Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mengadili Korban Pelecehan Seksual Sejak dalam Pikiran

Diana Nurwidiastuti oleh Diana Nurwidiastuti
5 Mei 2016
A A
Mengadili Korban Pelecehan Seksual Sejak dalam Pikiran

Mengadili Korban Pelecehan Seksual Sejak dalam Pikiran

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya masih ingat betul, saat itu sore selepas pulang kuliah, saya naik angkot yang biasa saya naiki tiap hari dari rumah ke kampus, dan sebaliknya. Angkot lengang, hanya ada satu perempuan muda, satu ibu-ibu, dan saya yang memilih duduk di pojokan bangku empat agar bisa leluasa senderan. Kemudian, masuklah seorang pria berpakaian rapi dan menjinjing tas kantor. Dia mengambil posisi duduk di tengah, di deretan bangku panjang untuk enam penumpang.

Yang kemudian terjadi adalah peristiwa yang selamanya akan menyisakan trauma di pikiran saya. Pria itu mengubah posisi tasnya, menunjukkan kelaminnya yang sudah terbuka, menghadap saya, kemudian melakukan onani hingga orgasme.

Apakah saat itu saya berpakaian seronok? Tidak. Boro-boro rok mini atau tank top, saat itu saya mengenakan jilbab, kemeja, dan celana jins longgar. Apakah saya cantik dan mengenakan make up menor? Tidak. Teman-teman kuliah saya jadi saksi bahwa saat itu saya adalah salah satu perempuan terkumel di kampus sastra dan berhiaskan jerawat parah bak wijen di permukaan onde-onde. Apakah saya sendirian? Tidak. Apakah saya menempuh rute sepi? Tidak sama sekali. Rute angkot yang saya naiki melintasi jalan raya Margonda dan Kelapa Dua yang super ramai dan sering macet parah. Apakah saya menggoda? Hell no. Saya bahkan tidak kenal siapa dia.

Saat itu, saya adalah mahasiswi sebuah perguruan tinggi ternama, mempunyai kemampuan berkomunikasi yang cukup baik, dan aktif di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus. Lalu, mengapa saya diam? Saya terlalu shock menyadari bahwa saya adalah korban. Saya merasa takut dan terintimidasi. Saya takut tidak dipercaya. Logikanya, mana bisa seseorang onani di dalam angkot yang penumpangnya ada beberapa? Percayalah, nafsu tidak mengenal logika.

Saat angkot tiba di pasar, saya bergegas turun. Sebelumnya saya bimbang untuk turun lebih awal karena jalur yang dilewati adalah kuburan dan deretan pertokoan yang sudah mulai tutup. Pikiran saya saat itu, si pelaku bisa saja ikut turun dan mengejar saya, karena itu, saya memutuskan untuk turun di pasar yang notabene masih cukup ramai. Setelah turun, saya mengejar perempuan muda dan ibu-ibu yang sebelumnya seangkot bersama saya. Saya tanya apakah mereka lihat apa yang saya lihat. Dengan muka jijik, mereka bilang tidak. See? Lengkaplah ketakutan saya untuk melaporkan hal tersebut, meski pos polisi jaraknya hanya sepelemparan batu dari tempat angkot berhenti.

Namun, lepas itu saya menyesaaaal sekali. Versi diri saya yang lebih berani, bilang, harusnya saya laporkan tindakan itu, berteriak, minta tolong para tukang ojek, atau apalah. Ada yang percaya atau tidak, itu urusan nanti. Kalau ada yang percaya, bagus, pelaku bisa dihukum. Kalau tidak ada yang percaya, minimal saya sudah memberikan shock therapy buat si pelaku. Bahwa tidak semua korbannya akan diam. Namun sayang, yang bertindak saat itu justru versi diri saya yang pengecut.

Saya menulis ini dengan marah (semoga editornya ngedit dengan marah juga). Mengingat kembali masa ketika SMP saya pun hampir dilecehkan oleh tetangga dekat. Teringat pula ketika saya kelas 1 atau 2 SD sering digerayangi guru agama saya. Yang terakhir ini, saya heran kenapa baru ingat belakangan. Mungkin karena saat itu saya tidak tahu bahwa itu adalah salah satu bentuk pelecehan. Mengingat ada begitu banyak kesempatan saya bisa dilecehkan, bukankah berarti juga banyak perempuan mengalami hal yang sama?

Saya menulis ini dengan geram (lagi-lagi, semoga editornya ngedit dengan geram juga). Karena ketika cerita ini saya lontarkan, banyak teman perempuan saya yang mengadu juga mengalaminya. Banyak cerita muncul tentang penggerayangan oleh oknum tidak dikenal di kampus, digeseki kelamin saat di dalam bus, dan guru yang suka meremas bokong dengan ancaman tidak akan memberi nilai bagus. Bahkan ada siswi yang trauma hingga berhenti sekolah karena kelaminnya dipegang oleh guru laki-lakinya. Alasannya? Si guru tidak percaya kalau siswi ini sedang haid sehingga tidak bisa ikut sholat.

Pelaku kejahatan seksual selama ini leluasa melakukan kejahatannya karena banyak korbannya yang memilih untuk diam, seperti saya. Selain shock, terintimidasi, dan takut tidak dipercaya, juga ada ketakutan bahwa menjadi korban pelecehan seksual adalah aib. Saya bisa dengan lancar menceritakan hal ini karena apa yang saya alami “hanya” sebagai korban exhibitionist. Namun, bagaimana dengan korban pemerkosaan? Apakah bisa dengen enteng mereka bercerita “Eh, gue abis diperkosa lho”? Kemudian semua orang bisa menerimanya, dan dunianya akan baik-baik saja seperti sedia kala? Tentu saja tidak.

Ngaku deh, apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar berita pemerkosaan, dan korbannya adalah perempuan yang belum menikah? Pasti pikiran “wah, jadi udah nggak perawan, dong?” itu melintas. Pengkultusan keperawanan dalam perkawinan menyebabkan adanya bargaining position yang lemah bagi perempuan. Menjaga keperawanan untuk orang yang kamu cintai itu bagus, sangat bagus. Tapi jangan lantas menghakimi yang tidak perawan sebagai gelas sompal. Perempuan yang sudah tidak perawan, entah itu karena kemauannya sendiri atau karena diperkosa, dianggap tidak lagi sempurna. Maka tidak heran, banyak korban dan keluarga yang justru menutup-nutupi kasus pemerkosaan semata-mata agar korban bisa “laku” dinikahi siapa saja lah. Yang penting dinikahi, lha wong sudah nggak perawan. Kalau kayak gini, yang salah siapa? Kita.

Karena kita masih sering memandang hina korban pemerkosaan. Karena kita masih menyalahkan tampilan korban, mengkambinghitamkan rok mini sebagai godaan tak tertahankan. Karena kita masih berpikir korban pemerkosaan juga menikmati seks yang dipaksakan. Karena kita tidak memberikan dukungan kepada korban untuk melawan. Karena kita yakin bahwa korban sodomi kelak akan menjadi pelaku yang melahirkan pelaku-pelaku lain dan itu adalah lingkaran setan. Dan karena kita masih menganggap pelecehan seksual adalah musibah dan aib yang perlu disembunyikan.

Oh ya, tentang pakaian, fotografer Katherine Cambareri punya proyek memotret pakaian-pakaian yang dipakai oleh para korban kekerasan seksual di Amerika Serikat. Hasilnya, kebanyakan pakaian yang dikenakan para korban adalah pakaian sehari-hari yang jauh dari kesan seksi apalagi vulgar. Jadi, yang masih mengait-ngaitkan rok mini dengan pemerkosaan, silakan sering-sering baca Mojok dan Majalah “Hidayah” biar pikirannya nggak cupet dan senantias tercerahkan.

Jadi, mari mulai mengamalkan perkataan Pram tentang adil sejak dalam pikiran. Jangan cuma jadikan itu sebagai update status facebook dan twitter agar dianggap melek literasi karena membaca karya-karya Pram. Mari mulai membenahi pikiran kita bahwa korban pemerkosaan dan pelecehan seksual adalah korban, tidak ada yang salah pada korban karena yang jelas salah adalah pelaku. Dukung para korban untuk melawan dan meminta keadilan. Jangan jadikan pernikahan sebagai solusi kekeluargaan untuk menyelesaikan kasus pemerkosaan. Lha kalau gitu, perkosa saja perempuan yang menolak untuk kamu nikahi. Selesai. Gitu?

Selesai ndasmu…

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: featuredpelecehan seksualpemerkosaan
Diana Nurwidiastuti

Diana Nurwidiastuti

Artikel Terkait

modus kekerasan seksual.MOJOK.CO
Kabar

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026
Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO
Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara
Ragam

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
Toilet umum di Jakarta saksi bejat laki-laki otak mesum MOJOK.CO
Urban

Toilet Umum di Jakarta Jadi Tempat Cowok Tolol Numpang Masturbasi, Cuma karena Nonton Girl Band Idola dan Alasan Capek Kerja

10 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Pengalaman Merusak Astrea Grand Jadi Motor Racing Kampung MOJOK.CO

Pengalaman Saya “Merusak” Astrea Grand Milik Bapak Menjadi Motor Racing Kampung: Jebakan Menyenangkan dari Motor Honda yang Menjerat Saya Sampai Tua

2 Juni 2026
Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri MOJOK.CO

Waisak di Borobudur untuk Meluruhkan Ego Diri, Menerima Kesadaran atas Renungan “Hidup untuk Apa di Dunia Fana?”

31 Mei 2026
makan mie ayam di Solo. MOJOK.CO

Curiga dengan Pedagang Mie Ayam di Dekat Rutan Solo, Beli Seporsi tapi Tak Diminta Bayar. Eh, Ternyata Intel Lagi Nyamar

28 Mei 2026
tren olahraga kalcer.MOJOK.CO

Tren dan FOMO Olahraga “Kalcer” yang Mahal Lahir karena Minimnya Fasilitas Publik di Perkotaan

29 Mei 2026
Pentingnya keamanan siber di dunia digital. MOJOK.CO

Idul Adha: Refleksi untuk Kita yang Rela Mengorbankan Data Pribadi Dijual Secara Bebas Tanpa Tahu Kefatalannya

28 Mei 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

1 Juni 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.