Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kenapa PNS Nggak Boleh Tatoan? Padahal Pengen Lihat JRX Pakai Seragam Khaki

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
21 Januari 2020
A A
pns nggak boleh tatoan jokowi menilai penampilan preman warisan orde lama soeharto suku mentawai sejarah tato jerinx JRX

pns nggak boleh tatoan jokowi menilai penampilan preman warisan orde lama soeharto suku mentawai sejarah tato jerinx JRX

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jokowi baru saja mengunggah sebuah konten grafis yang pesan moralnya: jangan menilai seseorang berdasakan penampilan. T-t-tapi kenapa masih ada lembaga pemerintah yang nggak ngebolehin calon PNS-nya tatoan?

Keren banget! Kontennya Jokowi keren. Terlepas dari apa pun motif tim PR dalam merilis konten komik tersebut, saya salut sih… sama gambarnya. Hanya saja berbagai hal jadi kontradiktif dengan pesan moral yang ada di dalamnya. Jokowi sebagai simbol pemerintahan memang mengajak kita nggak menilai seseorang dari penampilan. Sebuah pesan simpel yang dari dulu sudah ada idiomnya.

Dont judge a book by it’s cover.

Tapi lembaga pemerintahan justru secara nyata tidak mengimplikasikan apa-apa dari komik ini. Seorang netizen pun ngetwit pakai kalimat retoris yang mempertanyakan kenapa PNS nggak boleh tatoan.

Tapi kok tatoan ga bisa jadi pns pak???????? https://t.co/YAuEmkGLWN

— Saint Caoimhín of Glendalough (@PamanKevin) January 19, 2020

Tentu balasan twit di atas bikin lebih geli. Nggak sedikit yang membayangkan JRX atau Jerinx SID yang tubuhnya penuh tato jadi pegawai Kemenag. Bayangin drummer Superman is Dead itu jadi penghulu dan menikahkan orang.

[awww malu bnget]

Saya menduga kelucuan ini juga karena kita semua masih punya stigma yang sama pada orang bertato. Bahwa orang bertato itu rusuh, rebel, protesan, dan nakal. Sementara pegawai PNS itu cenderung kaku, tidak berdaya, dan boomer abis.

Sayangnya, stereotip itu terbilang ngawur. Pertama, nggak semua PNS cuma bisa main Zuma dan Onet. Beberapa di antara mereka merupakan millenial yang rajin kerja dan bisa PUBG. Kedua, nggak semua orang tatoan itu preman. Soal pandangan kita terhadap tato, ada sejarah panjang yang melatarbelakanginya.

Mulai tahun ini beberapa lembaga memang menghapus persyaratan PNS nggak boleh tatoan. Di antaranya Kemenpora, Kemenkeu, Kemlu, Kemendag, Kemenperin, dan Kemendagri. Namun beberapa lembaga seperti Kejaksaan Agung RI, BKN, BNPB, Perpustakaan Nasional, dan beberapa Pemprov masih memberlakukannya.

Berdasarkan laporan Tirto, Kepala Humas BNPB Agus Wibowo menjelaskan bahwa alasan lembaga tidak memperbolehkan tato adalah karena tato ditafsirkan sebagai sikap negatif dan perilaku tidak menghormati kebersihan badan. Sementara menurutnya, PNS adalah cerminan pemerintah yang bersih dan profesional.

(Tapi kata politisi juga punya konotasi negatif di masyarakat dan mereka bisa-bisa aja duduk di jabatan-jabatan tinggi lembaga pemerintah. Yeee kocak.)

Stereotip soal pakai tato = preman adalah warisan Orde Baru. Ada satu masa ketika preman dan kriminalitas diidentifikasi melalui tato dan ditembak secara rahasia (halo petrus). Dikutip dari Historia, mantan presiden Soeharto pernah mengatakan “Tato diasosiasikan dengan kejahatan… terlepas dari apa yang dilakukan atau niat orang itu” alias tato nggak diperbolehkan adalah harga mati.

Sampai akhirnya muncul persyaratan PNS nggak boleh tatoan. Peraturan ini juga dipertahankan selama belasan tahun yang mana dasarnya cuma stereotip. Pfft.

Iklan

Padahal jika merujuk pada sejarahnya, Suku Mentawai sudah merajah kulitnya untuk penanda identitas dan dianggap sebagai pakaian yang dilukiskan di sekujur tubuh. Suku ini sudah bertato sejak datang ke pantai barat Sumatera pada perkiraan 1500-500 SM. Hingga pada masa Orde Baru, tato kemudian dilarang dan penggunanya pun bisa dikenai hukuman.

Sekarang, tato makin trendi. Figur publik menganggap tato sebagai sebuah seni hiasan di tubuh, tidak jarang yang menggunakan tato sebagai pengikat komitmen dan pengingat. Hingga saat ini tato semakin mengalami normalilasi. Namun stereotipe masyarakat belum juga sembuh.

Saya tergelitik ketika menonton sebuah video random tentang seorang anak yang nge-prank orang tuanya. YouTuber yang bernama Dimas Zaenal ini nyaris dicoret dari KK karena menggunakan tato yang padahal tidak permanen. Kemarahan orang tua Dimas Zaenal adalah sejauh-jauh yang bisa saya bayangkan tentang respons orang tua saya andai saya juga tatoan.

Tato adalah sebuah hal yang netral, namun dimaknai sedemikian negatif karena memiliki sejarah begitu kelam. Saya jadi menyadari kalau menjelaskan rentetan perjalanan PNS nggak boleh tatoan itu harus sepanjang artikel ini, bagaimana saya menjelaskan ke orang tua dan orang yang boomer sejak dalam pikiran andai saya tatoan?

Untungnya saya belum pernah punya alasan untuk benar-benar tatoan. Bukan karena takut sakit, tapi memang nggak punya alasan. Sebaliknya saya justru punya alasan untuk nggak tatoan: my body, my Lamborghini. Nggak ada orang yang rela Lamborghininya dicoret-coret kan?

Di sisi lain saya juga mantap menetralkan anggapan soal orang tatoan. Yang negatif itu perilakunya, bukan dari bagaimana seseorang merajah tubuhnya dengan tato. Sama seperti pesan unggahan Pak Jokowi kan? Mendingan stereotip semacam ini ditekan kalau ingin menilai seseorang secara objektif.

Tapi peraturan PNS nggak boleh tatoan tetap ra mashook.

BACA JUGA Mungkin Kebawa Kultur Startup, Nadiem Makarim Malah Ngerjain Kerjaan Kominfo atau artikel lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 24 September 2025 oleh

Tags: CpnsjokowiPNSTato
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
Pojokan

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

28 April 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Urban

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO
Urban

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS
Sehari-hari

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Arta Wahana, pensiunan UGM isi waktu dengan berkebun selada (dok. UGM)

35 Tahun Mengabdikan Diri di UGM, Kini Pilih Budidaya Selada Hidroponik Malah Hasilkan Omzet Harian Rp750 Ribu

3 Mei 2026
Perburuan burung kicau untuk penuhi pasar skena kicau mania tinggi, ternyata bisa ancam manusia dan bumi MOJOK.CO

Perburuan Burung Kicau untuk Penuhi Skena Kicau Mania Tinggi: Jawa Jadi Pasar Besar, Bisa Ancam Manusia dan Bumi

2 Mei 2026
Mie ayam bintang di Jakarta. MOJOK.CO

Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

29 April 2026
Penumpang KRL Jakarta lebih manusiawi dibanding penumpang KRL/Commuter Line Jogja

KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja

4 Mei 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.