MOJOK.COAda misuh-misuh yang belum saya tunaikan sebagai guru, yakni: misuhi wali murid! Nah, karena kalau langsung bakal jadi masalah, gimana kalau lewat tulisan?

Baru tujuh tahun saya jadi guru.

Lima tahun jadi guru beneran, dua tahun sisanya hitung saja untuk dispensasi, cuti tahunan, liburan, nemenin istri melahirkan, njagain anak opname, dinas luar selain untuk kepentingan anak bangsa, maupun beragam halangan rintangan lain yang mengharuskan saya menanggalkan dulu tugas saya sebagai seorang guru beneran.

Dalam lima tahun itu, sudah tidak terhitung berapa kali saya misuh ke anak didik.

Selain tugas saya sebagai pengajar mapel, kebetulan saya pernah menjadi wakasek kesiswaan selama tiga tahun. Itu terjadi sebelum akhirnya saya hijrah ke Jawa.

Ya, enam tahun lamanya saya mendedikasikan diri menjadi pengajar dan pendidik di luar Jawa. Di tengah perkebunan kelapa sawit dengan kultur sosial yang jauh berbeda dari Jawa. Dan nekatnya, separuhnya saya jalani sebagai wakasek kesiswaan yang notabene adalah wajah terdepan penegakan peraturan di sekolah.

Bahasa sederhananya jadi Satpol PP-nya sekolah.

Lah? Guru BK dong? Oh, bukan, BK itu konseling. Tugasnya bukan menindak dan menggebuk, tapi merangkul dan melakukan langkah preventif agar anak tidak melenceng dari nash-nya. Nah, yang kebetulan tidak lolos sensor kefasikan itulah yang nantinya berhadapan dengan saya.

Akan tetapi, syukurlah saya mampu menjalani tugas itu dengan selamat. Dan oleh sebab itu saya berani mendeklarasikan diri sebagai guru beneran sejak itu.

Nah, sebagai seorang guru beneran, tidak elok jika kita pura-pura tidak melihat ketika ada kemungkaran yang dilakukan anak didik di depan mata kita, baik itu di sekolah atau tidak.

Beragam cara kami lakukan ketika menghadapi situasi itu. Dari mulai menegur halus dengan memasang senyum termanis, mengutuk di dalam hati (meski itu sesungguhnya merupakan selemah-lemahnya iman), atau terakhir misuh, ngamuk, dan tantrum.

Cara terakhir itulah yang merupakan langkah terbaik untuk merepresentasikan kekuatan dan kekuasaan yang termaktub dalam jabatan sebagai waka kesiswaan.

Iya, ngamuk, misuh, dengan nada paling tinggi, pelototan paling all out, atau gestur tubuh mengintimidasi.

Tapi, tenang, tentunya saya tak sampai mengeluarkan kata-kata kotor dan kontak fisik. Saya sadar batasan. Meskipun kadang terlewat sedikit sih. Namanya manusia ya kan? Dikit-dikit khilaf lah. Kalau bener terus udah diangkat jadi malaikat dong saya.

Namun di momen seperti itu, saya akan mengakhiri sesi marah-marah dengan permintaan maaf secara tulus. Mengakui dengan kerendahan hati bahwa saya khilaf. Sejauh ini anak-anak selalu mengerti dan tidak pernah ada yang mempermasalahkan.

Selain karena amukan saya pasti dilakukan di ruang pembinaan agar harga diri murid tidak dilecehkan di depan umum, saya juga yakin bahwa apa yang dilakukan dari hati akan sampai pula ke hati.

Akan tetapi, jika kamu tetap merasa cara saya ini tetap terlalu keras, saya dapat memastikan kamu bukan guru, kamu juga bukan “korban” didikan saya, dan pasti kamu juga bukan orang tua dari anak korban didikan saya.

Lalu terkait misuh, gelora nafsu pendidik saya untuk misuh-misuhi murid sudah tertunaikan. Bahkan misuhi atasan juga sudah pernah. Dua kali saja tapi. Kapok. Kualatnya banyak. Kualat tunjangan, kualat promosi jabatan, wah bisa banyak kualatnya.

Baca juga:  Sekolah Muhammadiyah Lebih Bagus daripada Sekolah NU

Tapi di antara itu semua, ada satu misuhmisuh yang belum saya tunaikan sebagai guru. Yakni: misuhi wali murid!

Nah, karena kalau secara langsung bakal jadi masalah, kalau ini lewat tulisan boleh kali yak?

Toh, saya akan tetap menahan diri dengan menggunakan kata-kata yang baku, formal, dan santun sesuai kaidah. Gampang kok ini, dibandingkan dengan saya menahan amukan kepada siswa yang maling powerbank di rumah gurunya sendiri.

Lalu seperti apakah misuh yang akan saya lampiaskan?

Bismillah.

Oke, begini. Teruntuk orang tua atau wali siswa. Saya sering merasa heran. Bagaimana bisa kegagalan Anda mendidik anak di rumah kemudian Anda lampiaskan di sekolah?

Ini tidak tepat.

Pada setiap kenakalan anak, dua per tiganya adalah wujud kegagalan kalian, dan sepertiganya silakan Anda tuduhkan kepada kami. Namun pada kenyataannya tidak, ketika Anda kami panggil karena anak Anda bermasalah, sekuat tenaga Anda menyiapkan butir-butir pembelaan dan mencari celah menyerang balik.

Mulai dari…

…mengapa bisa ada jam kosong? Mengapa bisa sekolah kecolongan? Pintu gerbang sekolah didorong atau ditarik? Apa hikmah diciptakannya tembakau? Dan lain-lain.

Begini ya bapak, ibu, hadirin, yang dirahmati Allah. Pertanyaan-pertanyaan kayak gitu, bisa lho saya kembalikan kepada Anda.

Tadi pagi, apakah Anda bisa memastikan anak Anda sudah sampai di sekolah? Apakah Anda sudah nyangoni dengan senyum terbaik dan doa terbaik? Sepulang sekolah, tahukah anak Anda main dengan siapa? Pergi ke mana? Sejak kapan Anda tahu bahwa uang saku yang Anda berikan ternyata untuk beli korek doang tapi rokoknya join?

Apakah Anda tahu siapa pacar anak Anda sekarang? Mantannya yang terakhir siapa? Dan anak tetangga rumah yang rese ngejar-ngejar anak Anda? Cukup ini dulu sudah. Bisa jawab separuhnya saja, Anda saya persilakan misuhi balik.

Jika Anda saja tak mampu mengulik dan mendampingi makhluk yang diamanahkan kepada Anda, bagaimana Anda bisa mengharapkan itu dari orang lain? Apa Anda ingin memaksa kami untuk melakukan mugen tsukoyomi kayak Uchiha Madara?

Asal Anda tahu, yang dibutuhkan namun hilang dari dunia pendidikan masa sekarang adalah kepercayaan.

Tidak ada lagi penghargaan dan pikiran positif dari orang tua ketika menitipkan anaknya untuk dididik oleh orang-orang kayak kami. Yang ada hanya prasangka yang kemudian menyulut sumbu pendek ketika anaknya dapat masalah.

Mindset yang muncul jamak di pemikiran orangtua kayak Anda kurang lebih begini…

…guru sejahtera gajinya udah banyak, masak iya bikin anak saya jadi pintar dan berakhlak saja nggak becus.

Sebenarnya, ada yang aneh dari cara berpikir kayak gitu. Masa bodoh menitipkan anaknya di sekolah dari pagi sampai sore, tapi orang tua tidak membekali diri dengan kepercayaan penuh pada yang dititipin. Nanggung, Pak, Bu.

Makanya yang sering muncul sikap absurd orang tua yang tiba-tiba datang ngamuk di sekolah mengajak konfrontasi terbuka. Alih-alih konfirmasi baik-baik.

Baca juga:  Akui Saja, Sejak Kecil Kita Memang Dididik untuk Rasis

Contohnya nih: ketika zaman sekarang anak-anak mau ikut turnamen “Karate Open” di luar kota, banyak orang tua (nggak semua sih) berat hati ditariki patungan karena kegiatan tersebut tidak ter-cover anggaran sekolah.

Banyak dari mereka meragukan pengelolaan dana sekolah, padahal sekolah sekarang gratis. Lalu ketika terjadi apa-apa, mereka dengan entengnya menyalahkan mana gurunya, kenapa tidak didampingi?

Sebagai gambaran. Waktu saya SMP, saya ikut turnamen karate di kota. Pakai uang sendiri. Carter angkot sendiri. Patungan makan tiga hari. Iuran pendaftaran. Tidurnya gratis sih, soalnya tribun GOR jelas tidak mematok tarif.

Berangkat bersama kakak senior pakai angkot carteran tanpa didampingi guru. Tahu pun tidak. Pelatih di sana nyambi jadi panitia. Kami yang masih bocil-bocil waktu itu toh bisa pulang dengan selamat meskipun kantong kemih saya sempat sakit kena tendangan maigeri telak. Pulang bawa piala pula.

Besoknya masuk headline majalah sekolah dengan judul besar “Kontingen SMP X juara umum karate open tingkat provinsi”.

Apa saat itu ada komplen dari orang tua kami? Ya tidak.

Mereka ikhlas keluar uang dan melihat anaknya dua hari meringis jalan ngangkang tanpa protes ke sekolah. Bahkan seringkali mereka kegep memerkan pada tetangga bahwa sekolah anaknya bagus lho bisa membuat anak saya berprestasi.

Masalahnya, pada titik tertentu, sering orang tua zaman sekarang tidak sadar bahwa sikapnya yang arogan telah menjatuhkan harga diri dan kewibawaan guru di depan siswa. Dan ini fatal. Soalnya ketika guru tidak lagi berwibawa di depan siswa, maka yang rugi adalah siswanya.

Jelas, apa yang bisa diharapkan dari seorang guru yang ketika masuk kelas saja sudah dipandang remeh oleh siswa? Adakah siswa yang masih mau mendengarkan guru yang tak berharga itu?

Dengan tanpa beban, Anda komplain kepada cara mendidik guru-guru sekolah. Ada yang bilang kurang tegas lah, ada yang bilang lembek lah. Terus aku kudu piye?

Dikasari lapor, kami bisa kena pasal. Dialusin nggak mempan. Dikasih tinggal kelas kami digugat. Dikeluarkan dari sekolah, justru kami yang diperkarakan. Memangnya siapa yang mau berkorban masuk penjara demi kebaikan anak orang dan membuat anak sendiri kehilangan pelukan bapaknya selama beberapa waktu?

Fakta lain yang sering luput dari pengamatan kita adalah pendidikan gratis sebenarnya bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi mempermudah keterjangkauan pendidikan oleh semua kalangan, namun di sisi lain partisipasi orang tua untuk merasa memiliki sekolah jadi luntur.

Makin lama makin berkurang pemahaman bahwa pendidikan anak juga merupakan tanggung jawab orang tua. Apalagi karena keterbatasan orang tua, maka perannya diserahkan separuhnya—kadang sepenuhnya—kepada institusi sekolah.

Jer basuki mawa bea-nya mana? Kalau memang sekolah nggak bayar pakai uang, paling tidak bayar lah dengan perhatian dan kepercayaan sepenuhnya pula terhadap sekolah. Hakok man jadda wa jadda cuma dipakai untuk jargon murid dan gurunya doang. Lah terooos orang tuanya ngapain?

BACA JUGA Guru yang Berjuang, Guru yang Diperjuangkan atau tulisan rubrik ESAI lainnya.