Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja

Redaksi oleh Redaksi
8 Juni 2026
A A
Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja MOJOK.CO

Ilustrasi Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Awal bulan lalu Mojok mengangkat tajuk tentang sisi gelap mahasiswa Jogja yang memelihara hewan peliharaan selama kuliah di Jogja. Anabul yang kebanyakan anjing dan kucing tersebut kemudian dibuang begitu mereka lulus atau meninggalkan Jogja. Ancaman lainnya, jadi sengsu di warung jamu.

Baca: Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda

Pertanyaannya adalah bagaimana nasib anabul yang dibuang tersebut? Sebagian kecil bisa dikatakan beruntung karena kemudian dirawat oleh shelter lalu diadopsi. Namun, sebagian lainnya—terutama anjing—bisa jadi berakhir di menu kuliner ekstrem: sengsu (tongseng asu). Ada juga yang menyamarkannya dengan nama tongseng jamu.

Ya, di Jogja yang punya julukan sebagai Kota Pendidikan dan Kota Pelajar, ternyata masih ada warung-warung yang menyediakan menu daging anjing. Akhir tahun 2025, sebuah video amatir yang viral di kawasan Ganjuran, Bambanglipuro, Bantul, menunjukkan bagaimana hewan-hewan malang itu ditangkap, dibungkus karung dengan moncong terikat erat, lalu dikirim ke hilir yang sama: piring-piring kuliner ekstrem berkedok jamu atau sengsu.

Jika di level individu kita menyaksikan krisis moralitas sarjana, maka di level struktural kita sedang menonton pembiaran sistemik. Jogja terancam bergeser dari kota yang melahirkan kaum intelek menjadi kota yang melegalkan penjagalan.

Harus diakui, di Jogja masih ada warung yang terang-terangan menjual menu kuliner anjing. Mengutip Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI), pada tahun 2025 terdata ada 111 warung sengsu di DIY. Di tahun 2026, mereka menemukan 92 di antaranya masih beroperasi. Warung-warung itu tersebar di wilayah Bantul, Sleman, Kota Jogja, dan kawasan lain.

Belum adanya regulasi membuat aparat penegak hukum tidak bisa berbuat apa-apa; mereka hanya bisa memberikan imbauan. Memang, pascaviralnya video tentang anjing di tempat penjagalan tersebut, Pemkab Bantul melarang sementara operasional warung olahan daging anjing sembari menggodok Perda bersama DPRD Bantul. Namun, hingga kini belum ada informasi mengenai perkembangannya.

Pemda DIY juga sudah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 510/13896 Tahun 2023 tentang Pengendalian/Peredaran Daging Anjing dan Hewan Penular Rabies Lainnya. Namun, menurut Gubernur DIY, Sultan HB X, untuk menaikkan SE tersebut menjadi Perda diperlukan pembahasan lebih lanjut di tingkat kabupaten/kota.

Di tingkat nasional, sebenarnya sudah ada Surat Edaran Kementan Nomor 9874/SE/PK.420/F/09/2018 yang menegaskan bahwa anjing bukan bahan pangan, serta Pasal 66 UU Nomor 18 Tahun 2009 juncto UU Nomor 41 Tahun 2014 terkait kesejahteraan hewan yang bisa menjerat pelaku penjagalan.

Menunggu Perda yang melarang perdagangan daging anjing untuk konsumsi

Namun, untuk menaikkannya menjadi Perda di tingkat lokal, Dinkes DIY masih terkendala oleh kekosongan data konkret mengenai berapa banyak masyarakat yang mengonsumsi daging anjing, jumlah populasi anjing yang disembelih, serta data riil penularan penyakit zoonosis akibat aktivitas tersebut.

Kondisi ini menyebabkan sikap dilematis aparat penegak hukum di lapangan. Mereka tidak menemukan anjing yang sedang disiksa secara langsung, melainkan hanya menemukan daging anjing yang sudah diolah, sehingga mereka mentok hanya bisa memberikan imbauan. Celah hukum inilah yang selama ini dimanfaatkan pemburu, jagal anjing, serta warung-warung yang menjual kuliner daging anjing di Yogyakarta.

Terbaru pada Mei 2026, DPRD DIY tengah menyusun draf Raperda Keamanan Pangan DIY yang salah satu pasalnya secara spesifik melarang perdagangan hewan-hewan penular rabies, termasuk anjing, kucing, kelelawar, dan kera. Jika tidak ada hambatan, Perda ini akan mulai berlaku pada tahun 2027.

Langkah DPRD DIY menyusun Raperda Keamanan Pangan adalah secercah cahaya di ujung lorong yang gelap bagi nasib para anabul di Jogja. Namun, menunggu tahun 2027 adalah waktu yang terlalu lama bagi anjing-anjing yang mungkin malam ini sedang diincar untuk dijadikan menu sengsu.

Sembari menunggu regulasi itu mengetuk palu, edukasi publik dan pendampingan ekonomi bagi pedagang untuk bermigrasi ke usaha kuliner yang legal harus dimulai dari sekarang. Memutuskan rantai perdagangan daging anjing adalah ujian komunal bagi kita semua: apakah kita benar-benar masyarakat yang berbudaya, atau kita hanya fasih memoles citra Kota Pendidikan?

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2026 oleh

Tags: anabulAnjingsengsu
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda MOJOK.CO
Tajuk

Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda

4 Mei 2026
Membuat ibu sangat menyayangi kucing padal awalnya sangat tak suka. Setelah memelihara malah merawat seperti anak sendiri dan sangat terpukul ketika si anabul mati MOJOK.CO
Sehari-hari

Ibu Jadi Sayang Kucing padahal Awalnya Benci: Dirawat Seperti Anak Sendiri, Terpukul dan Trauma saat Anabul Mati dalam Dekapan

27 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO
Catatan

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Edi Dimyati. MOJOK.CO

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.