Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Perempuan Berdaya dengan Cara yang Tak Selalu Sama Seperti Isi Kepalamu

Kalis Mardiasih oleh Kalis Mardiasih
31 Januari 2021
A A
Zara, Posting Video Pribadi Emang Hak Kamu, tapi Hak Itu Nggak Bebas Konsekuensi perempuan edgy kalis mardiasih mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya pikir, semua anak perempuan jika mendapat akses, kesempatan, dan sumber daya yang sama, harusnya menyukai sekolah. Itu teori awal yang saya percayai dan ternyata tidak sepenuhnya tepat.

Beberapa bulan lalu, ketika ada sedikit rezeki, saya teringat satu nama kerabat perempuan. Dia baru lulus SMA dua tahun lalu, kemudian langsung bekerja sebagai buruh pabrik.

Saya pikir, dia pasti mau jika saya tawarkan peluang untuk kuliah. Saya bersemangat menghubunginya dan menyampaikan maksud baik. Saya bilang, ada pendaftaran Universitas Terbuka. Barangkali ada jurusan yang dia suka untuk melanjutkan studi.

Dia bilang, dia tidak suka sekolah.

“Sudah enak kerja, Mbak. Saya nggak suka sekolah.”

Saya mak-deg dan sempat terbengong-bengong beberapa saat. Sampai beberapa hari kemudian, saya sampai pada sebuah kesimpulan, bukan dia yang salah, tapi saya yang keliru memaknai sekolah.

Anak perempuan itu pasti suka belajar, dengan definisi belajar yang ada dalam kepalanya, bukan kepala saya. Anak perempuan itu pasti punya keinginan untuk berkembang dalam harapan-harapan yang dia bayangkan, dan itu bukan seperti bayangan saya.

Gedung yang megah dan elitis, kertas dan buku, metode berpikir abstrak, konsep pemecahan masalah, barangkali memang bukan untuk semua orang.

Saya menertawakan diri sendiri. Jika mengaplikasikan teori Need Analysis, untuk mencapai goals (tujuan) sebuah kebijakan, harusnya saya lebih dulu mencari tahu background research (latar belakang) sedetil-detilnya untuk menggali apa yang dia anggap sebagai kebutuhan. Dari kebutuhan itu, baru akan tampak tools (perangkat) apa yang sebetulnya dia mau.

Ada perbedaan yang cukup signifikan antara bersekolah dengan berpengetahuan. Contoh, dalam sebuah pelatihan, saya menerima pernyataan dari seorang mahasiswi yang mengalami kehamilan tak direncanakan.

Ia mengira, satu kali berhubungan seksual tidak akan membuatnya hamil. Artinya, ilmu biologi yang ia terima selama ini kurang terang hingga tak sampai menjadikan diri mengambil keputusan tepat dalam hidup berdasarkan justifikasi-justifikasi ilmiah.

Demikian pula dengan makna pendidikan secara luas. Tidak semua anak beruntung memiliki kerabat berprofesi sebagai dosen, ilmuwan, hakim, atau dokter sehingga imajinasinya kepada profesi-profesi itu sangat terbatas.

Akan tetapi, menjadi berpengetahuan, mandiri, dan berdaya dalam kehidupan agar dapat bertanggung jawab untuk diri sendiri adalah kemutlakan. Dengan cara apa saja. Besok-besok saya akan bertanya kepadanya, “Hal apa yang membuatmu merasa mandiri dan punya daya dalam hidup? Adakah yang bisa saya bantu untuk membuat daya hidupmu semakin menyala?”

***

Iklan

Seorang istri berusia hampir 40 tahun dengan tiga anak usia SD sedang panik karena suaminya di-PHK perusahaan. Ia adalah satu dari puluhan juta masyarakat Indonesia dan seluruh dunia yang mengalami kepanikan mirip-mirip dalam masa krisis Covid-19 ini.

“Jualan kue saja. Saya bisa bantu develop marketplace-nya. Atau, mau jualan pempek atau ayam goreng frozen? Saya mau ikut investasi kulkasnya. Masakan Mbak kan enak. Ayok, optimis aja.” Dengan mudah, saya katakan itu padanya.

Tiga bulan pertama, tak ada perubahan. Ternyata, dalam kondisi krisis ini, tiga bulan pertama adalah masa panik, bertanya bagaimana dan bagaimana lagi, panik kembali, bertanya bagaimana dan bagaimana lagi, lalu panik kembali.

Saya mencoba memahami kondisi itu. Kondisi yang sebelumnya saya abaikan sebab saya ikut panik. Namun, sembilan bulan berlalu, tetap belum ada perubahan.

Ia sudah tidak panik. Masih bertanya bagaimana, tapi berhenti di tahap mempertanyakan ke dalam diri apakah ia bisa menjalankan produktivitas itu.

Saya belajar lagi satu hal bermakna.

Seorang perempuan istri dan ibu yang 12 tahun lebih menjadi istri, mengelola aktivitas domestik dan mengelola anak-anak, jelas perlu jeda untuk masa krisis ini.

Pivot dari domestik ke publik itu ternyata tak bisa ujug-ujug dalam situasi ini. Lagi-lagi, kamu tidak bisa hanya memakai isi kepalamu sendiri.

Ada banyak kasus para istri yang ujug-ujug oleng ketika kehilangan pasangan. Terlebih dahulu, ia harus menerima kenyataan dan memulihkan diri dari rasa kehilangan. Selanjutnya, ternyata muncul kesadaran bahwa ada modal diri dan modal sosial yang telah lama pergi.

Bertahun-tahun, ada potensi dalam diri yang tak lagi dilatih. Sibuk dengan anak-anak juga berpengaruh pada keterbatasan akses ke dunia luar. Semua perlu diproses dari awal kembali.

Para perempuan ini perlu lingkungan suportif agar bisa bangkit kembali. Yang sedih, status mereka sebagai perempuan kepala keluarga atau ibu tunggal sering kali direduksi sebagai janda semata.

Mertua yang menyalahkan dirinya, lingkungan malah memandang sebelah mata, hingga nilai diri semakin runtuh.

Ada pekerjaan rumah utama untuk membangkitkan kepercayaan diri para perempuan istri dan perempuan ibu yang ingin memulai produktivitas ini. Meskipun sudah sangat sering saya bilang, makanan buatanmu enak, tapi ia terus saja berkata, banyak yang lebih enak.

Membangkitkan kepercayaan diri kepada seorang perempuan yang masa produktifnya “telah lewat” ternyata tidak mudah. Ia merasa, hari ini kesuksesan adalah milik anak-anak muda, bukan miliknya yang tak lagi muda.

***

Ketika mengetik tulisan ini, seorang saudara jauh dari Bekasi kembali menghubungi. Ia seorang Yakult lady yang kembali dirumahkan.

Blok tempatnya berkeliling sudah zona hitam, penuh dengan kasus Covid-19. Ia tak bisa lagi menyuplai Yakult ke wilayah edarnya dengan berkeliling membawa sepeda seperti biasa. Dua anaknya masih harus belajar daring dari rumah. Suaminya juga sudah lebih dulu dirumahkan.

Saya sedang dalam proses… memproses dari awal kembali. Seperti awal krisis setahun lalu.


Kamu bisa baca kolom Kelas-Kalis lainnya di sini. Rutin diisi oleh Kalis Mardiasih, tayang saban hari Minggu.

Terakhir diperbarui pada 3 Februari 2021 oleh

Tags: anak perempuanemansipasifeminisfeminismegadisKelas Kalisperempuan
Kalis Mardiasih

Kalis Mardiasih

Artikel Terkait

Pola asuh ibu yang kuatkan anak tunggal sekaligus anak perempuan satu-satunya. MOJOK.CO
Sehari-hari

Meski Ditempa Sakit Kronis hingga Ditolak 500 Lamaran Kerja, Ibu Tak Pernah Ajarkan Saya untuk Menyerah

12 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan
Urban

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Hidup anak perempuan pertama dibebankan ekspektasi orang tua
Urban

Anak Perempuan Pertama di Keluarga Korbankan Kebebasan Masa Muda demi Penuhi Tuntutan Jadi Orang Tua untuk Adik, padahal “Sengsara” Sendirian

3 Mei 2026
pekerja perempuan.MOJOK.CO
Kabar

Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau

1 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Edi Dimyati, alumnus Unpad yang mendirikan perpustakaan di Jakarta Timur. MOJOK.CO

Sering Dikira Montir sampai Petugas Pertamina, Lulusan Unpad Ini Sebetulnya Punya Perpustakaan Gratis di Pinggiran Sungai Jakarta Timur

10 Juni 2026
pahlawan pertama di uang rupiah mojok.co

Rupiah Melemah Bikin Kelas Menengah Makin Susah: Gaji Tak Kemana-mana, tapi Biaya Hidup Terus Melonjak

11 Juni 2026
Uang recehan di dasbor motor Honda Genio ibu jadi berkah dan penyelamat bagi anak-anaknya dan orang-orang di lampu merah MOJOK.CO

Kebiasaan Ibu Taruh Uang Receh di Dasbor Motor: Jadi Berkah dan Penyelamat bagi Anaknya serta Orang-orang di Lampu Merah

9 Juni 2026
Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Tingkatkan literasi dengan baca buku. MOJOK.CO

Cerita Sebuah Keluarga Membangun Kebiasaan Membaca Saat Orang Lain Berubah Menjadi “Phubbing”

11 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.