Tanya

Yth. Cik Prim dan Gus Mul

di Hatiku yang Liar dan Pecicilan

Bersama surat ini saya sampaikan bahwa saya tidak akan curhat soal asmara. Kisah asmara saya tidak semenye-menye Reva yang ditinggal mati si Boy, nggak sejelimet Isabella Swan yang gusar harus nyoblos Edward atau Jacob, juga tidak semengenaskan Anastasia Steel yang ditarik ulur si nakal tapi tamvan Christian Grey.

Saya hanya mahasiswa lanjut usia yang tidak luput dari serangan oppa-oppa. Sebut saja saya Bawang Merah: seorang tuna asmara, jomblo bermartabat hampir lima tahun (dan berencana akan nyalon lagi di periode selanjutnya).

Gus Mus dan Cik Prim yang saya hormati, di zaman modern dengan banyak perubahan ini, saya benar-benar berada di posisi yang sulit. Kalau kata pepatah: bagai telur di ujung handuk; bagai buah simalakama, tidak dimakan, ibu mati, dimakan, bapak kimpoi lagi.

Masalah saya adalah saya sedang bingung memutuskan, ingin cepat keluar atau tahan lama di kampus. Menginjak semester 8, saya masih berat meninggalkan kampus, kantin, teman-teman, wifi gratis, juga dosen-dosen muda. Apalagi junior-junior saya sekarang kok, ya, pada manis manjah, nyegerin, badannya peluakable gituh. Sungguh godaan berondong yang terkutuk yawla.

Selain itu, kalau cepat keluar saya takut nanti bakal menjadi sarjana muda yang resah mencari kerja. Saya takut cibiran netizen apabila menganggur dalam kondisi sarjana. Takut disindir, “Ih, sudah jomblo, pengangguran lagi,” atau “Ih, sudah jomblo, suka ngeludah sembarangan lagi,” dan lain-lain. Apalagi biasanya sindiran seperti itu akan segera disusul dengan pertanyaan mahahoror “Kapan nikah?”

Bayangan akan pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya sebagai seonggok jomblo mendadak pengen dirukiyah saja. Emangnya mau nikah sama siapa? Sama skripsi? Sama pembimbing skripsi? Sama tukang jilid skripsi?

Di sisi lain, uang kuliah tunggal (UKT) yang nolnya enam digit sudah menampar-nampar agar saya segera sadar dari gairah kampus yang menggelora membabi buta. Uang sewa hotel kos juga lumayan membuat orang tua megap-megap. Saya tentu tidak mau bernasib seperti Malin Kundang milenial: dikutuk menjadi batu baterai karena tidak tamat-tamat kuliah.

Foto teman-teman yang bergentayangan di medsos juga sukses membuat saya terangsang berat ingin cepat keluar. Senyum bahagia; pose bersama bunga, balon, selempang; lalu caption “Alhamdulillah, akhirnya sah sarjana” (sementara saya yang ikut nampang foto menyelamati wisudawan hanya bisa bikin caption “Ak03h k4p4n, 4k03h g4l4u b4n93tz n1ch.”

Kenapa perkara ini begitu rumit sih? Atau saya saja yang terlalu dramatis dan terombang-ambing? Gus, Cik saya kudu piye? Haruskah saya pindah kewarganegaraan atau malah pindah kegalaksian? Dari galaksi Bima Sakti ke Bima Satria Garuda?

BACA JUGA:  Warga Internet Indonesia, Berhentilah Merundung SBY

Mohon bimbingan dan acc-nya. Walaupun saya yakin kalian nggak ngalamin sih. Secara gitu, kalian pasti mahasiswa berprestasi nan mempesona. Senyum dikit aja, langsung diwisuda. Apalagi senyumnya Gus Mul yang … aaah.

Kalau ada sumur di ladang

Boleh kita mandi bareng

Kalau ada waktu yang panjang

Boleh dong suratnya dibales

Sekian

Bawang Merah, masih tinggal di Bumi

Jawab

Bawang tersayang, Anda bertanya pada orang yang salah. Hahaha.

Saya sendiri lulus S-1 tujuh tahun (kok ketoke bangga), sementara Gus Mul … nah ini fans-fansnya pasti tahu: Gus Mul tidak pernah kuliah. Dan bisa lihat siapa yang lebih sukses, kan? Yak betul: Mas Puthut, sarjana filsafat yang jadi cerpenis, peneliti, dan pengayom kami semua di Mojok.

Soal malas lulus tapi baper lihat teman wisuda ya jelas itu pengalaman banyak orang. Dan ini jawabnya gampang-gampang susah. Salah kata dikit, Mojok bisa dituntut para orang tua yang ingin melihat anaknya lulus dan para pacar yang sudah menuntut minta dinikahi.

Mau memilih lulus atau DO, itu sama-sama ada kelebihan dan kekurangannya (ya iyalah). Kadang naq yang memilih atau keceplosan DO alasannya mesti bawa-bawa Bill Gates, Steve Jobs, dan Mark Zuckerberg (jauh amat nyari contoh. Di Indonesia, Menteri Kelautan dan Perikanan DO pas SMA, sementara ibu lain yang jadi ketua partai paling gede juga DO kuliah). Contoh-contoh itu jadi pleidoi bahwa DO jelas lebih sukses daripada jadi sarjana gitu. Tapi, yang diabaikan adalah fakta bahwa mereka sendiri pas sekolah memang udah pinter atau kreatif. Dan ternyata sekolah jadi terlalu membosankan buat mereka. Jadi bukan karena males, yha.

Terus ada alasan lain begini: lulus pun ilmu pas kuliah juga nggak kepake. Mentok cuma bisa pamer kartu alumni. Wong pas kuliah bacanya teori resolusi konflik, pas lulus ujung-ujungnya masuk bank atau ternak lele. Mbel, tho? Para penganut teori ini mendudukkan kuliah sebagai ajang cari pengalaman aja. Ijazah nggak penting. Ya kadang ini benar juga. Di Indonesia, tampaknya pekerjaan kreatif, terutama, lebih mengutamakan skill. Dan skill itu biasanya nggak didapat di kuliah meskipun dosen-dosen sudah setengah mati maksa mahasiswa untuk ikut kuliah soft skill segala macam itu.

Tapi, buat para pemenang yang berhasil lulus juga punya alasan. Nggak selamanya ilmu pas kuliah nggak kepake. Atau, bagi teman-teman yang ingin berkarier di bidang akademis, semisal jadi pendidik. Ya di situ ijazah mutlak perlu. Dan nggak lucu kan kalau kita pengin S-2 sambil foto-foto di Notre Damme atau Big Ben, kemampuan ada, tapi hanya terhambat nggak punya sarjana S-1. Malah jadinya penyesalan seumur hidup, atau repot harus ikut kuliah di Universitas Terbuka.

BACA JUGA:  Abah Hasyim dan Kelakarnya

Lha, kalau ada dua versi pembelaan untuk masing-masing pilihan gitu, kita kudu ngapain?

Nah, ini jawaban seorang (((sarjana))) ya, tolong dicamkan, hahaha. Mungkin kalau nanya ke orang yang DO, akan berbeda. Tapi, intinya saya mah mau bilang, masalah pendidikan yang nyatanya tidak membekali kita dengan keahlian yang cukup (berkegiatan di organisasi kampus maupun luar kampus malah lebih punya efek) bukan alasan buat tidak lulus dengan alasan males. Ini satu persoalan yang harus diselesaikan.

Kamu harus lulus karena ini konsekuensi pilihanmu untuk kuliah pas lulus SMA dulu. Cepat atau lambatnya sih saya no comment. Lulus itu bentuk tanggung jawab. Mbuh sama orang tua, sama diri sendiri, sama bank yang jadi tempat bapakmu nransfer tiap bulan, sama pajak rakyat yang dialokasikan 20% APBN untuk pendidikan dan dipakai buat biayai wifi gratismu itu, sama anak-cucumu nanti kalau ada … sama apa pun.

Soalnya, perkara tanggung jawab itu selalu hadir di kehidupan pasca-kampus. Mau kamu jadi ibu rumah tangga, direktur BUMN, bakul pecel, admin Twitter, penerbit medioker di kota kecil, atau carik desa. Lah kalau kamu nggak bisa tanggung jawab sama komitmen pas masuk kuliah dulu, apa itu nggak jadi rekam jejak buruk? Jelek-jelekin CV atau undangan nikah? Ya, kecuali situ serius mau ternak lele.

Kalau kemudian memang betah di kampus jadi alasan terkuat, sudah, buruan lulus, habis itu jadi bakulan soto di kampus atau ngelamar jadi satpam. Terserah mau gulang-guling ngguya-ngguyu di kampus saklawase, monggo.

Ngomong-ngomong, kalau galaumu karena kebanyakan dengerin “Sarjana Muda”-nya Iwan Fals, saya kasih satu rahasia: dia nganggur karena lulus 4 tahun. Coba kalau tujuh tahun, sudah jadi redaktur Mojok itu. Kalau nggak kuliah? Sudah jadi artis.

Salim,

Cik Prim, S.Pd.

N.B.: Mbok nonton drama Korea-mu dikurang-kurangi. Kebanyakan mimpi terus lupa cari pacar, nggak cuma SBY, saya juga ikut sedih.

Komentar
Add Friend
No more articles