Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Melihat Aksi Gerebek yang Cuma Mentok di Hotel Melati

Yosephin Anggun Munan oleh Yosephin Anggun Munan
27 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Apa alasan polisi sering gerebek hotel-hotel melati? Apakah kalau gerebek di hotel yang lebih mewah takut ketemu sama atasannya temen sendiri?

Sekumpulan polisi—baik perempuan maupun laki-laki, dalam video di beberapa program televisi, terekam sedang melakukan penggerebekan pada sebuah hotel melati di pinggir jalan. Hotel yang sering dikenal sebagai hotel esek-esek.

Iklan

Jika diamati, tidak begitu jelas sebenarnya siapa target incar mereka. Pokoknya grebek saja dulu. Toh, kalau yang di dalam bisa menunjukkan identitas dan memang suami istri—yang tidak masuk kriteria penggrebekan—gambarnya tetap bisa masuk televisi. Entah sudah sesuai atau justru tanpa izin.

Namun, berbeda cerita jika yang digrebek adalah sepasang kekasih yang belum pernah bersalaman dengan penghulu di depan saksi! Kalau yang ini, woh! Bisa habis jadi bahan olok-olokan untuk menaikkan rating program televisi memberikan sosialisasi pada penoton. Supaya booking hotel yang mahal biar nggak kena razia tidak berdua-duaan, karena kata nenek itu berbahaya, Mylov~

Dalam memberikan sosialisasi ‘klise’ itu, yang dilontarkan tentu saja, petuah-petuah standar yang cenderung nggak solutif. Pasalnya, setiap kali korban—yang belakangan sering disebut pelaku—tersebut tertangkap basah sedang berduaan, bahkan secara sadar dan atas persetujuan kedua belah pihak. Serta mereka tidak sedang melakukan hubungan seksual pun, maka polisi-polisi itu, sekonyong-konyong berubah wujud menjadi seorang Ustadz-Ustadzah.

Setelah sebelumnya bongkar sana dobrak sini ala Rambo, sekarang melakukan kultum khas Ramadhan. Begini kira-kira, “Kamu tahu tidak perbuatan ini bisa menyebar penyakit? Dosa! Merusak moral! Bagaimana kalau ibumu tahu kamu berbuat seperti in? Bagaimana kalau anakmu yang seperti ini?”

Ya, mau gimana lagi, Mylov. Mana kita tahu, lah wong kita nggak pernah dapat edukasi tentang seks. Mau ngomongin soal seks sedikit saja, pasti langsung dapat cap MESUM! Nggak jelas apakah seksualitas masuk dalam kurikulum di sekolah atau sudah jadi satu dengan pelajaran biologi bab kesehatan reproduksi. Sebuah bab yang justru lebih sering membahas cara kodok bertelur daripada tentang vagina, penis, dan cara menggunakannya dengan baik dan benar.

Belum lagi kalau yang tertangkap itu dicurigai sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK)! Coba tebak, siapa yang akan lebih dijejali dengan pertanyaan dan pusat incaran kamera amatiran biar terkesan lebih dramatis yang sungguh tidak memenuhi nilai estetika dan etika? Tentu saja si mbak-nya!

“Buat apa, Mbak dapat uang dari hasil menjajakan diri? Mbak nggak malu kalau keluarga tahu Mbak kerja begini? Berapa, sih, Mbak bayaran kerja begini?” Hadehhh. Apa polisi-polisi kita ini sering hilang ingatan ya? Toh, mereka juga tahu bahwa alasan PSK menjadi PSK ya karena uang.

Para PSK ini kan bukan Nia Ramadhani atau Nagita Slavina yang, “Nek mung duwik, NYOOOOOHHHHH.”

Maksud saya begini, jika mereka sudah hafal betul dengan alasan-asalan klasik ekonomi seperti, “Saya melakukan ini untuk bayar sekolah anak, Pak, Bu.” Atau, “Ini untuk bayar rumah sakit ibu saya di desa.” Sebenarnya mudah sekali. Ya, benar. Bapak dan Ibu polisi terhormat, lebih baik anda pindah tongkrongan penggerebekan saja. Jangan ke hotel melati terus. Coba sekali-kali main ke hotel bunga raflesia arnoldi atau bunga bank.

Kalau di hotel—yang kalau mau menginap saja biayanya seharga ginjal saya—tentu saja, jawabannya akan lebih variatif. Seperti, “Saya melakukan ini untuk bayar Lamborgini, Pak.” Atau, “Saya terpaksa melakukan ini supaya bisa berlibur ke Eropa pakai jet pribadi, Bu. Ibu kan tahu sendiri, laki-laki jaman sekarang sudah miskin, maunya diterima apa adanya. Giliran calon istri nggak bisa masak, dinyinyinya minta ampun!”

Nah, kalau sudah begitu kan, kami mereka yang pernah digerebek jadi punya alasan lain yang lebih bisa diulik selain permasalahan-permasalahan klise yang nyatanya juga gagal menjadi perhatian utama pemerintah.

Ini jugalah yang sebenarnya melatar belakangi emosi gerakan kampanye, ‘Tolak RKHUP’ para aktivis terhadap RUU yang dianggap ngawur, seperti salah satunya, Pasal 484, yang berbunyi: “laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat pernikahan yang sah melakukan persetubuhan maka bisa dipidana karena zina dengan penjara paling lama 5 tahun”. Pasal ini dianggap ngawur. Karena salah satu yang paling fatal adalah membuka peluang perempuan korban pemerkosaan bakal dipidana.

Iklan

Begini, bukannya kami tidak punya moral, Mylov, justru karena kami sadar betul, bahwa ujung-ujungnya yang kena grebek adalah mereka yang tidak punya uang dan tidak mampu berduaan di kamar hotel yang semalam saja tarifnya sudah dengan embel-embel jutaan. Padahal kalau polisi-polisi dalam televisi tadi mau mendatangi hotel-hotel mewah itu, tentu saja mereka tidak akan mendengar keluhan-keluhan kadaluarsa yang sudah dijabarkan di atas. Justru, siapa tahu mereka bisa bertemu atasan terus salim, artis lalu minta tanda tangan, milyader sehingga bisa jadi kandidat uang kaget!

Terakhir diperbarui pada 27 Oktober 2018 oleh

Tags: Cerita seksgrebek polisihotel melatimesumperempuanpskrating televisi
Yosephin Anggun Munan

Yosephin Anggun Munan

Artikel Terkait

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO
Esai

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO
Esai

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO
Esai

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan
Urban

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.