Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kalau Tik Tok Goblok, Memangnya Instagram dan Twitter Nggak?

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
4 Juli 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kok seenaknya saja menyebut Tik Tok goblok? Memangnya kamu pikir medsos lainnya jenius semua? Kamu yakin mereka bukan aplikasi goblok serupa?

Hai, nama saya Tik Tok. Saya kira semua orang mencintai saya, sampai suatu hari saya tiba-tiba diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika di Indonesia.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, alasan diblokirnya saya hanya satu, tapi berdampak luar biasa besar: saya mengandung banyak konten negatif, terutama bagi anak-anak. Berbagai pelanggaran dan pengaduan yang masuk ke pihak Kominfo juga mendasari keputusan ini.

Sebelum ramai berita pemblokiran, saya sendiri telah dihina sebagai aplikasi yang identik dengan kebodohan. Aplikasi goblok, Tik Tok goblok, begitu katanya.

Entah siapa yang memulai, tapi rasanya sakit, tahu nggak????!!!

Saya lahir dengan kelebihan yang mungkin tidak dimiliki Facebook, Twitter, Path, atau Instagram. Mirip-mirip dengan Snapchat dan Instagram Story, saya memiliki efek tambahan dan filter saat digunakan untuk merekam video. Malah, saya menawarkan yang lebih menarik: pengguna bisa menambahkan musik dan beraksi lypsinc ala Sinta dan Jojo, serta terlihat lebih mulus dan lebih tirus—semuanya dalam 5 level berbeda!

Yang menjadi masalah, lama-lama lahirlah pengguna Tik Tok goblok yang hadir dengan sangat annoying—bergoyang-goyang tak tahu arah, tak kenal tempat, bahkan tak kenal situasi. Memang, ada yang nge-dance di ruang latihan, eh tapi ada juga yang malah nyanyi-nyanyi di depan jenazah kakeknya dan juga berjoged di…

…masjid.

Sayangnya, meski si pemilik akun joged-joged dengan mukena itu dihujat, saya juga ikut dibantai. Padahal, salah saya apa, sih? Saya kan memberi fasilitas yang sama untuk semua pengguna. Keputusan bagaimana fasilitas saya dipakai adalah pilihan bebas oleh seluruh pengguna seutuhnya.

Lagi pula, FYI aja, Tik Tok goblok ini nggak beda-beda banget sama media sosial lain. Nggak percaya?

Banyak orang menghina-hina saya karena ada banyak orang alay di Tik Tok. Penggemarnya pun banyak, meski isi konten yang ditawarkan sama sekali tak mendidik.

Loh, loh, memangnya hal ini tidak kamu temukan juga di Instagram? Selebgram-selebgram yang bergaya jauh dari usia seharusnya, berpose seksi, hingga akun fitnah, hoaks, dan penyebar kebencian—ada berapa banyak di Instagram?

Sebagai pengingat, akun-akun tanpa nama di Instagram pun bertebaran; tanpa foto profil, tanpa mengunggah apa pun, mem-follow banyak akun gosip dan artis, lalu menebar komen-komen buruk seenaknya tanpa pandang bulu. Kejam!

Bukan cuma itu saja: Instagram pun memantik pertikaian melalui fitur-fiturnya. Yang terbaru, ia merilis fitur stiker Ask me a question yang menimbulkan dua kubu berlawanan di antara penggunanya. Belum lagi, IGTV yang dimilikinya tampak tak lebih dari semacam Instagram Story versi panjang yang mengganggu~

Iklan

Nah, kenapa sih sikap-sikap Instagram ini malah tak membuatnya dinobatkan sebagai aplikasi goblok yang sesungguhnya?

Harus diakui, beberapa video yang lahir dari diri saya—Tik Tok—memang cukup bikin geleng-geleng kepala karena tidak berfaedah. Tapi, apakah selfie-selfie yang kamu unggah di Path sambil nge-tag lokasi yang berupa kafe mewah dan mahal itu berfaedah? Kenapa pula kita harus tahu kapan kamu tidur dan kapan kamu bangun?

Saya juga disebut memiliki banyak konten negatif. Hal ini tidak bisa saya bantah, tapi setidaknya bisa saya tambahkan: Kominfo pernah mencatat adanya 524.834 akun berisi konten negatif yang ditemukan dari 11 media sosial yang ada di Indonesia.

Nah, coba tebak, platform mana yang punya paling banyak akun negatif?

Iya, benar: Twitter!

Dengan 521.530 akun bermuatan negatif yang dimiliki Twitter, kenapa Twitter tidak repot-repot disebut sebagai aplikasi goblok? Apakah karena Twitter tidak berakhiran “-ok” seperti saya sehingga tidak berima?

Jangan lupakan lestarinya SJW yang kerap berujung debat kusir di Twitter. Saling rayu dan menghujat pun dilakukan sampai ke pesan pribadi di sana. Yang tak kalah fenomenal, pengguna Twitter menulis apa pun yang mereka anggap menarik hanya demi mendapat retweet ribuan.

Yah, di Twitter, orang-orangnya dikit-dikit bikin thread. Bahkan, bohong-bohong dikit pun dilakoni demi bahan cuitan yang menarik engagement. Hadeeeh~

Well, hal ini adalah suatu ketidakadilan yang membuat saya bingung dan galau sendirian. Hingga pada akhirnya, di suatu hari yang cerah, saya melakukan introspeksi diri. Saya melakukan scroll di sepanjang laman utama saya.

Di titik tertentu, saya menemukan sebuah unggahan video dengan caption yang tidak asing kita temui di platform lainnya, termasuk Instagram, Twitter, hingga Facebook yang isinya bapak-bapak dan ibu-ibu:

“LIKE dan COMMENT ‘AMIN’ di sini supaya kamu masuk surga. Jika diabaikan, ibumu akan masuk NERAKA!!!”

Iseng, saya menyelami diri sendiri dan melihat komentar yang masuk. Total, ada 5 ribuan komen yang isinya sama: “AMIIIIINNNN!!!”

Iya, ini saya nggak bercanda.

Mendadak, saya sakit kepala ibarat di-tetew mendadak. Kayaknya, yang goblok bukan hanya saya, melainkan seluruh platform media sosial di dunia ini.

Yang lebih goblok lagi, masih ada saja orang yang memakai jasa-jasa kami.

Terakhir diperbarui pada 5 Juli 2018 oleh

Tags: aplikasi goblokBlokirdiblokirKominfomedia sosialRudiantaratik tok
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Anomali pengunjung toko buku sekarang bukan baca, malah foto
Sehari-hari

Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elite, Beli Buku Sulit

11 Februari 2026
Gawai adalah Candu: Cerita Mereka yang Mengalami Brain Rot karena Terlalu Banyak Menonton Konten TikTok.MOJOK.CO
Fragmen

Gawai adalah Candu: Cerita Mereka yang Mengalami Pembusukan Otak karena Terlalu Banyak Menonton Konten TikTok

3 Juli 2025
mahasiswa unair surabaya.MOJOK.CO
Kabar

Pelamar Beasiswa Pendidikan Indonesia Kemendikbudristek Terlunta-lunta Dikhianati Hasil Seleksi

23 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.