Menjadi metalhead di Madura itu nggak semua orang bisa
Belakangan, saya baru paham kalau selera musik itu tidak sepenuhnya pilihan bebas atau tiba-tiba turun dari langit. Melainkan ada pengaruh lingkungan, pergaulan dan kebiasaan atau dalam istilah Pierre Bourdieu disebut habitus.
Di Madura, selera mayoritas jelas dangdut. Sementara kami yang memilih jalur underground bisa dibilang hidup di “subkultur kecil” dengan habitus yang berbeda.
Bukan berarti kami lebih keren, apalagi lebih benar. Tapi jelas, perbedaan ini menciptakan jarak, bukan secara sosial melainkan simbolik.
Sebagai metalhead, kami punya punya bahasa sendiri yang kami anggap wajar, seperti logo band yang sulit dibaca. Teknik vokal yang tidak semua orang pahami yang selalu kita latih ketika sedang mandi, sampai sejarah subgenre yang kadang lebih rumit dari skripsi.
Pengetahuan ini jadi semacam modal budaya, sekalipun pandangan luar mungkin berkata bahwa itu nggak ada nilainya. Tapi bagi kami, itu bisa menentukan posisi sosial seseorang.
Singkatnya, menyukai musik underground di Madura bukan sekadar beda selera. Tapi seperti hidup di frekuensi yang nggak semua orang bisa tangkap. Kami bisa dianggap di ruang lingkup yang terbatas karena selera sangat kontras, tapi ya enjoy-enjoy aja.
Sama halnya ketika para bapak-bapak nonton konser New Palapa dan Om Sera di Madura, kebanyakan dari mereka akan langsung menunjukkan jogetannya yang unik itu di ruang publik.
Madura punya Rajam dan Sickless
Menariknya, dari frekuensi yang berbeda itu justru lahir band-band yang mampu menembus batas lokal. Sebut saja Rajam (War Black Metal) dan Sickless (Brutal Death Metal), dua nama yang sangat disegani di skena underground Madura.
Mereka bukan sekadar band, tapi semacam institusi kecil. Pernah sepanggung dengan band besar seperti Siksa Kubur, merilis karya yang tersebar ke berbagai kota, bahkan dikenal hingga luar negeri. Ini bukti, bahwa selera sekecil apa pun pasarnya, tetap punya ruang untuk tumbuh.
Seperti kata Bourdieu, selera selalu punya “pasar”-nya sendiri. Dan di pasar itu, yang dulu dianggap pinggiran bisa jadi ekslusif dan solid. Habitus mereka kuat, nggak berubah demi selera mayoritas.
Dari musik ini juga, saya bisa kenal orang-orang dari luar Madura, sekaligus belajar bahwa pertemanan nggak selalu butuh basa-basi panjang layaknya sidang paripurna. Kadang cukup satu genre, satu panggung dan satu lagu bisa langsung klik.
Semua itu seakan-akan terasa mudah, gimana tidak, kalau gigs musik underground di Madura pelakunya itu-itu aja. Mentok-mentok diadain UKM Musik Kampus yang dikejar proker tahunan.
Kembali lagi, karena skena di Madura terbatas, kami sering “merantau kecil-kecilan” ke Surabaya dan Sidoarjo. Nongkrong, ikut gigs, atau sekadar berkenalan dengan komunitas luar.
Bahkan dulu sempat ada lingkar pertemanan bernama SDMU (Surabaya, Sidoarjo, Madura), isinya? Ya Metalhead semua.
Dari situ saya paham, bahwa musik underground bukan cuma soal ekspresi, tapi juga jaringan. Relasi yang terbentuk itu bahkan ikut membantu band-band Madura untuk bisa manggung di luar, begitupun juga sebaliknya.
Ketika idealisme ketemu Shopee PayLater
Tapi seperti banyak hal lain dalam hidup, idealisme juga punya batas realitas. Dulu, bikin gigs itu perjuangan. Menyisihkan uang saku, mencari sponsor, kadang bolos sekolah buat jualan tiket, bahkan ada yang nekat menggadaikan BPKB motor. Sekarang? Secara finansial mungkin lebih mampu, tapi waktunya yang nggak ada.
Ada yang sibuk kerja, lanjut kuliah, atau fokus sama keluarga. Nongkrong yang dulu mudah, sekarang jadi agenda yang harus dijadwalkan.
Gigs yang dulu sering tapi susah, sekarang justru jarang meski secara materi lebih memungkinkan. Bukan karena musiknya mati, tapi karena pelakunya harus bertahan hidup.
Pada akhirnya, musik underground di Madura mungkin memang nggak serame dulu. Tapi nggak sepenuhnya hilang. Ia cuma beradaptasi, meski terkadang harus berdamai dengan realitas, termasuk menyelipkan lagu Denny Caknan di tengah-tengah playlist Spotify.
Kawan yang mengenalkan saya pada musik underground, sekarang jadi penyanyi dangdut terkenal di Bangkalan, Madura. Sangat bisa dipahami dan tidak bisa disalahkanKami mungkin nggak sekeras seperti dulu di atas panggung. Tapi di kepala, distorsi itu masih hidup bersamaan dengan cicilan Shopee PayLater yang harus dibayar.
Penulis: Galang Edy Pratama
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Jembatan Suramadu Memang Harus “Roboh” demi Rakyat Madura yang Selalu Dianggap Sumber Masalah bagi Banyak Orang dan ulasan menarik lainnya di Kanal Esai.













