MOJOK.CO – Lagu Indonesia hari ini terasa makin jauh dari suara orang biasa, masalahnya musisi sudah kehilangan nyali.
Entah sejak kapan musik Indonesia jadi terlalu sibuk mengurus patah hati. Hampir semua hal sekarang bisa dijadikan lagu galau: diselingkuhi, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, jadi orang ketiga, jadi korban ghosting, atau sekadar merasa hubungan ini “udah beda”.
Semua sah, tentu saja. Tidak ada yang salah dengan luka asmara. Tapi kadang saya merasa, kalau terus begini, musik kita lama-lama akan terdengar seperti ruang tunggu psikolog yang dipenuhi kelas menengah urban.
Padahal musik, kalau kita mau sedikit jujur, mestinya tidak cuma jadi tempat curhat yang dipoles nada. Ia juga bisa menjadi semacam catatan kaki zaman.
Dari lagu-lagu yang hidup pada sebuah masa, kita biasanya bisa menebak masyarakatnya sedang memikirkan apa, sedang takut pada apa, dan sedang menyingkirkan siapa.
Karena itu saya sering merasa ada sesuatu yang hilang dari musik Indonesia hari ini. Bukan bakatnya, bukan kualitas produksinya, dan jelas bukan kepiawaian para musisinya merangkai patah hati. Yang hilang justru sesuatu yang dulu terasa biasa saja, tapi sekarang mahal sekali: keberanian untuk menoleh ke bawah.
Menoleh ke orang-orang yang hidupnya tidak estetik. Menoleh ke mereka yang nasibnya terlalu kusut untuk dijadikan konten. Menoleh ke manusia-manusia yang, dalam hidup nyata, lebih sering kita lihat dari balik kaca mobil ketimbang dari jarak yang sungguh-sungguh dekat.
Dulu, lagu Indonesia tidak segan berteman dengan yang dihina
Salah satu hal yang saya suka dari lagu Indonesia era lama adalah keberaniannya untuk dekat dengan manusia yang sudah telanjur dijauhkan masyarakat.
Dulu, musik kita tidak terlalu sibuk menjaga citra agar tampak sopan di mata publik. Ia kadang justru lebih jujur karena mau duduk di tempat-tempat yang secara sosial dianggap kotor.
Ambil contoh “Kisah Seorang Pramuria” yang dibawakan Black Brothers maupun The Mercy’s. Dari judulnya saja sudah kelihatan bahwa lagu ini tidak sedang cari aman. Tapi yang lebih menarik buat saya bukan semata soal profesi si perempuan, melainkan cara lagu itu memandangnya.
Tokoh “aku” di dalam lagu itu tidak datang sebagai penyelamat. Ia tidak berusaha menjadi lelaki saleh yang ingin “mengangkat derajat” si perempuan. Ia cuma hadir. Menemani. Dan justru di situlah letak kemanusiaannya.
Saya kira itu penting. Sebab orang yang hidupnya sudah cukup remuk biasanya tidak butuh khotbah tambahan. Kadang mereka cuma butuh dipandang sebagai manusia biasa, bukan sebagai masalah sosial yang harus dibereskan.
Koes Plus juga punya kelembutan yang hampir serupa lewat “Bunga di Tepi Jalan”. Metafora “bunga” di sana buat saya terasa sangat halus, tapi diam-diam menyakitkan.
Ada orang-orang yang hidupnya seperti bunga di pinggir jalan: tampak, tapi cuma dilewati. Diketahui ada, tapi tidak pernah sungguh-sungguh dilihat.
Lalu Titiek Puspa datang dengan “Kupu-Kupu Malam”, dan entah kenapa lagu itu selalu terasa seperti tamparan yang sopan. Ia tidak marah-marah, tidak menggurui, tapi berhasil mempermalukan kebiasaan kita yang gemar jijik kepada korban hidup, sambil diam-diam menikmati sistem yang melahirkan mereka.
Iwan Fals dan Slank: Ketika dunia gelap tidak dipoles jadi indah
Kalau mau bicara lebih terus terang, saya rasa Iwan Fals dan Slank adalah dua nama yang sulit dilewatkan. Mereka termasuk musisi yang, setidaknya pada momen-momen tertentu, tidak terlalu takut untuk menyentuh wilayah yang secara moral sering cuma dibahas dengan bisik-bisik.
Dalam “Lonteku”, misalnya, Iwan Fals sama sekali tidak repot merapikan kenyataan. Tidak ada usaha untuk membuat semuanya terdengar sopan. Kata yang dipakai kasar, situasinya juga mentah.
Namun, justru karena itu lagu tersebut terasa jujur. Ia seperti sedang berkata bahwa di tempat yang paling sering dicibir masyarakat, kadang justru ada kesetiaan yang lebih manusiawi daripada di ruang-ruang yang kelihatannya terhormat.
Begitu pula “Jinna” dari Slank. Lagu ini tidak sedang menjual kesedihan secara murahan. Ia seperti memotret bagaimana seorang anak bisa rusak bukan karena ia “nakal” sejak lahir, melainkan karena hidup terlalu sering melemparkannya ke tempat yang salah. Keluarga berantakan, lingkungan keras, orang dewasa datang bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk memanfaatkan.
Lagu Indonesia seperti ini terasa kuat adalah karena mereka tidak menjaga tangan tetap bersih. Mereka mau dekat. Mau kotor. Mau ikut masuk ke lorong hidup yang sumpek, sesak, dan tidak nyaman.
Dan jujur saja, saya rasa musik yang seperti ini jauh lebih berguna bagi sejarah ketimbang lagu patah hati ke-47 tentang orang yang tidak kunjung move on.
Baca halaman selanjutnya..













