Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kenapa Sih Kalian Tidak Kebelet Menikah?

Eksan Susanto oleh Eksan Susanto
25 Februari 2017
A A
Kenapa Sih Kalian Tidak Kebelet Menikah?

Kenapa Sih Kalian Tidak Kebelet Menikah?

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Zawjiyah (berpasangan), dalam hal ini menikah, jika kita melihat dan memahaminya dalam perspektif Alquran, maka ia merupakan salah satu sunnatullah. Ditegaskan oleh firman Allah QS: 51 ayat 49, yang kurang lebih artinya, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasang supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.”

Memang ini hukum yang bersifat umum, melingkupi manusia, hewan, tumbuhan, keadaan, dan lain-lain. Namun untuk manusia seperti kita, cara berpasangan yang fitrah tentu saja adalah dengan cara menikah. Jadi menemunkan pasangan kita dan bersanding bersamanya merupakan bagian dari cara kita mengingat akan kebesaran Allah.

Lantas pertanyaannya, “Kenapa sih kalian kebelet sekali menikah?”

Oiya, tentunya pertanyaan ini ditujukan kepada yang sudah cukup umur lho ya. Dan 5 hal ini sebagian dari jawabannya. Kenapa kok 5? ya terserah saya, wong saya yang nulis, kok, tugas anda kan cuma baca.

Pertama, sebagian besar dari kita sudah mulai jarang yang menyukai puasa. Loh? Iya, puasa. Baginda Nabi Muhammad SAW sudah bersabda yang kurang lebih artinya “Wahai kaum muda, siapa diantara kalian mampu menikah, menikahlah. Dan siapa yang tidak mampu hendaklah berpuasa. Karena sesungguhnya puasa menjadi tameng baginya.”

Nah, lha wong menyambut bulan puasa Ramadan saja terkadang kita masih cuma sekadar mengikuti tren, pasang status, spanduk, ngetwit, bikin tagar dll. Pas giliran menjalani puasa dan kena cuaca panas semacam cuaca Surabaya, misuhnya nggak ketulungan.

Kita sudah mulai hilang sikap kewarasan, seruduk sana sini, ngempot-ngempot dijalan, klakson telolet bersahutan saat traffic light nyala merah masih menyisakan 2 detik. Bukankah puasa itu menahan diri? Lah, apalah daya nafsu ini menutupi nurani yang ingin bersabar dan berpasrah pada-Nya. Aduh mak’e, daripada menahan diri dengan cara puasa yang kurang ikhlas semacam itu, mending mbribik eh ta’aruf ke cewek yang kelihatan cocok, trus ngomong sama emak, beres toh?

Logikanya, kalau puasa ramadan yang wajibnya banget dan cuma satu bulan saja kita masih sering lemah, apalagi puasa karena belum menikah yang lamanya bakal entah sampai kapan.

Kedua, kita ini mengaku saja kalau kecintaan kita terhadap ilmu sangat biasa-biasa saja, janganlah lalu membandingkan kita dengan ahli ilmu Ibnu Taimiyah yang nggak menikah, Terlalu tinggi mbak. Buku bacaan yang kita miliki saja nggak sebanyak kaos oblong yang tertata di lemari, pesantren yang kita kunjungi nggak sebanyak pantai yang kita singgahi, niat sowan ke Ulama atau ustadz pun selalu terkendala jam kerja dan tontonan seasyik Anak Langit, paling mentok ya belajar dari paman Google, ngikuti akun Abah Mustofa bisri, Prof. Nadirsyah Hosen, dll. Itu bagi kita sudah cukup lumayan untuk tetap menjaga kewarasan dalam berpikir ditengah berkecamuknya perang ideologi sesama tetangga sendiri.

Dan karena ilmu kita yang pas-pas-an ditambah beban hidup yang makin menyudutkan, maka kita butuh teman berbagi, teman yang menjadi alas(an) untuk tetap berjuang, teman yang selalu mengingatkan bahwa, meminjam lirik lagunya Wali band, hidup ini indah bila mencari berkah. Lagi-lagi cara halalnya ya dengan cara menikah.

Ketiga, ini soal mempunyai keturunan biologis. Bagi setiap anak, membahagiakan emak adalah kuntji. Tujuan mulia yang akan kita capai. Dan salah satu kebahagiaan emak adalah keberhasilan kita di masa muda dan mempersembahkan cucu yang imut sebagai wadah baru untuk mencurahkan kasih sayangnya. Kan nggak mungkin emak dengan senyum bahagia menggendong sambil menimang-nimang kita yang sudah segede gaban di pelataran rumah di pagi hari.

Nah, solusinya lagi-lagi ya itu, menikah.

Keempat, memuliakan perempuan. Dalam Alqur’an, perempuan disebut sebanyak tidak kurang dari 114 kali. Entah itu disebut nisa’ atau kata yang seakar dengannya, juga disebut untsa atau kata-kata yang seakar dengannya. Kita hidup sebagai manusia tidak dikehendaki oleh Allah untuk mengumbar naluri tanpa kendali. Di dunia hewan, jantan-betina hidup tanpa aturan menikah karena memang mereka nggak punya departemen agama dan KUA. Perempuan dalam islam begitu dimuliakan, Allah menetapkan aturan yang selaras dengan kemuliaan mereka. Mereka halal jadi istri jika dinikahi, mereka bertelapak surga jika jadi ibu. Maka seperti bagaimana lagi kita sebagai laki-laki menunjukakan sikap memuliakan perempuan yang kita sayangi selain menginginkan dari rahimnya akan terlahir keturunan sah kita jika bukan lewat jalan pernikahan?

Kelima, agar supaya kita tidak berjalan ditempat. Fire-walking atau juga dikenal sebagai walking on fire dipopulerkan oleh Anthony Robbins. Robbins menggunakan fire walking sebagai simulasi untuk pelatihan NLP (Neuro Linguistic Programming), yaitu bagaimana mengubah persepsi diri melalui visualisasi baru di otak sehingga mengubah reaksi tubuh terhadap realita. Dari teknik yang dijelaskan Robbins kita menjadi tahu bahwa ketakutan terhadap tantangan untuk berjalan di atas api lebih banyak disebabkan oleh persepsi di pikiran kita. Kenyataannya, berjalan di atas api tidak semenakutkan dan tidak seberbahaya seperti yang disangkakan. Apalagi dengan diberi contoh oleh instruktur yang sudah menjalani. Maka persepsi bahwa kita juga bisa menjadi semakin kuat.

Iklan

Bisa disimpulkan bahwa segala sesuatu yang menakutkan seringkali tidak semenakutkan yang ditampakkan. Jalani saja maka kita akan dapatkan hal yang menakutkan itu tidak terlalu menakutkan, justru menyenangkan. Terus berjalan, maka kita akan aman.

Demikian pula dalam menghadapi hidup, strategi terbaik adalah terus menjalaninya hingga akhirnya masalah terselesaikan. Berhenti dan diam justru berakibat celaka. Kalau kata Einstein, “Hidup itu seperti naik sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak” Maka, sama halnya dengan tahapan menikah, jangan berhenti di masa lajang, ada tahapan serius menanti di masa yang lain. Berkeluarga. Takut tak bisa mendidik anak-istri, atau takut tak bisa patuh terhadap suami? Bagaimana kita bisa tahu jawabanya kalau kita tidak menjalaninya? Masa iya kita harus jadi jomblo-lajang tapi punya ‘sephia’? Kan mending nikah. Ya toh…

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: featuredjomblomenikah
Eksan Susanto

Eksan Susanto

Artikel Terkait

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru
Lipsus

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik”, Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin

21 April 2026
Cerminan pemberdayaan dan kontribusi nyata perempuan di Kota Semarang MOJOK.CO

Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University

22 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Gen Z pilih soft living daripada slow living

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

22 April 2026
Mahasiswa berkuliah S2 UGM. PTN terbaik, tapi pakai AI

Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.