MOJOK.COKalimat ancaman “Awas, aku perkosa kamu!” bukan model ancaman abad ke-15 saja. Itu formula yang masih dipakai sampai sekarang. Seks jadi alat kekerasan itu menyedihkan banget.

Dulu sekali, mungkin lebih dari 15 tahun yang lalu, saya memutuskan untuk berhenti berhijab. Seketika saja banyak kawan SMA yang kepo. Bahkan mereka yang tidak pernah berkomunikasi pun tiba-tiba muncul di pesan media sosial saya.

Ada yang bertanya alasan berhenti berhijab, ada yang menuduh saya dikristenisasi, ada juga yang menyangka saya jadi ateis. Dari semua tuduhan standar tersebut, ada satu yang paling mengejutkan.

Katanya, “Kau ni nyari sensasi ye? La bagus aurat ditutup, kau buka pulo. Yo pantes bae sih kalo kau diperkosa. Ati-ati, kuperkosa gek kau.”

Wow, jadi, karena tidak lagi berhijab, maka saya pantas diperkosa?

Padahal, kita semua paham bahwa nenek-nenek pakai jilbab panjang menutupi badan pun ada yang diperkosa. Namun, kali ini kita tidak akan membahas persoalan klasik siapa yang pantas diperkosa (hint: tidak ada orang yang pantas diperkosa).

Sampai sekarang, dari drama awas-nanti-kau-kuperkosa tersebut, ada satu hal yang masih mengganjal. Kok bisa ya orang menggunakan seks–yang notabene nikmat, prosedur mulia untuk mempertahankan peradaban, bahkan dalam Islam dianggap ibadah–sebagai alat mengancam?

Banyak diskusi dan jurnal yang membahas seks sebagai alat opresi, tapi saya yang saat itu masih 16 tahun (atau 17) belum pernah terbayang akan mengalaminya langsung. Juga tak terbayang pemerkosaan bisa jadi ancaman untuk membungkam pilihan seseorang.

Dalam berbagai diskursusnya, seks ini jadi semacam benda mistis saja; dipakai untuk mengajak pada kebaikan, dipakai untuk menakut-nakuti, dipakai untuk memotivasi, namun bisa dipakai pula untuk mengopresi. Duh, urusan ena-ena aja dibuat jadi rumit betul.

Tentu saja pengalaman saya itu tadi cuma satu titik kecil dari ribuan kasus. Pemerkosaan dan ancaman pemerkosaan sejak dahulu digunakan untuk menghilangkan suara perempuan. Ketika saya bilang “dahulu”, saya maksudnya dahulu banget, sejak zaman jahiliah, atau sebelum itu: masa dewa-dewa dalam mitologi.

Di mitologi Yunani, hampir semua dewa-dewa gagah macam Zeus dan Poseidon adalah pelaku kekerasan seksual dan pemerkosa. Pada saat yang sama, dewi-dewi berpengaruh sering kali ditampilkan sebagai tokoh jahat atau dianggap lemah. Hera dan Medusa, misalnya.

Sementara dalam tradisi negara-negara Arab, perempuan bahkan dianggap tidak pantas jadi saksi pemerkosaan. Saksi peristiwa kejahatan pemerkosaan selalu laki-laki.

Dalam tradisi Timur, kita tahu Dewa Indra menyaru menjadi Gautama supaya bisa ena-ena bersama Ahilya, tentu Ahilya tidak tahu kalau yang ena-ena sama dia bukanlah Gautama. Sayangnya, saat ketahuan, justru Ahilya (sebagai korban) yang diminta menyucikan diri.

Sama seperti kisah Rama yang meminta Shinta membuktikan kesuciannya usia diculik Rahwana. Sudah jadi korban, masih salah pula. Semacam: salah sendiri diperkosa!

Zaman lantas berkembang lebih modern, tapi pola perilaku semacam ini belum berubah banyak. Meski secara modus dan bentuk ancaman pemerkosaannya pun sudah termodifikasi pula.

Kalau dulu Zeus harus repot mindhik-mindhik di hutan untuk ngintipin Diana sehingga membuat Diana merasa terancam, sekarang sih nggak perlu repot gitu. Cukup siapkan keyboard saja untuk bisa mengancam memperkosa mbak-mbak seantero dunia.

Internet kini adalah kursi panas untuk para aktivis hak-hak laki-laki dan mas-mas misoginis. Ancaman pemerkosaan daring ini jelas perpanjangan dari budaya yang “melumrahkan” pemerkosaan, yang sudah terbentuk dari masa dewa-dewa masih perang melawan Kurawa.

Kenapa pemerkosaan sering dijadikan ancaman terhadap perempuan dan digunakan untuk membungkam perempuan?

Dari Zeus sampai Dewa Indra, kita lihat bahwa perempuan yang dianggap baik adalah perempuan yang menurut, tidak punya kuasa, dan berguna sabagai pemuas laki-laki. Perempuan harus perawan, kecuali jika dia berhubungan seks dengan laki-laki yang dapat diterima oleh masyarakat (misal, suaminya).

Sebab itu, Shinta adalah perempuan baik, karena dia menurut saja pada Rama, dan terbukti belum pernah berhubungan seksual (atau diperkosa) oleh Rahwana.

Sementara, perempuan yang memiliki kuasa dan tahu apa yang dia inginkan (termasuk menginginkan kepuasan dari alat kelaminnya) seperti Hera dan Medusa dianggap perempuan yang tidak baik, tidak sesuai standar, dan tokoh antagonis.

Dan karena masyarakat melihat kemaslahatan tertinggi perempuan terletak pada pernah atau tidaknya penis memasuki vagina, maka ancaman pemerkosaan menjadi pemberi kerusakan tertinggi atas harga diri perempuan.

Pada saat yang sama, para pengancam memperkosa ini jadi mendapatkan ilusi kuasa yang lebih tinggi dari perempuan yang mereka ancam: harga diri kalian ada di ujung tanduk penis. Jika sudah begitu, diharapkan perempuan akan ketakutan dan jadi tidak lagi banyak berbicara.

Tapi kan cuma ngancam online? Nggak usah lebay dong!

Loh, kalau kejadian online dianggap tidak penting, ngapain negara mewacanakan ada polisi online?

Jawaban cepatnya, meski dianggap tidak berbahaya, ancaman pemerkosaan via online memiliki dampak yang juga berbahaya untuk kesehatan psikis. Para penerima ancaman online jadi sering merasa ketakutan, stres, depresif, dan trauma.

Di banyak negara, pengancam pemerkosaan lewat platform online sudah terkena ancaman pidana. Misalnya saja dalam kasus Joshua di India. Pelawak Agrima Joshua mendapatkan ancaman pemerkosaan melalui media sosial karena kritiknya terhadap pemerintah.

Sementara itu, bertahun-tahun sebelumnya, jurnalis investigasi Neha Dixit berulang kali menerima ancaman pemerkosaan terkait investigasi mendalam yang dilakukan selama lima tahun mengenai penculikan dan perdagangan anak perempuan. Para pelaku ini kemudian diringkus polisi.

Ancaman pemerkosaan kepada keduanya adalah upaya untuk membungkam melalui teror yang dianggap paling ampuh untuk menghancurkan harga diri perempuan.

Selain itu, ancaman pemerkosaan kemudian juga menjadi cara untuk mengalihkan perhatian dari hal-hal penting yang sedang mereka bongkar atau diskusikan. Atau, dalam banyak kejadian lain, mengalihkan perhatian dari pencapaian-pencapaian perempuan.

Ancaman pemerkosaan pada platform online merupakan cerminan dari kejadian offline. Apakah kalian masih marah pada kejadian pemerkosaan anak yang baru pulang sekolah? Diperkosa beramai-ramai, dibunuh, lalu dibuang ke semak-semak?

Berapa kali kalian mendengar bercandaan terkait pemerkosaan dan terpaksa harus ikut tertawa, sebab, jika tidak, maka kalian tidak asik, tidak punya selera humor, dan paling parah: kalian adalah feminis. (Stigma yang bikin seolah-olah menjadi feminis sama buruknya dengan jadi pemerkosa dan jadi misogini, padahal feminis artinya kita percaya bahwa laki-laki dan perempuan punya hak-hak yang setara. Bah!)

Ancaman-ancaman pemerkosaan ini sering kali adalah cara-cara cupu untuk membungkam suara perempuan dari isu-isu penting yang mereka suarakan.

Jika perempuan memiliki inisiatif untuk bersuara, atau bahkan sekadar eksis di media sosial (yes, perempuan berhak eksis di media sosial dengan gayanya masing-masing tanpa harus takut diancam), ancaman pemerkosaan tidak seharusnya membungkam mereka.

Dan ketika ancaman pemerkosaan terjadi, jangan sampai kita bertanya kepada perempuan: kamu habis mengunggah apa? Kamu habis melakukan apa di internet?

Sebab, itu tindakan yang sama saat Rama minta pembuktian ke Shinta setelah diculik Rahwana. Cerita yang kini jadi budaya kita untuk membungkam perempuan beserta pilihan-pilihannya.

BACA JUGA Mengadili Korban Pelecehan Seksual Sejak dalam Pikiran dan tulisan Rika Nova lainnya.

Baca juga:  Ramadan Terasa Sama Saja, di Tokyo Maupun Jakarta