Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

Galang Edy Pratama oleh Galang Edy Pratama
3 April 2026
A A
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Ilustrasi: Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seorang kawan yang membuat saya jatuh cinta pada musik underground di Madura, saat ini justru jadi penyanyi dangdut terkenal di Bangkalan.

Di Pulau Madura, khususnya Bangkalan, tempat saya lahir dan dibesarkan, selera mayoritas masyarakatnya adalah musik dangdut. Nggak bisa dibantah. 

Iklan

Tentu itu diluar genre musik religius, seperti hadrah dan lainnya. Bagaimanapun, Kabupaten Bangkalan dikenal sebagai kabupaten yang berusaha mem-branding dirinya sebagai “Kota Dzikir dan Sholawat”.

Coba datang ke Bangkalan, Madura pada hari Minggu, musik dangdut bukan sekadar hiburan. Dari rumah-rumah warga, musik dangdut lebih menjadi kompetisi volume sound antar-tetangga. Seolah sedang saling bertanding, sound siapa yang paling keras atau yang harganya paling mahal. 

Suasana seperti itu adalah hal yang normal dalam keseharian di Madura, setidaknya di tempat saya tinggal, Bangkalan. Sampai kemudian saat SMP, seorang kawan mengenalkan saya pada genre musik yang membuat saya jatuh cinta. 

Awal mengenal musik underground: Bukan jatuh cinta yang romantis

Bukan jatuh cinta yang romantis, tapi lebih ke jenis cinta yang bikin pusing di awal. Jenis musik yang bahkan tidak pernah saya dengar di lingkungan pergaulan saya sebelumnya. Musik underground. 

Masa-masa awal jatuh cinta pada musik underground bukan jatuh cinta pada pendengaran pertama, tapi sedikit paksaan. Waktu itu, telinga saya yang terbiasa dengan pop, atau mentok-mentok Avenged Sevenfold, tiba-tiba dipaksa menerima sesuatu yang jauh lebih aneh dan berisik. 

Dari yang awalnya cuma sebatas “Dear God”, mendadak lompat ke “Pasukan Mati”-nya Dead Squad. Pusing? Jelas. Tapi anehnya, lama-lama malah nagih, lebih nagih daripada soal Matematika yang sering saya abaikan.

Seperti saya ceritakan di atas, dangdut sudah jadi irama sehari-hari di Madura. ‎Di rumah saya, situasinya juga tidak jauh berbeda. Ayah saya punya selera musik yang fleksibel, kalau mood lagi bagus putar R&B tapi kalau sehari-hari, ya dangdut jadi andalan. 

Di titik itu, saya dan beberapa teman yang sudah terlanjur teracuni musik underground biasanya memilih keluar rumah menuju warung kopi, ngobrolin band, ngulik lagu atau sekadar adu playlist. Bukan karena benci dangdut, tapi karena kami seperti hidup di frekuensi yang berbeda.

‎‎Menjadi metalhead di lingkungan sarung dan peci

‎Lama-lama saya sadar, musik underground bukan cuma soal apa yang kita dengar, tapi juga bagaimana kita ingin dilihat atau kita dengar. Ia perlahan berubah jadi identitas. Dari kaos hitam dengan logo band yang nyaris tak terbaca, ripped jeans, jaket penuh patch, rambut ala emo, sampai helm yang ditempeli stiker band. 

Semuanya seperti kode tak tertulis, “saya bagian dari ini” atau “ini lho aku, anak gaul”. Bahkan di sekolah, kampus dan tempat kerja sekalipun, atribut itu tetap diselipkan, minimal lewat earphone dan kebiasaan mengangguk-angguk sendiri.  

Sesekali kedua kaki digerakkan seakan-akan bisa main double pedal. Kadang bikin orang lain berpikir kami ini agak aneh, padahal jauh di lubuk hati yang paling dalam ngerasa paling keren. 

Menjadi seorang metalhead di lingkungan yang didominasi sarung dan peci itu rasanya seperti memakai seragam yang salah di acara yang benar.

Iklan

‎Soal ekspresi, kami juga punya panggung sendiri. Kalau di konser dangdut orang joget sembari angkat kedua jempol tangan ngikutin alunan musiknya, sedangkan kami punya headbang, pogo, dan moshing. 

Bedanya, kalau habis dangdutan orang pulang dengan senyuman, kami pulang dengan bonus leher kaku dan badan terasa remuk. Itu karena kadang kami dapat oleh-oleh bogeman, tak jarang juga dapet jackpot berupa tendangan saat moshing. Namun, justru di situ letak asiknya. 

Di mata orang tua dan tetangga saya, jogetan musik underground itu terlihat seperti orang yang sedang kerasukan jin penunggu pohon asam, padahal itu adalah bentuk katarsis paling murni yang kami punya.

Baca halaman selanjutnya

Menjadi metalhead di Madura itu nggak semua orang bisa

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 3 April 2026 oleh

Tags: bangkalandangdutMadurametalheadMusikmusik metalmusik underground
Galang Edy Pratama

Galang Edy Pratama

Suka hal-hal baru, hati-hati sama Orang Baru. Sarjana Ilmu Komunikasi, tapi suka badmood kalau Real Madrid dan Manchester United kalah.

Artikel Terkait

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO
Kabar

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala.MOJOK.CO
Panggung

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala

13 Juli 2026
Cerita Mafatihatul Maghfirah: Mahasiswi Madura kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jualan risol hingga lulus tanpa skripsi MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswi Madura Kuliah di Jakarta: Jualan Risol demi Biaya Kuliah, Bisa Mandiri Finansial hingga Lulus Terbaik Tanpa Skripsi

24 Mei 2026
Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle.MOJOK.CO
Sosok

Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Budi daya ikan nila cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan ngasal MOJOK.CO

Budi daya ikan nila bisa cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan sampai merusak sumber daya 40 tahun ke depan

30 Juli 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

SRAK 2026-2036 Resmi Disusun, Komitmen Lintas Sektor Selamatkan Elang Jawa dari Kepunahan

27 Juli 2026
Korupsi makin parah, MUI dorong hukuman mati bagi koruptor MOJOK.CO

Kasus Korupsi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, MUI Dorong Hukuman Mati bagi Koruptor

28 Juli 2026
Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Penggagalan perdagangan ilegal burung di Tanjung Perak Surabaya. Satwa dilindungi dimasukkan boks sampai ada yang mati MOJOK.CO

Penggagalan Perdagangan Ilegal Burung di Tanjung Perak Surabaya, Satwa Dilindungi Dimasukkan Boks sampai Ada yang Mati

30 Juli 2026
Sombongkan IPK dan gelar sarjana cumlaude dari PTS Jogja. Optimis pikat HRD perusahaan incaran tapi ujungnya lontang-lantung bawa lamaran pekerjaan MOJOK.CO

Dulu “Sombongkan” IPK dan Gelar Sarjana Cumlaude, Kini Malu Lontang-lantung Cari Kerja karena Tren HRD Tak Terpikat IPK

29 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.