Setelah membaca tulisan Panjul a.k.a Eddward “Sunset di Tanah Anarki” Kennedy di Mojok yang sangat provokatif dan menjurus ke adu domba, saya kok jadi memikirkan hal yang sama. Ooo, bukan, bukan… Saya bukan ingin melihat Ahokers dan Anti Ahok untuk segera berhadapan secara jantan di jalanan. Saya juga tidak pernah merasakan tawuran antar sekolah. Eh pernah ding. Waktu SMP.

Oke, karena sudah telanjur bilang pernah, izinkan saya untuk bercerita sedikit pengalaman lucu nan menjijikkan itu.

Sebermulanya adalah turnamen futsal yang diadakan oleh salah satu SMP ternama di Gresik. Sebut saja SMP 1 Gresik. Nah, Sekolah saya, SMP 4 Gresik, kebetulan lolos ke final dan berhadapan dengan tuan rumah. Didorong oleh militansi dan rasa chauvinisme sekolah yang mburap-mburap, maka kita, para siswa, beramai-ramai ngluruk ke SMP 1 Gresik yang jaraknya hanya selemparan batu itu.

Skor masih imbang saat itu, dan justru itulah yang membuat tensi pertandingan menjadi sangat panas. Gelagat bakal terjadi kerusuhan antar siswa kedua sekolah pun sudah mulai terlihat jelas. Yel-yel dukungan yang fitrahnya adalah untuk memberi dukungan kepada tim, justru bergeser fungsi menjadi alat untuk saling ledek dan ejek.

Damai tak dapat diraih, rusuh tak dapat ditolak. Kedua suporter dari kedua kubu pada akhirnya chaos juga. Kami para suporter tamu yang waktu itu ditempatkan di bawah tangga, dilempari botol oleh suporter tuan rumah dari ruangan atas. Mata dibalas mata. Cium dibalas cium. Kami tak terima. Kami membalas. Tentu saja.

Dengan mengusung semangat yang entah dari mana asalnya: pembalasan harus lebih sadis, kami menjadi semakin liar dan beringas. Kami merusak fasilitas sekolah. Satpam yang jumlahnya hanya sebanyak scudetto AS Roma alias hanya dua, tak mampu menahan laju kemarahan kami. Kami pulang dengan bangga, karena kami menang tawuran. Walau pada akhirnya hasil skor futsal di lapangan kami kalah, tapi setidaknya, di “lapangan” yang lain, kami menang angka.

Baca juga:  Jenis-Jenis Suporter Sepakbola Indonesia yang Wajib Anda Ketahui

Jantan rasanya.

Oke, kembali ke topik awal. Sengaja saya menceritakan sedikit kisah tawuran antar suporter waktu SMP itu karena memang tulisan ini berhubungan erat dengan perseteruan suporter.

Jujur, saya muak dengan pertengkaran Aremania dan Bonekmania. Silakan kalau ada yang tidak terima. Tapi ini adalah jeritan hati suporter yang tidak ada hubungan apapun dengan kedua suporter tadi, tapi selalu ikut terkena imbas dari pertengkaran kedua suporter nggapleki itu.

Dunia maya memang sungguh kejam. Sangat kejam. Anjuran menghajar orang seringkali muncul di dunia maya. Dan ini tidak dilewatkan oleh kedua suporter tadi. Setiap kali Arema mau bertanding, ada saja suporter rival yang menye-menye dan menghina di dunia maya. Begitu pula sebaliknya.

Etapi Persebaya kan belum ikut turnamen? Lah justru disitu saya semakin heran. Padahal kedua klub belum “resmi” bertemu di stadion. Kenapa kedua suporter ini masih bermusuhan. Apa yang dimusuhi, coba? Beda kalau yang bertarung Viking dan The Jak yang musim ini saja mereka bertemu dua kali.

Tak cuma di dunia maya, di dunia nyata pun, rivalitas kedua suporter ini tak kalah panasnya. Kalau Arema sedang bertanding —siapapun lawannya, dan kebetulan Aremania sedang ada di stadion, bakal ada satu chant setengah wajib yang harus dikumandangkan, “Bonek jancok dibunuh saja”. Tolong mas redaktur, jangan disensor.

Chant wajib itu pun kembali bergema di Stadion Petrokimia Gresik. Jumat, 7 Oktober 2016 saat Persegres Gresik United melawan Arema Cronus. Jangan sebut hasilnya ya. Nanti ada yang dongkol sampai tidak ikut post match conference. Uhuk.

Baca juga:  Mati Ketawa Cara Sepakbola

Gresik memang identik dengan netralitasnya. Kita enggan masuk dalam Blok Bonek ataupun Blok Arema. Kita berdiri diantara kedua blok tersebut. Kita enggan memiliki musuh hanya karena mengikuti salah satu blok. Bukan karena takut, tapi memang persatuan adalah keinginan kita. Slogan kita saja kece badai: “Alangkah Indahnya Bersatu”.

Nah, karena netralitasnya itu kita memiliki peraturan bagi suporter manapun yang datang ke Gresik. Dilarang untuk menyuarakan chant bernada rasis dan merendahkan suporter lain. Sayang seribu sayang, kita hanya bisa menyerukan suporter lain untuk mengikuti peraturan. Klau ada yang melanggar, kita tak bisa apa-apa. Kita tak bisa menghentikan dengan paksa. Yang bisa kita lakukan adalah membiarkan dan berteriak “booo”.

Konsekuensinya, bakal ada pihak yang tidak terima. Ada yang menganggap kita, Ultras Gresik, membiarkan Aremania menghina salah satu suporter. Bahkan ada yang ingin agar kita membela Bonek dengan menghantam Aremania di stadion.

Pelis deh. Tulung.

Gresik selalu dijadikan battle field. Gresik adalah tempat kedua suporter ini bertarung. Tapi ya gitu, skala nya kecil. Saya kesal. Sumpah saya kesal. Kalian bisa lihat muka kesal saya, kan? Apa? nggak bisa? Ya udah sih…

Sejauh ini, keinginan saya satu: melihat kedua suporter ini bentrok besar hingga banyak suporter dari kedua belah pihak terluka dan kapok jadi suporter. Biar orang-orang bodoh semakin sedikit. Biar tidak ada lagi yang menyuarakan kebencian. Biar tidak ada lagi permusuhan. Biar anak cucu kita nanti tidak ikut “panas” dengan suporter lain, tanpa tahu alasannya.

Biar Gresik semakin aman.

Komentar
Add Friend
No more articles