MOJOK.CO – Seorang kawan yang membuat saya jatuh cinta pada musik underground di Madura, saat ini justru jadi penyanyi dangdut terkenal di Bangkalan.
Di Pulau Madura, khususnya Bangkalan, tempat saya lahir dan dibesarkan, selera mayoritas masyarakatnya adalah musik dangdut. Nggak bisa dibantah.
Tentu itu diluar genre musik religius, seperti hadrah dan lainnya. Bagaimanapun, Kabupaten Bangkalan dikenal sebagai kabupaten yang berusaha mem-branding dirinya sebagai “Kota Dzikir dan Sholawat”.
Coba datang ke Bangkalan, Madura pada hari Minggu, musik dangdut bukan sekadar hiburan. Dari rumah-rumah warga, musik dangdut lebih menjadi kompetisi volume sound antar-tetangga. Seolah sedang saling bertanding, sound siapa yang paling keras atau yang harganya paling mahal.
Suasana seperti itu adalah hal yang normal dalam keseharian di Madura, setidaknya di tempat saya tinggal, Bangkalan. Sampai kemudian saat SMP, seorang kawan mengenalkan saya pada genre musik yang membuat saya jatuh cinta.
Awal mengenal musik underground: Bukan jatuh cinta yang romantis
Bukan jatuh cinta yang romantis, tapi lebih ke jenis cinta yang bikin pusing di awal. Jenis musik yang bahkan tidak pernah saya dengar di lingkungan pergaulan saya sebelumnya. Musik underground.
Masa-masa awal jatuh cinta pada musik underground bukan jatuh cinta pada pendengaran pertama, tapi sedikit paksaan. Waktu itu, telinga saya yang terbiasa dengan pop, atau mentok-mentok Avenged Sevenfold, tiba-tiba dipaksa menerima sesuatu yang jauh lebih aneh dan berisik.
Dari yang awalnya cuma sebatas “Dear God”, mendadak lompat ke “Pasukan Mati”-nya Dead Squad. Pusing? Jelas. Tapi anehnya, lama-lama malah nagih, lebih nagih daripada soal Matematika yang sering saya abaikan.
Seperti saya ceritakan di atas, dangdut sudah jadi irama sehari-hari di Madura. Di rumah saya, situasinya juga tidak jauh berbeda. Ayah saya punya selera musik yang fleksibel, kalau mood lagi bagus putar R&B tapi kalau sehari-hari, ya dangdut jadi andalan.
Di titik itu, saya dan beberapa teman yang sudah terlanjur teracuni musik underground biasanya memilih keluar rumah menuju warung kopi, ngobrolin band, ngulik lagu atau sekadar adu playlist. Bukan karena benci dangdut, tapi karena kami seperti hidup di frekuensi yang berbeda.
Menjadi metalhead di lingkungan sarung dan peci
Lama-lama saya sadar, musik underground bukan cuma soal apa yang kita dengar, tapi juga bagaimana kita ingin dilihat atau kita dengar. Ia perlahan berubah jadi identitas. Dari kaos hitam dengan logo band yang nyaris tak terbaca, ripped jeans, jaket penuh patch, rambut ala emo, sampai helm yang ditempeli stiker band.
Semuanya seperti kode tak tertulis, “saya bagian dari ini” atau “ini lho aku, anak gaul”. Bahkan di sekolah, kampus dan tempat kerja sekalipun, atribut itu tetap diselipkan, minimal lewat earphone dan kebiasaan mengangguk-angguk sendiri.
Sesekali kedua kaki digerakkan seakan-akan bisa main double pedal. Kadang bikin orang lain berpikir kami ini agak aneh, padahal jauh di lubuk hati yang paling dalam ngerasa paling keren.
Menjadi seorang metalhead di lingkungan yang didominasi sarung dan peci itu rasanya seperti memakai seragam yang salah di acara yang benar.
Soal ekspresi, kami juga punya panggung sendiri. Kalau di konser dangdut orang joget sembari angkat kedua jempol tangan ngikutin alunan musiknya, sedangkan kami punya headbang, pogo, dan moshing.
Bedanya, kalau habis dangdutan orang pulang dengan senyuman, kami pulang dengan bonus leher kaku dan badan terasa remuk. Itu karena kadang kami dapat oleh-oleh bogeman, tak jarang juga dapet jackpot berupa tendangan saat moshing. Namun, justru di situ letak asiknya.
Di mata orang tua dan tetangga saya, jogetan musik underground itu terlihat seperti orang yang sedang kerasukan jin penunggu pohon asam, padahal itu adalah bentuk katarsis paling murni yang kami punya.
Baca halaman selanjutnya













