Lalu, kapan lagu Indonesia mulai takut kotor?
Saya tidak tahu kapan persisnya pergeseran itu terjadi, tapi saya kira kita semua bisa merasakannya. Pelan-pelan, musik Indonesia menjadi makin rapi, makin aman, dan makin pandai membaca apa yang laku di pasar.
Tema-temanya ikut menyempit.
Dari yang dulu berani bicara tentang jalanan, stigma, kemiskinan, perempuan malam, anak-anak yang dibuang hidup, atau orang-orang yang nasibnya amburadul, sekarang lebih banyak lagu yang berputar di sekitar hubungan personal: patah hati, perselingkuhan, hubungan tanpa status, atau rasa sepi yang dibungkus lirik cantik.
Saya tentu tidak sedang bilang bahwa lagu-lagu seperti “Sephia” atau “Kekasih Gelapku” itu buruk. Tidak. Bahkan beberapa di antaranya sangat bagus. Masalahnya, ketika hampir semua musisi berdiri di wilayah yang sama, musik jadi kehilangan keberagamannya sebagai suara zaman.
Akhirnya kita punya banyak lagu yang cocok menemani orang overthinking pukul dua dini hari. Namun, makin sedikit lagu yang sanggup menemani hidup orang yang harus bangun pagi-pagi untuk bertahan hidup.
Dan saya rasa, itu bukan pergeseran kecil.
Lagu Indonesia bukan lagi sekada selera, tapi soal biaya hidup
Di titik ini saya juga tidak ingin sok suci lalu menyalahkan musisi seolah mereka semua mendadak kehilangan nurani. Hidup hari ini memang tidak murah. Industri makin keras, pasar makin cerewet, dan algoritma makin rakus.
Musisi sekarang bukan cuma dituntut bisa bikin karya bagus, tapi juga harus relevan, laku, masuk playlist, dan kalau bisa viral sekalian.
Dalam situasi seperti itu, keberanian memang gampang sekali kalah oleh kebutuhan.
Kalau perut harus diisi, orang akan berpikir dua kali sebelum menulis lagu yang terlalu jujur. Lagu tentang patah hati jelas lebih aman dijual daripada lagu tentang ketimpangan sosial atau nasib orang-orang yang terus didorong ke pinggir.
Pasar, seperti biasa, tidak perlu melarang seniman untuk membungkam mereka. Cukup buat keberpihakan terasa tidak marketable.
Di situlah tragedinya.
Lagu Indonesia pelan-pelan bergeser: dari yang dulu sesekali berani menjadi saksi hidup orang-orang kecil, menjadi semakin sering berfungsi sebagai obat penenang bagi kegelisahan personal kelas menengah.
Enak didengar, iya. Menyentuh, iya. Tapi kadang juga terlalu jinak.
Yang kita rindukan mungkin bukan kritik sosial, tapi keberanian untuk menoleh lagi
Saya tidak sedang berharap semua musisi Indonesia besok pagi tiba-tiba berubah jadi aktivis panggung. Tidak juga. Yang saya rindukan justru lebih sederhana dari itu: keberanian untuk menoleh lagi.
Menoleh ke mereka yang hidupnya tidak laku dijual. Menoleh ke orang-orang yang terlalu sering hanya dijadikan latar. Menoleh ke manusia-manusia yang nasibnya tidak romantis, tidak puitis, dan terlalu kusut untuk dijadikan wallpaper Spotify.
Karena pada akhirnya, seni yang paling berharga bukanlah seni yang hanya pandai merangkai rasa. Seni yang paling berharga adalah seni yang masih mau memanusiakan manusia, terutama ketika lingkungan sekitarnya sudah berhenti melakukannya.
Kalau musik dan lagu Indonesia hari ini terasa makin jauh dari suara orang kecil, mungkin masalahnya bukan cuma karena para musisinya kehilangan nyali. Bisa jadi mereka cuma sedang hidup di zaman yang membuat keberpihakan terasa terlalu mahal.
Penulis: Harsa Permata
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Sederet Alasan Mengapa Peterpan Lebih Memengaruhi Selera Pendengar Musik Indonesia Dibanding Band Papan Atas Lain, Salah Satunya Sheila on 7 dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.













