Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals 

Harsa Permata oleh Harsa Permata
15 April 2026
A A
Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals MOJOK.CO

Ilustrasi Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Lagu Indonesia hari ini terasa makin jauh dari suara orang biasa, masalahnya musisi sudah kehilangan nyali.

Entah sejak kapan musik Indonesia jadi terlalu sibuk mengurus patah hati. Hampir semua hal sekarang bisa dijadikan lagu galau: diselingkuhi, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, jadi orang ketiga, jadi korban ghosting, atau sekadar merasa hubungan ini “udah beda”. 

Semua sah, tentu saja. Tidak ada yang salah dengan luka asmara. Tapi kadang saya merasa, kalau terus begini, musik kita lama-lama akan terdengar seperti ruang tunggu psikolog yang dipenuhi kelas menengah urban.

Padahal musik, kalau kita mau sedikit jujur, mestinya tidak cuma jadi tempat curhat yang dipoles nada. Ia juga bisa menjadi semacam catatan kaki zaman. 

Dari lagu-lagu yang hidup pada sebuah masa, kita biasanya bisa menebak masyarakatnya sedang memikirkan apa, sedang takut pada apa, dan sedang menyingkirkan siapa.

Karena itu saya sering merasa ada sesuatu yang hilang dari musik Indonesia hari ini. Bukan bakatnya, bukan kualitas produksinya, dan jelas bukan kepiawaian para musisinya merangkai patah hati. Yang hilang justru sesuatu yang dulu terasa biasa saja, tapi sekarang mahal sekali: keberanian untuk menoleh ke bawah.

Menoleh ke orang-orang yang hidupnya tidak estetik. Menoleh ke mereka yang nasibnya terlalu kusut untuk dijadikan konten. Menoleh ke manusia-manusia yang, dalam hidup nyata, lebih sering kita lihat dari balik kaca mobil ketimbang dari jarak yang sungguh-sungguh dekat.

Dulu, lagu Indonesia tidak segan berteman dengan yang dihina

Salah satu hal yang saya suka dari lagu Indonesia era lama adalah keberaniannya untuk dekat dengan manusia yang sudah telanjur dijauhkan masyarakat. 

Dulu, musik kita tidak terlalu sibuk menjaga citra agar tampak sopan di mata publik. Ia kadang justru lebih jujur karena mau duduk di tempat-tempat yang secara sosial dianggap kotor.

Ambil contoh “Kisah Seorang Pramuria” yang dibawakan Black Brothers maupun The Mercy’s. Dari judulnya saja sudah kelihatan bahwa lagu ini tidak sedang cari aman. Tapi yang lebih menarik buat saya bukan semata soal profesi si perempuan, melainkan cara lagu itu memandangnya.

Tokoh “aku” di dalam lagu itu tidak datang sebagai penyelamat. Ia tidak berusaha menjadi lelaki saleh yang ingin “mengangkat derajat” si perempuan. Ia cuma hadir. Menemani. Dan justru di situlah letak kemanusiaannya.

Saya kira itu penting. Sebab orang yang hidupnya sudah cukup remuk biasanya tidak butuh khotbah tambahan. Kadang mereka cuma butuh dipandang sebagai manusia biasa, bukan sebagai masalah sosial yang harus dibereskan.

Koes Plus juga punya kelembutan yang hampir serupa lewat “Bunga di Tepi Jalan”. Metafora “bunga” di sana buat saya terasa sangat halus, tapi diam-diam menyakitkan. 

Ada orang-orang yang hidupnya seperti bunga di pinggir jalan: tampak, tapi cuma dilewati. Diketahui ada, tapi tidak pernah sungguh-sungguh dilihat.

Iklan

Lalu Titiek Puspa datang dengan “Kupu-Kupu Malam”, dan entah kenapa lagu itu selalu terasa seperti tamparan yang sopan. Ia tidak marah-marah, tidak menggurui, tapi berhasil mempermalukan kebiasaan kita yang gemar jijik kepada korban hidup, sambil diam-diam menikmati sistem yang melahirkan mereka.

Iwan Fals dan Slank: Ketika dunia gelap tidak dipoles jadi indah

Kalau mau bicara lebih terus terang, saya rasa Iwan Fals dan Slank adalah dua nama yang sulit dilewatkan. Mereka termasuk musisi yang, setidaknya pada momen-momen tertentu, tidak terlalu takut untuk menyentuh wilayah yang secara moral sering cuma dibahas dengan bisik-bisik.

Dalam “Lonteku”, misalnya, Iwan Fals sama sekali tidak repot merapikan kenyataan. Tidak ada usaha untuk membuat semuanya terdengar sopan. Kata yang dipakai kasar, situasinya juga mentah. 

Namun, justru karena itu lagu tersebut terasa jujur. Ia seperti sedang berkata bahwa di tempat yang paling sering dicibir masyarakat, kadang justru ada kesetiaan yang lebih manusiawi daripada di ruang-ruang yang kelihatannya terhormat.

Begitu pula “Jinna” dari Slank. Lagu ini tidak sedang menjual kesedihan secara murahan. Ia seperti memotret bagaimana seorang anak bisa rusak bukan karena ia “nakal” sejak lahir, melainkan karena hidup terlalu sering melemparkannya ke tempat yang salah. Keluarga berantakan, lingkungan keras, orang dewasa datang bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk memanfaatkan.

Lagu Indonesia seperti ini terasa kuat adalah karena mereka tidak menjaga tangan tetap bersih. Mereka mau dekat. Mau kotor. Mau ikut masuk ke lorong hidup yang sumpek, sesak, dan tidak nyaman.

Dan jujur saja, saya rasa musik yang seperti ini jauh lebih berguna bagi sejarah ketimbang lagu patah hati ke-47 tentang orang yang tidak kunjung move on.

Baca halaman selanjutnya..

Lalu, kapan lagu Indonesia mulai takut kotor?

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 15 April 2026 oleh

Tags: lagu indonesiaMusikMusik Indonesiamusisi
Harsa Permata

Harsa Permata

Harsa Permata, penikmat lagu-lagu lama yang gelisah melihat musisi zaman sekarang lebih sibuk mengurusi hati yang patah ketimbang perut yang lapar. Sehari-hari bisa ditemukan di antara tumpukan buku dan koleksi lagu lawas.

Artikel Terkait

Gagal kerja di Jakarta sebagai musisi. MOJOK.CO
Urban

Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung

11 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO
Esai

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan dan Vita Rilis Video Klip "Rayuanmu" yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!.MOJOK.CO
Hiburan

Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!

9 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

WHV di Australia ternyata berat. MOJOK.CO

Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental

4 Mei 2026
Punya teman kos NPD alias narsistik menguras energi dan memuakkan MOJOK.CO

Satu Kos sama Teman NPD alias Narsistik bikin Muak: Pusat Masalah tapi Tak Tahu Diri, Merasa Benar Sendiri dan Ogah Introspeksi

6 Mei 2026
Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

6 Mei 2026
Beasiswa MEXT U to U di Jepang lebih menguntungkan daripada LPDP. MOJOK.CO

Tolak Daftar LPDP untuk Kuliah di LN karena Beasiswa MEXT U to U di Jepang Lebih Menguntungkan, Tak Menuntut Kontribusi Balik

6 Mei 2026
Anak Indonesia bicara soal isu perkawinan anak dan kekerasan di forum dunia. MOJOK.CO

Anak-anak Indonesia Muak Dipaksa Kawin tapi Jarang Didengar, Kini Kesal dan Mengadu ke Forum Dunia

8 Mei 2026
Ancaman "Indomi" bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma MOJOK.CO

Ancaman “Indomi” bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma

4 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.