• 1
    Share

MOJOK.CO – Piala Dunia seperti dunia yang berbeda untuk sepak bola Indonesia. Lantas, bagaimana jika Indonesia ternyata bisa masuk ke dunia tak tergapai itu?

Dosa apa yang diperbuat rakyat Indonesia sehingga Tuhan tidak menciptakan talenta setara Cristiano Ronaldo di tanah Nusantara ini? Apa sih yang menyebabkan Indonesia nyaris tanpa prestasi di dunia persepakbolaan internasional? Terlalu sulitkah memilih 11 pasang kaki dari 250 juta penduduk negeri ini? Jika Zinedine Zidane menjadi pelatih, sanggupkah melejitkan prestasi Garuda Muda?

Demikian sulitnya mencari prestasi timnas Indonesia, raihan medali emas SEA Games 1990 selalu saja dibangga-banggakan. Tak hanya itu, kata “nyaris” juga menjadi kebanggaan.

Misalnya, saat pers maupun komentator sepak bola bernostalgia, “Dulu, tahun 1975, kita NYARIS lolos ke Olimpiade Montreal Kanada, sayang ditekuk Korea Utara, bung!” Atau “Kita semua tahu, bung, dulu tahun 1985, kita HAMPIR lolos ke Piala Dunia di Meksiko andai tidak dijungkalkan Korsel!”

Ini masih nyaris dan hampir lho, belum benar-benar lolos. Benar kata Emha Ainun Nadjib, soal martabat, rakyat Indonesia ini punya seribu alasan untuk terus menjunjung tinggi harga dirinya.

Yang lebih konyol, berhasil menahan imbang Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956 menjadi semacam prestasi membanggakan yang layak dikenang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Itu hanya imbang menahan Raksasa Merah, lho. Jika saat itu menang, mungkin kebanggaannya setara dengan kebahagiaan diundang ke perkawinannya Raisa-Hamish Daud.

Tapi, namanya juga miskin prestasi, ya tidak masalah membanggakan sesuatu yang meskipun minim, tetap layak dibanggakan dan dipamerkan. Apalagi, dengan jutaan fans fanatik. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika Indonesia tampil di Piala Dunia.  Jika betul-betul terjadi, bakal beberapa peristiwa yang bakal terjadi.

Piala Dunia dimanfaatkan politisi.

Dulu, Alfred Riedl pernah dibuat sewot. Ketika Timnas Garuda butuh konsentrasi menjelang final Piala AFF, eh Nurdin Halid malah mengajak rombongan skuat Garuda Muda ke kediaman Aburizal Bakrie. Makan bersama, lalu foto-foto.

Baca juga:  Virus Corona Bikin Serie A Ditunda, Italia Lock Down, Bagaimana dengan Liga 1?

Namanya juga politisi. Mereka memanfaatkan popularitas timnas demi mengerek prestise.

Persis sebagaimana beberapa pihak yang membawa timnas U-19 bertanding ke berbagai daerah usai meraih juara Piala AFF 2013. Timnas U-19 yang dikapteni Evan Dimas saat itu sudah seperti rombongan sirkus yang dibawa hanya untuk mendulang keuntungan semata.

Kalau Indonesia tampil di Piala Dunia, saya haqul yakin para politisi banyak yang nitip popularitas sponsorship. Ada yang mungkin nitip kaos dengan gambar mukanya, sembari berharap sang pemain memakainya sebagai kaos dalam dan kala mencetak gol dia membuka jerseynya lalu memamerkan kaos politisi tersebut.

Aksi berdoa bersama digelar di mana-mana.

Bakal digelar aksi doa bersama untuk timnas di berbagai tempat, istighosah demi kemenangan, hingga aksi solidaritas dan galang dana buat superter kere. Tagar #belaGaruda menjadi terpopuler di fesbuk dan twiter.

Kemudian, beredar meme-meme bertabur ayat suci dan hadis untuk mendukung timnas. Jangan lupa, motivasi dari Mario Teguh para ulama akan senantiasa ditunggu oleh. Lengkap sudah! Ini belum lagi kecerewetan para komentator di layar kaca!

Kreativitas dari dunia dangdut.

Para pencipta lagu dangdut bakal berlomba-lomba menciptaka lagu yang nakal dan sampai bikin eargasm. Bakal muncul Goyang Garuda, Goyang Pildun, Joget Bola, Joget Penalti, dan sebagainya. Para pencipta lagu panen hasil. Sebab, karya ciptaannya bertema sepak bola ramai dipakai pada musisi dangdut.

Fenomena tret tet tet suporter Indonesia menuju Piala Dunia.

Penduduk Islandia hanya sekitar 320 ribu jiwa. Berkat kerja keras dan pembinaan sepak bola yang baik, mereka berhasil tembus Piala Eropa dan Piala Dunia. Ketika bertanding, banyak sekali warga Islandia yang menonton langsung. Sampai-sampai hanya tinggal beberapa ratus jiwa saja yang tak ikut. Penjuru Islandia mendadak sepi. Istilahnya tret tet tet, tandang ke wilayah lawan untuk mendukung timnas mereka.

Baca juga:  Timnas Indonesia U-19 vs Malaysia U-19: Bukan Soal Harga Diri Saja

Istilah tret tet tet yang merupakan tiruan dari bunyi terompet suporter ini sendiri melekat kepada Bonek, suporter Persebaya Surabaya ketika melakukan aksi tandang.

Jika Piala Dunia, bisa jadi puluhan pesawat dicarter khusus untuk tret tet tet suporter timnas Indonesia. Bagi yang low budget bisa mengadakan naik sepeda onthel rame-rame lintas benua. Tahu sendiri, kan, kenekatan suporter kita?

Libur nasional khusus nobar Indonesia di Piala Dunia.

Sekolah dan instansi pemerintah maupun swasta meliburkan diri secara resmi atas imbauan pemerintah. Kalau Presiden Togo saja bisa meneken surat perintah libur nasional saat timnas Togo bertanding di Piala Dunia 2006, silam, apalagi presiden Indonesia. Sebab pemimpin di negara kita ini punya kemampuan istimewa soal hari libur nasional. Silakan dihitung saja berapa jumlah hari libur nasional yang kita miliki.

Acara pencarian bakat untuk bidang sepak bola.

Stasiun televisi berlomba menayangkan Indonesia’s Got Talent bidang balbalan. Mereka mulai optimis jika sebenarnya banyak talenta ideal di Nusantara tapi belum mendapat hidayah terekspose.

Siapa tahu, ada remaja dengan kemampuan setara Eden Hazard tapi dia masih sibuk bekerja di peternakan bebek. Siapa tahu pula sebenarnya ada pemain berbakat dengan kemampuan menggiring bola sesempurna Ronaldinho tapi malah disuruh ayahnya menjadi sales kapur barus.

Oleh karena itu, para produser sibuk membuat acara begituan untuk menjaring para remaja dengan kemampuan istimewa. Hadiahnya? Bisa umroh, kalau enggak bisa ya direkomendasikan ke klub-klub Liga Indonesia sembari menjajal tawaran menjadi bintang iklan makanan.