• 334
    Shares

MOJOK.COApa alasan polisi sering gerebek hotel-hotel melati? Apakah kalau gerebek di hotel yang lebih mewah takut ketemu sama atasannya temen sendiri?

Sekumpulan polisi—baik perempuan maupun laki-laki, dalam video di beberapa program televisi, terekam sedang melakukan penggerebekan pada sebuah hotel melati di pinggir jalan. Hotel yang sering dikenal sebagai hotel esek-esek.

Jika diamati, tidak begitu jelas sebenarnya siapa target incar mereka. Pokoknya grebek saja dulu. Toh, kalau yang di dalam bisa menunjukkan identitas dan memang suami istri—yang tidak masuk kriteria penggrebekan—gambarnya tetap bisa masuk televisi. Entah sudah sesuai atau justru tanpa izin.

Namun, berbeda cerita jika yang digrebek adalah sepasang kekasih yang belum pernah bersalaman dengan penghulu di depan saksi! Kalau yang ini, woh! Bisa habis jadi bahan olok-olokan untuk menaikkan rating program televisi memberikan sosialisasi pada penoton. Supaya booking hotel yang mahal biar nggak kena razia tidak berdua-duaan, karena kata nenek itu berbahaya, Mylov~

Dalam memberikan sosialisasi ‘klise’ itu, yang dilontarkan tentu saja, petuah-petuah standar yang cenderung nggak solutif. Pasalnya, setiap kali korban—yang belakangan sering disebut pelaku—tersebut tertangkap basah sedang berduaan, bahkan secara sadar dan atas persetujuan kedua belah pihak. Serta mereka tidak sedang melakukan hubungan seksual pun, maka polisi-polisi itu, sekonyong-konyong berubah wujud menjadi seorang Ustadz-Ustadzah.

Setelah sebelumnya bongkar sana dobrak sini ala Rambo, sekarang melakukan kultum khas Ramadhan. Begini kira-kira, “Kamu tahu tidak perbuatan ini bisa menyebar penyakit? Dosa! Merusak moral! Bagaimana kalau ibumu tahu kamu berbuat seperti in? Bagaimana kalau anakmu yang seperti ini?”

Baca juga:  Sebuah Dongeng Tentang Tongkat Laki-Laki

Ya, mau gimana lagi, Mylov. Mana kita tahu, lah wong kita nggak pernah dapat edukasi tentang seks. Mau ngomongin soal seks sedikit saja, pasti langsung dapat cap MESUM! Nggak jelas apakah seksualitas masuk dalam kurikulum di sekolah atau sudah jadi satu dengan pelajaran biologi bab kesehatan reproduksi. Sebuah bab yang justru lebih sering membahas cara kodok bertelur daripada tentang vagina, penis, dan cara menggunakannya dengan baik dan benar.

Belum lagi kalau yang tertangkap itu dicurigai sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK)! Coba tebak, siapa yang akan lebih dijejali dengan pertanyaan dan pusat incaran kamera amatiran biar terkesan lebih dramatis yang sungguh tidak memenuhi nilai estetika dan etika? Tentu saja si mbak-nya!

“Buat apa, Mbak dapat uang dari hasil menjajakan diri? Mbak nggak malu kalau keluarga tahu Mbak kerja begini? Berapa, sih, Mbak bayaran kerja begini?” Hadehhh. Apa polisi-polisi kita ini sering hilang ingatan ya? Toh, mereka juga tahu bahwa alasan PSK menjadi PSK ya karena uang.

Para PSK ini kan bukan Nia Ramadhani atau Nagita Slavina yang, “Nek mung duwik, NYOOOOOHHHHH.”

Maksud saya begini, jika mereka sudah hafal betul dengan alasan-asalan klasik ekonomi seperti, “Saya melakukan ini untuk bayar sekolah anak, Pak, Bu.” Atau, “Ini untuk bayar rumah sakit ibu saya di desa.” Sebenarnya mudah sekali. Ya, benar. Bapak dan Ibu polisi terhormat, lebih baik anda pindah tongkrongan penggerebekan saja. Jangan ke hotel melati terus. Coba sekali-kali main ke hotel bunga raflesia arnoldi atau bunga bank.

Baca juga:  Benarkah Jika Perempuan Nggak Bisa Masak, Suaminya Bakal Selingkuh?

Kalau di hotel—yang kalau mau menginap saja biayanya seharga ginjal saya—tentu saja, jawabannya akan lebih variatif. Seperti, “Saya melakukan ini untuk bayar Lamborgini, Pak.” Atau, “Saya terpaksa melakukan ini supaya bisa berlibur ke Eropa pakai jet pribadi, Bu. Ibu kan tahu sendiri, laki-laki jaman sekarang sudah miskin, maunya diterima apa adanya. Giliran calon istri nggak bisa masak, dinyinyinya minta ampun!”

Nah, kalau sudah begitu kan, kami mereka yang pernah digerebek jadi punya alasan lain yang lebih bisa diulik selain permasalahan-permasalahan klise yang nyatanya juga gagal menjadi perhatian utama pemerintah.

Ini jugalah yang sebenarnya melatar belakangi emosi gerakan kampanye, ‘Tolak RKHUP’ para aktivis terhadap RUU yang dianggap ngawur, seperti salah satunya, Pasal 484, yang berbunyi: “laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat pernikahan yang sah melakukan persetubuhan maka bisa dipidana karena zina dengan penjara paling lama 5 tahun”. Pasal ini dianggap ngawur. Karena salah satu yang paling fatal adalah membuka peluang perempuan korban pemerkosaan bakal dipidana.

Begini, bukannya kami tidak punya moral, Mylov, justru karena kami sadar betul, bahwa ujung-ujungnya yang kena grebek adalah mereka yang tidak punya uang dan tidak mampu berduaan di kamar hotel yang semalam saja tarifnya sudah dengan embel-embel jutaan. Padahal kalau polisi-polisi dalam televisi tadi mau mendatangi hotel-hotel mewah itu, tentu saja mereka tidak akan mendengar keluhan-keluhan kadaluarsa yang sudah dijabarkan di atas. Justru, siapa tahu mereka bisa bertemu atasan terus salim, artis lalu minta tanda tangan, milyader sehingga bisa jadi kandidat uang kaget!

  • 334
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles