Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ada Tukang Parkir Resah, Nggak Ada Tambah Resah

Arman Dhani oleh Arman Dhani
24 Oktober 2017
A A
ilustrasi Seribu-Dua Ribu untuk Tukang Parkir yang Terasa Berat mojok.co parkir motor

tukang parkir

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ribut-ribut tentang oknum dokter yang menembakkan pistolnya karena ditagih uang parkir membuat saya prihatin. Bukan ke tukang parkirnya, tapi pada si oknum dokter. Netizen yang terhormat memakinya, menghinanya, dan menganggap apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan; perilaku jahat yang semestinya tidak terjadi. Halah, kayak nggak pernah dibikin kesal sama tukang parkir yang mirip preman aja.

Tapi, setelah melihat videonya, saya kok malah kepikiran soal mereka berdua itu ya. Emang ada orang waras yang mau melakukan hal seram seperti itu?

Saya pikir, emang kalau tukang parkir suka malak seperti preman, apa boleh diperlakukan jahat? Diacungi pistol lalu diburu seperti maling? Lagian itu kejadiannya kan bukan di lapak parkir liar, melainkan di gedung yang tukang parkirnya resmi. Si dokter juga dengan mudah menembakkan pistolnya, ala Jenggo, koboi yang memburu penjahat. Apa ya setiap ada hal yang tak nyaman mesti diselesaikan dengan kekerasan dan darderdor?

Ya tentu tidak. Sikap sok jagoan, penguasa, dan gemar menindas yang lemah ini bukan baru-baru ini muncul. Dulu Soe Hok Gie pernah menulis mentalitas machismo rapuh hasil didikan penjajah. Gie menyebut terlalu banyak manusia yang bermental sok kuasa; merintih kalau ditekan, menindas kalau berkuasa, mementingkan golongan, ormas, teman seideologi, dan lain-lain.

Lho, nggak percaya? Di bandar udara Sam Ratulangi Manado, seseorang menolak diperiksa KTP-nya karena istri pejabat. Tidak hanya menolak, ia juga menampar dua petugas setempat. Mental jawara karena pangkat ini warisan kolonial dari jaman kalabendu ketika manusia merasa tinggi karena strata sosial. Di peradaban yang telah bersiap membangun koloni baru di Mars, manusia-manusia Indonesia bermental priayi memang ajaib.

Mental priayi ini nggak hanya dimiliki orang kaya. Lihat saja video motor-motor yang berusaha kabur dari cegatan polisi di jalur bus Transjakarta. Ini mengapa saya selalu kesal jika ada aktivis lingkungan yang bilang Jakarta itu kota tidak ramah binatang, lha yang melawan arus sambil naik motor di trotoar itu apa dong? Wit kates?

Lantas apa hubungannya dengan tukang parkir itu? Jadi gini, si dokter merasa dia memiliki hak istimewa tak perlu membayar parkir, priayi je, militer, aparat. Ya beda sama kita-kita ini yang miskin. Tapi tukang parkirnya nggak peduli. Akibatnya, si dokter kesal, mengeluarkan pistol, menembak ke udara, si tukang parkir kabur, lalu ngilang. Di sini saya yakin, orang-orang yang dulu pernah marah dan jengkel karena dimintai duit parkir saat ambil duit di ATM girang bukan main.

Oh bukan, saya tidak mempromosikan kekerasan, apa yang dilakukan dokter itu sepertinya kulminasi dari rasa jengkel, muntab, dan gemas yang ditumpuk bertahun-tahun dari profesi tukang parkir liar. Saya nyaris belum pernah menemukan orang yang secara sukarela, gembira hati, dan ikhlas memberi seribu dua ribu perak yang ia miliki kepada tukang parkir sebagai balas jasa menjaga motor atau mobilnya.

Tukang parkir itu profesi gaib. Seperti ninja. Pas diperlukan untuk membantu menyeberang atau parkir orangnya nggak ada, pas selesai parkir atau hampir kelar nyeberang, muncul untuk menerima uang. Tapi, tentu bukan soal ini saya kerap dibikin jengkel dengan tukang parkir.

Tukang parkir liar lahir dari absennya negara di ruang publik, ini kalau mau otak-atik gathuk ra cetha. Mereka hadir karena cerdas melihat potensi pekerjaan, kerap kali orang-orang gagal mengapresiasi kejeniusan mereka. Lho piye ndak jeniyes, modal topi, peluit, dan tekad baja mereka bisa dapat penghasilan dari sekadar berdiri dekat dengan sopir mobil dan pengendara motor. Tak ada keterampilan atau modal yang disediakan, yang dibutuhkan hanya satu: kendel, berani.

Perkara tukang parkir ini rumit-rumit gampang. Saat belanja di supermarket atau di mana pun, kita tak ingin kendaraan hilang, tapi ya bakal jengkel juga kalau setiap datang ke minimarket sekadar ngambil duit di ATM ditagih seribu dua ribu. Belum kalau Anda datang ke daerah wisata atau konser musik, parkir bodong seenaknya menagih duit setinggi langgit. Diam-diam pengendara dan pemilik kendaraan menyimpan dendam.

Saya pribadi kerap dibikin jengkel dengan tukang parkir liar ini. Ingin marah, tapi kasihan. Dibiarkan, ya merajalela. Tapi, kalau hanya karena duit lima ribu seseorang mau dibunuh, tetap kurang ajar.

Saya belum pernah ketemu orang yang sejak kecil bercita-cita jadi tukang parkir. Mereka mengambil pekerjaan itu ya karena kepepet. Berbeda dengan dokter yang jelas butuh banyak duit dan juga akses pendidikan tinggi. Kalau sudah begini, mutu karakter oknum dokter ataupun tukang parkir yang mau ditembaknya nggak jauh-jauh amat kualitasnya, atau bahkan bisa jadi lebih baik si tukang parkir.

Di Jakarta lahan parkir bisa jadi ajang gladiator, orang saling bunuh dan saling menyakiti hanya untuk menguasai satu area. Tukang parkir kemudian mengalami demonisasi, dianggap preman yang cuma mau jatah keamanan. Tapi ya mbok dibaca serius, orang-orang ini adalah relik, sisa peradaban yang nggak bisa beradaptasi. Saat Ahok, Gubenur Jakarta kala itu, memberlakukan parkir berbayar, tukang parkir ini tersingkir, mereka mesti cari pekerjaan baru, menyebar ke tempat lain dan rebutan lahan orang, ya jelas akan ada gesekan baru.

Iklan

Ini kenapa teknologi juga nggak baik-baik amat. Orang sih mikir, kalau manusia kerjanya banyak sambat, akan diganti mesin, seperti profesi tukang parkir. Tapi, orang-orang yang tersingkir malah bikin masalah di tempat lain, ini yang nggak dipikir. Oleh karena itu pas Sandiaga Uno bikin rencana merekrut preman jadi tukang parkir, itu bagus kok. Memanusiakan manusia. Kalau kita bisa girang merekrut gelandangan atau tenaga sapu honorer jadi karyawan pembersih jalan, kenapa tak bisa memberlakukan hal serupa pada tukang parkir?

Atau jangan-jangan semua yang dibikin Ahok oke, Sandi jelek? Lha kok malah bahas itu lagi ….

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2017 oleh

Tags: ahokdokterjakartajuru parkirparkirpenembakansanditukang parkir
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Mie ayam bintang di Jakarta. MOJOK.CO
Kuliner

Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

29 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
Semifinal Kompetisi Basket Campus League musim perdana Regional Surabaya hujan skor. Universitas Surabaya (Ubaya) jadi raja Jawa Timur MOJOK.CO

Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”

29 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
pasar wiguna.MOJOK.CO

Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal

26 April 2026
Aksi tanam 100 pohon gayam di sekitar Candi Borobudur, Magelang. MOJOK.CO

Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur

23 April 2026
Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.