Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

Galang Edy Pratama oleh Galang Edy Pratama
3 April 2026
A A
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Ilustrasi: Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjadi metalhead di Madura itu nggak semua orang bisa

‎Belakangan, saya baru paham kalau selera musik itu tidak sepenuhnya pilihan bebas atau tiba-tiba turun dari langit. Melainkan ada pengaruh lingkungan, pergaulan dan kebiasaan atau dalam istilah Pierre Bourdieu disebut habitus.

‎Di Madura, selera mayoritas jelas dangdut. Sementara kami yang memilih jalur underground bisa dibilang hidup di “subkultur kecil” dengan habitus yang berbeda. 

Bukan berarti kami lebih keren, apalagi lebih benar. Tapi jelas, perbedaan ini menciptakan jarak, bukan secara sosial melainkan simbolik.

‎Sebagai metalhead, kami punya punya bahasa sendiri yang kami anggap wajar, seperti logo band yang sulit dibaca. Teknik vokal yang tidak semua orang pahami yang selalu kita latih ketika sedang mandi, sampai sejarah subgenre yang kadang lebih rumit dari skripsi. 

Pengetahuan ini jadi semacam modal budaya, sekalipun pandangan luar mungkin berkata bahwa itu nggak ada nilainya. Tapi bagi kami, itu bisa menentukan posisi sosial seseorang. 

Singkatnya, menyukai musik underground di Madura bukan sekadar beda selera. Tapi seperti hidup di frekuensi yang nggak semua orang bisa tangkap. Kami bisa dianggap di ruang lingkup yang terbatas karena selera sangat kontras, tapi ya enjoy-enjoy aja. 

Sama halnya ketika para bapak-bapak nonton konser New Palapa dan Om Sera di Madura, kebanyakan dari mereka akan langsung menunjukkan jogetannya yang unik itu di ruang publik.‎

Madura punya Rajam dan Sickless

‎Menariknya, dari frekuensi yang berbeda itu justru lahir band-band yang mampu menembus batas lokal. Sebut saja Rajam (War Black Metal) dan Sickless (Brutal Death Metal), dua nama yang sangat disegani di skena underground Madura.

‎Mereka bukan sekadar band, tapi semacam institusi kecil. Pernah sepanggung dengan band besar seperti Siksa Kubur, merilis karya yang tersebar ke berbagai kota, bahkan dikenal hingga luar negeri. Ini bukti, bahwa selera sekecil apa pun pasarnya, tetap punya ruang untuk tumbuh.

‎Seperti kata Bourdieu, selera selalu punya “pasar”-nya sendiri. Dan di pasar itu, yang dulu dianggap pinggiran bisa jadi ekslusif dan solid. Habitus mereka kuat, nggak berubah demi selera mayoritas.

‎Dari musik ini juga, saya bisa kenal orang-orang dari luar Madura, sekaligus belajar bahwa pertemanan nggak selalu butuh basa-basi panjang layaknya sidang paripurna. Kadang cukup satu genre, satu panggung dan satu lagu bisa langsung klik. 

Semua itu seakan-akan terasa mudah, gimana tidak, kalau gigs musik underground di Madura pelakunya itu-itu aja. Mentok-mentok diadain UKM Musik Kampus yang dikejar proker tahunan.

‎Kembali lagi, karena skena di Madura terbatas, kami sering “merantau kecil-kecilan” ke Surabaya dan Sidoarjo. Nongkrong, ikut gigs, atau sekadar berkenalan dengan komunitas luar. 

Bahkan dulu sempat ada lingkar pertemanan bernama SDMU (Surabaya, Sidoarjo, Madura), isinya? Ya Metalhead semua.

Iklan

‎Dari situ saya paham, bahwa musik underground bukan cuma soal ekspresi, tapi juga jaringan. Relasi yang terbentuk itu bahkan ikut membantu band-band Madura untuk bisa manggung di luar, begitupun juga sebaliknya.

‎Ketika idealisme ketemu Shopee PayLater

Tapi seperti banyak hal lain dalam hidup, idealisme juga punya batas realitas. Dulu, bikin gigs itu perjuangan. Menyisihkan uang saku, mencari sponsor, kadang bolos sekolah buat jualan tiket, bahkan ada yang nekat menggadaikan BPKB motor. Sekarang? Secara finansial mungkin lebih mampu, tapi waktunya yang nggak ada.

‎Ada yang sibuk kerja, lanjut kuliah, atau fokus sama keluarga. Nongkrong yang dulu mudah, sekarang jadi agenda yang harus dijadwalkan. 

Gigs yang dulu sering tapi susah, sekarang justru jarang meski secara materi lebih memungkinkan. Bukan karena musiknya mati, tapi karena pelakunya harus bertahan hidup.

‎Pada akhirnya, musik underground di Madura mungkin memang nggak serame dulu. Tapi nggak sepenuhnya hilang. Ia cuma beradaptasi, meski terkadang harus berdamai dengan realitas, termasuk menyelipkan lagu Denny Caknan di tengah-tengah playlist Spotify. 

Kawan yang mengenalkan saya pada musik underground, sekarang jadi penyanyi dangdut terkenal di Bangkalan, Madura. Sangat bisa dipahami dan tidak bisa disalahkanKami mungkin nggak sekeras seperti dulu di atas panggung. Tapi di kepala, distorsi itu masih hidup bersamaan dengan cicilan Shopee PayLater yang harus dibayar.

Penulis: Galang Edy Pratama
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Jembatan Suramadu Memang Harus “Roboh” demi Rakyat Madura yang Selalu Dianggap Sumber Masalah bagi Banyak Orang dan ulasan menarik lainnya di Kanal Esai.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 3 April 2026 oleh

Tags: bangkalandangdutMadurametalheadMusikmusik metalmusik underground
Galang Edy Pratama

Galang Edy Pratama

Suka hal-hal baru, hati-hati sama Orang Baru. Sarjana Ilmu Komunikasi, tapi suka badmood kalau Real Madrid dan Manchester United kalah.

Artikel Terkait

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals MOJOK.CO
Esai

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals 

15 April 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)
Pojokan

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan dan Vita Rilis Video Klip "Rayuanmu" yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!.MOJOK.CO
Hiburan

Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!

9 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Purwokerto .MOJOK.CO

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.