Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Sulitnya Memelihara dan Menyayangi Kucing di Desa: Dianggap Aneh dan Nggak Guna, Anabul Hadapi Hinaan dan Racun Tetangga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
24 Juni 2026
A A
Derita memelihara dan menyayangi kucing sepenuh hati di desa. Anabul dianggap hewan goblok MOJOK.CO

Ilustrasi - Derita memelihara dan menyayangi kucing sepenuh hati di desa. Anabul dianggap hewan goblok. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Memelihara dan amat menyayangi kucing di desa dipandang sebagai kecenderungan aneh dan tidak berguna. Sebab anabul dianggap sebagai hewan peliharaan yang, alih-alih bisa menguntungkan, tapi lebih banyak merugikan pemiliknya. 

***

Iklan

Rasa sayang pada anabul diwarisi Natul (16) dari sang ibu. Dari cerita, sang ibu memang sudah amat menyukai anabul sejak remaja. Dan itu terbawa hingga berkeluarga dan punya tiga orang anak. 

Dua kakak perempuan Natul—yang sudah menikah—pun amat menyukai kucing. Di masing-masing rumah kakak perempuannya ada beberapa ekor anabul. 

“Kalau di rumah ibuku sekarang ada dua. Betina semua. Tapi sudah steril. Yang nggak disteril itu punya mbak-mbakku. Makanya jumlahnya terus nambah,” kata Natul, gadis asal sebuah desa di Jawa Tengah, Selasa (23/6/2026). 

Memelihara dan menyayangi kucing di desa: dianggap aneh karena perlakukan anabul seperti manusia

Natul dan ibunya memang memerlakukan kucing mereka bak manusia. Bisa tidur bareng, digendong-gendong, dicium-cium, dan bahkan sering mengajak berbincang si anabul yang seringkali disahut dengan “meow-meow”.

Kebiasaan tersebut ternyata dipandang aneh oleh tetangga dan saudara di desa. Bahkan ada pula orang yang agak risih dengan kedekatan semacam itu. 

“Ada yang nyeletuk, wong sama kucing kok dicium-cium kayak gitu,” tutur Natul.

“Bagi mereka itu aneh dan nggak wajar. Karena di desa, kucing itu cuma hewan. Kalau di desa, gimana ya, hewan itu nggak sewajarnya diperlakukan dengan rasa sayang,” sambungnya. 

Sementara bagi Natul, anabul adalah bagian dari keluarganya. Sehari-hari menemani keluarganya. Bahkan selalu menyambut dengan lari-lari antusias saat suara motor Natul memasuki teras rumah sepulang sekolah atau bepergian. 

Ketika Natul atau ibunya bepergian jauh lebih dari sehari, ternyata si anabul diam-diam juga menyimpan rasa kangen. Sehingga ketika pulang, seharian si anabul bisa sangat manja dengan selalu ndusel-ndusel ke Natul atau ibunya. Bagi Natul itu mengharukan sekali. Karena keberadaan mereka dianggap sangat berarti bagi si anabul. 

Penghinaan terhadap anabul: dianggap goblok karena tidak makan tikus

Ada cara pandang yang menyebalkan pula dari orang-orang desa terhadap kucing peliharaan Natul. Banyak orang desa memerlakukan kucing—terutama kucing kampung—sebagai alat pemburu tikus. 

Alhasil, ketika ada orang yang memelihara kucing tapi tidak untuk fungsi tersebut, maka penghinaan lah yang akan didapat si anabul. 

Misalnya, pernah suatu malam, saat berhadapan dengan tikus di kolong meja rumah, anabul Natul justru agak takut-takut, alih-alih menerkam sebagaimana yang dilakukan umumnya kucing kampung di desanya. 

Iklan

“Kebetulan waktu itu ada saudara kan yang bertamu. Wah langsung dihina-hina kucingku. Dibilang kucing goblok, masa takut sama tikus,” ujar Natul. 

“Terus bilang aku dan ibu begini, pecuma kalau memelihara kucing tapi nggak bisa jaga rumah dari ancaman tikus,” imbuhnya sembari menepuk jidat. 

Karena memang Natul dan ibunya memelihara kucing bukan untuk berburu tikus. Toh sepanjang Natul masih bisa membeli makanan anabul, maka ia tidak akan membiarkan kucing kesayangannya makan tikus. 

Sialnya, hal tersebut sering jadi obrolan di rumah orang lain. Misalnya, ketika Natul dan ibunya berkunjung ke rumah saudara yang memelihara kucing kampung, yang terjadi kemudian adalah membanding-bandingkan. 

“Kalau kucing ini pintar dia, kalau ada tikus langsung dikejar. Kalau kucingmu kan, masa kucing takut tikus,” begitu kalimat yang sering Natul dengar. Bikin jengah, tapi ya sudah. 

Memelihara kucing dianggap tidak berguna, mending pelihara kambing yang jelas-jelas balik modal

Persoalan makanan dan perawatan kucing memang jadi sorotan tersendiri bagi orang di desa. Misalnya yang diungkapkan oleh Nizar, remaja 16 tahun yang juga berasal dar sebuah desa di Jawa Tengah.

Motifnya memelihara kucing tidak jauh berbeda dengan Natul. Nizar bahkan bisa membuat ibunya yang awalnya tidak suka menjadi amat sayang dengan anabul: diceboki saat poop hingga sering-sering dimandikan. Kalau seharian tidak kelihatan, ibunya pun akan mencari-cari. 

Nizar sebenarnya terbilang baru memelihara kucing. Baru pada pertengahan 2025 lalu saat akhirnya sang ibu mengizinkan. 

Namun, selama ini Nizar sudah paham dengan cara pandang kebanyakan orang di desanya: memelihara kucing dengan begitu effort adalah hal sia-sia. 

“Pikiran orang desa kan beli makanan kucing itu buang-buang duit. Masalahnya nggak balik modal,” kata Nizar. 

Bagi orang desa, berbeda misalnya memelihara kambing atau hewan ternak lain. Memang effort, tapi kambing atau hewan ternak lain tersebut bisa bernilai ekonomi: entah dijual atau bahkan jadi konsumsi. 

Memelihara kucing dengan sepenuh hati dengan kerelaan mengeluarkan modal ekonomi: seperti pengeluaran untuk makanan, vaksin, atau perawatan lainnya memang tidak menghasilkan keuntungan finansial langsung. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan adanya manfaat non-ekonomi yang signifikan.

Penelitian Psikolog Sosial Allen R. McConnell dkk berjudul “Friends With Benefits: On the Positive Consequences of Pet Ownership” yang terbit di Journal of Personality and Social Psychology (2011) menemukan bahwa pemilik hewan peliharaan cenderung, seperti kucing, memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak memiliki hewan peliharaan.

Pasalnya, hewan peliharaan dapat meningkatkan rasa memiliki, memberikan dukungan sosial, membantu menjaga rutinitas, serta mengurangi perasaan kesepian. Dengan kata lain, meskipun tidak menghasilkan uang, keberadaan hewan peliharaan dapat memberikan manfaat yang bernilai bagi kesehatan mental pemiliknya. Dan itulah yang dirasakan oleh Nizar—atau Natul sebelumnya. 

Berhadapan dengan pembenci anabul dan ketiadaan rumah sakit hewan yang berujung memilukan 

Barangkali tidak hanya di desa, di manapun, dugaan Nizar, selalu ada pembenci kucing yang bisa melayangkan aksi-aksi nekat atau bahkan sekadar iseng. Dalam kasus Nizar, kucingnya meninggal karena diracun. 

“Kematian kucing pertamaku itu kan bener-bener kutangisi. Itu bagi tetangga juga aneh. Kucing mati aja ditangisi. Saking nggak berharganya kucing di mata mereka,” ungkap Nizar menyimpan geram, masih tidak habis pikir ada orang yang tega meracun anabulnya. Padahal anabulnya tidak pernah mengganggu atau berak sembarangan di rumah orang. Sebab, Nizar sudah melatih kucingnya: kalau berak cari pasir. 

Barangkali karena orang-orang di desa punya pengalaman buruk dengan kucing kampung yang memang hanya sekadar dipelihara, tapi tidak diajari agar tidak berak atau kencing sembarangan. Sehingga memukul rata: semua kucing sama saja, sehingga dianggap sebagai pengganggu yang halal diracun. 

“Ujian lain kalau memelihara kucing di desa kabupaten ya nggak ada rumah sakit hewan. Sehingga kalau anabul sakit, kita bingung. Kalau sakitnya tambah parah, ujung-ujungnya meninggal,” pungkas Nizar. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kisah Pemilik “Cat Therapy” di Jalan Tunjungan, Rela Tinggalkan Rumah agar Bisa Merawat 12 Kucing dan Bikin Keluarga Kecil yang Bahagia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 24 Juni 2026 oleh

Tags: anabulbiaya perawatan anabulbiaya perawatan kucingharga makanan anabulkucingkucing kampungmakanan anabulmemelihara kucingngobrol dengan anabul
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja MOJOK.CO
Tajuk

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja

8 Juni 2026
Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda MOJOK.CO
Tajuk

Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda

4 Mei 2026
Membuat ibu sangat menyayangi kucing padal awalnya sangat tak suka. Setelah memelihara malah merawat seperti anak sendiri dan sangat terpukul ketika si anabul mati MOJOK.CO
Sehari-hari

Ibu Jadi Sayang Kucing padahal Awalnya Benci: Dirawat Seperti Anak Sendiri, Terpukul dan Trauma saat Anabul Mati dalam Dekapan

27 Maret 2026
Kucing, hewan peliharaan
Catatan

Memelihara Kucing Membuat Saya Menjadi Manusia: Tak Saling Bicara, tapi Lebih Memahami ketimbang Sesama Manusia

26 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

PNS di desa.MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Ragam karya dan pertunjukan dalam Ars Longa: Generatio sebagai pembuka Trilogi Seni ARTJOG MOJOK.CO

Ragam Karya dan Pertunjukan dalam “Ars Longa: Generatio” sebagai Pembuka Trilogi Seni ARTJOG

24 Juni 2026
Rembang semakin tidak layak dicintai MOJOK.CO

Semakin Tak Punya Alasan untuk Tinggal dan Mencintai Kabupaten Rembang: Tak Beranjak ke Mana-mana, Kolotnya Dipelihara

17 Juni 2026
gagal jastip saat war tiket konser BTS. MOJOK.CO

Pertama Kali War Tiket Konser BTS: Trust Issue Pakai Jastip karena Selalu Gagal, Justru Hoki Berkat Teman yang FOMO

23 Juni 2026
“A Decade of Leisures”, Perayaan 10 Tahun Land of Leisures dengan Tujuan Memperkuat Ekosistem Kreatif Lokal

“A Decade of Leisures”, Perayaan 10 Tahun Land of Leisures dengan Tujuan Memperkuat Ekosistem Kreatif Lokal

19 Juni 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.