai Monumen Peringatan George Floyd

Skuad AC Milan saat ini pun sebenarnya punya kualitas yang bagus. Skuad masa lalu memang punya nama besar, tapi rata-rata sudah habis masa jayanya. Sedangkan skuad Milan kali ini jauh lebih bugar. Dan masalah di skuad Milan masa kini yang tidak memberi pencapaian berarti adalah mental, sistem, dan pelatih.

San Siro tidak lagi angker, dan itu terlihat dari mata Gigi Rumma yang tidak lagi setajam dulu. Pemain AC Milan tidak lagi mempunyai aura mengerikan yang membuat musuh bergetar. Mental juara yang hilang membuat siapa pun tegak badannya melawan AC Milan. Bagi lawan, AC Milan dan Persiwi Wonogiri tidak ada bedanya.

Sistem bermain yang tidak jelas juga menyebabkan AC Milan tidak bisa bersaing dengan klub papan atas. Dengan pemain yang punya kualitas bagus, Milan bahkan tidak bisa menjaga keunggulan melawan tim gurem di Serie A. Kalau tidak paham kenapa Milan seperti ini, silahkan lihat Manchester United, yang terjadi kira-kira persis seperti itu.

Kedatangan Ibrahimovic justru akan memberi pelajaran untuk para pemain tentang mental juara. Ibrahimovic dengan segala keangkuhannya bukanlah seorang pemain biasa. Dia punya determinasi dan mental juara yang tak pernah hilang di mana pun dia berada. Hidup disiplin Ibra memberi dia fisik yang tetap prima untuk bermain meski di usia tak lagi muda.

Baca juga:  Mikel Arteta dalam Pusaran Penolakan Fans Arsenal pada Jose Mourinho

Di LA Galaxy, Ibrahimovic mencetak 52 gol di 56 laga. Catatan yang bagus tersebut memang tidak bisa dijadikan patokan karena MLS bukanlah liga dengan level tinggi. Tapi catatan tersebut menandakan bahwa di mana pun Ibra bermain, Ibra tidak pernah bermain setengah hati. Ketika bermain bersama MU saja dia bisa memberi sesuatu untuk tim, tidak menutup kemungkinan Ibrahimovic akan mengulang catatan apik bersama Milan.

Namun, mungkin Ibra akan memiliki masalah dengan Stefano Pioli. Pioli tidak andal mengatur pemain dengan ego tinggi, dan kelemahan tersebut adalah bencana jika kau berhadapan dengan Ibra. Sehebat apa pun pelatih, jika tak mendapat respek dari pemain dia akan kesulitan membawa tim tersebut meraih hasil bagus.

Kedatangan Ibrahimovic ke AC Milan harusnya dibarengi dengan rencana merekrut pelatih dengan catatan bagus. Keraguan akan kedatangan Ibrahimovic akan memberi perubahan atau malah gagal tidak tepat jika ditujukan ke Ibra, tapi lebih ke pelatih yang tidak punya kemampuan mumpuni.

Pelatih dengan kemampuan menghadapi ego pemain macam Zidane, Mou, dan juga Ancelotti harus mulai dipikirkan oleh AC Milan dari sekarang. Karena menambal lubang kekuatan dengan pemain tanpa pelatih yang hebat adalah tindakan sia-sia.

Milan pengin Zidane? Kene parkiran, ayo gelut.

BACA JUGA Saing-saingan antara Real Madrid VS Barcelona Dekade Terakhir Ini dan artikel menarik lainnya yang-bisa-dibaca-sambil-nunggu-chat-dibales di BALBALAN.

Baca juga:  Arsenal dan Freddie Ljungberg: Menyambut Kebijakan “Klub Miskin”