Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Dear Jokowi dan Erick Thohir, Menyerang Adalah Pertahanan Terbaik Hanya Ada di Sepak Bola

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
14 Desember 2018
A A
Jokowi dan Erick Thohir MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Benarkah kubu Jokowi akan lebih ofensif? Apakah instruksi Erick Thohir untuk lebih menyerang benar adanya atau sekadar asap pengalih perhatian?

Aroma perubahan taktik mulai tercium dari pihak Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin. Lantaran terus-menerus digaprak oleh kubu Prabowo dan Sandiaga Uno, pihak petahanan tidak akan lagi bermain bertahan. Sang petahana mulai akan bergerak, lebih ofensif, lebih galak merespons segala serangan dari pihak oposisi.

Arenanya adalah workshop internal Bidang Hukum dan Advokasi Tim Kampanye Nasional (TKN) dan Tim Kampanye Daerah (TKD) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, ketika Ketua TKN, Erick Thohir, memberi arahan dengan narasi yang betul-betul berbeda.

Mantan Presiden Inter Milan tersebut meminta timses Jokowi-Ma’ruf Amin untuk bersikap lebih ofensif untuk menanggapi segala serangan dari pihak oposisi. Menurut Erick Thohir, paslon nomor satu sampai saat ini lebih sering bermain bertahan. Saking seringnya bertahan, banyak berita miring yang menerpa pasangan Jokowi dan Ma’ruf. Maka, tidak ada pilihan lain selain menyerang.

“Karena kemarin kita selalu diserang, bahkan ada kampanye PKI segala, ya mau tidak mau kita lebih ofensif sekarang,” Erick Thohir memberikan instruksi. Perubahan sikap dan taktik ini mendapatkan tanggapan yang beragam. Tentu saja, akan aneh kalau pihak Prabowo dan Sandiaga tidak urun nyinyiran.

Dahnil Anzar, Jubir BPN Prabowo-Sandi justru sangat heran dengan sikap kubu petahana yang baru akan mulai ofensif. Di matanya, sejak awal justru pihak petahana yang bermain menyerang.

“Bukannya sebaliknya? Kami diserang dengan menggunakan narasi-narasi stigma uneducated seperti sontoloyo, genderuwo, anti-Pancasila, intoleran, dan lain-lain. Bahkan tidak jarang menggunakan aparatur negara, baik hukum maupun aparatur sipil seperti kepala daerah di mana secara demonstratif menunjukkan sikap yang sangat tidak adil. Ketidakadilan dipertontonkan secara vulgar,” ungkap Dahnil, yang nampaknya cukup tersakiti dengan serangan pihak petahana.

Di satu sisi, nampaknya Dahnil lupa dengan latar belakang Jokowi menciptakan istilah “politikus sontoloyo”, “politik genderuwo”, dan “tabok”. Yah, seperti layaknya politikus, kok seperti punya penyakit lupa kambuhan. Gara-gara pergaulan yang salah, nih? Semoga enggak.

Tapi, di satu sisi, ungkapan Dahnil Yang Tersakiti ini ada benarnya bahwa kubu Jokowi sudah mulai menyerang bahkan ketika mereka tidak sadar sudah melakukannya.

Perubahan taktik dengan lebih menyerang juga mendapatkan tanggapan dari Rico Marbun, pengamat politik dari lembaga survei Median. Rico berpendapat bahwa perubahan taktik ini bikin beliau khawatir karena menjadi sinyal kekalutan dari kubu Jokowi dan Ma’ruf Amin. Di satu sisi, saya setuju dengan Rico, bahwa bermain ofensif bisa sangat berbahaya, terutama di kontestasi politik.

Berbahaya? Dari yang terlihat di permukaan, jika ofensif, maka pertahanan Jokowi dan Ma’ruf Amin justru lebih mudah terekspose oleh serangan balik Prabowo dan Sandiaga. Seperti situasi sepak bola, ketika menyerang, sebuah tim pasti menggunakan lebih banyak pemain dibandingkan ketika bertahan. Dan citra, adalah segalanya di politik. Citra yang tercoreng karena lebih agresif bisa susah diperbaiki.

Jadi, dear Jokowi dan Erick Thohir, percayalah, istilah “menyerang adalah pertahanan terbaik” hanya hidup di dunia sepak bola.

Kecuali….

Kecuali instruksi Erick Thohir ini hanyalah kamuflase untuk menyembunyikan taktik sebenarnya. Seperti mengupas bawang, inti taktik kubu petahana coba di-cover lewat sebuah tipuan. Sepak bola mengenal istilah pressing trap atau jebakan pressing, di mana sebuah tim dipaksa menyerang dari satu titik saja, untuk kemudian diredam secara paripurna. Atletico Madrid dan Liverpool adalah tim yang fasih melakukan jebakan pressing ini.

Iklan

Apa alasannya?

Pertama, citra Jokowi sebagai “orang yang teraniaya” oleh serangan oposisi sedikit banyak membantu publik menjadi lebih menyukainya. Posisi ini sangat strategis untuk melakukan serangan balik. Misalnya ketika muncul istilah “sontoloyo” atau “genderuwo”. Dua istilah itu sangat akurat menyerang kubu oposisi. Sukses memberikan gambaran bahwa pihak oposisi memang jahat dan menyerang secara serampangan.

Kedua, menyitir pendapat Rico Marbun, Jokowi unggul di banyak hal, terutama dari sisi formasi variabel pemenangan. Antara lain, pertama, kerja Jokowi adalah nilai jual ciamik yang sudah punya coverage pemberitaan penuh. Kedua, formasi kepala daerah dengan jumlah pemilih besar; Jateng, Jabar, Jatim jelas berpihak ke Jokowi. Ketiga, Ma’ruf Amin punya keterikatan dengan salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia: NU. Keempat, tokoh-tokoh yang dekat dengan media banyak berpihak kepada Jokowi.

Melihat paparan di atas, beralih ke mode menyerang justru merugikan petahana. Oleh sebab itu, berubah lebih ofensif agak tidak masuk akal. Kubu petahanan terlalu pintar untuk memilih taktik yang justru merugikan mereka sendiri kecuali memang punya target besar yang masih tersembunyi.

Jika menggunakan analogi sepak bola, yang dilakukan Erick Thohir adalah gameplay yang disebut juego de posicion atau positional play, atau permainan posisi. Gameplay ini dipopulerkan oleh Pep Guardiola yang diterjemahkan secara serampangan oleh media menjadi: tiki-taka.

Pemainan posisi adalah taktik menyerang dengan memanfaatkan penguasaan bola dan pemosisian pemain. Intinya adalah: mengeksploitasi satu sisi, untuk kemudian “membunuh lawan” dari sisi yang berbeda.

Misalnya Barcelona era Pep Guardiola, yang banyak menyerang dari sisi kanan pertahanan lawan lewat kombinasi umpan-umpan pendek. Ketika pertahanan lawan menjadi fokus dan berat ke sebelah kanan, tiba-tiba Barcelona mengubah arah serangan ke sisi kiri menggunakan umpan diagonal. Pemain bebas di sisi kiri tinggal mengeksekusi bola menjadi gol.

Yang dilakukan Erick Thohir adalah satu hal yang mirip. Ia mencoba menggiring oposisi ke satu sisi, untuk kemudian melakukan tusukan dari sisi sebaliknya ketika lawan lengah dan terbawa oleh gameplay petahana. Latar belakang sebagai mantan presiden klub sepak bola bisa jadi memengaruhi taktik Thohir.

Ingat, lewat gameplay yang nampak sederhana ini, Guardiola dan Barcelona menguasai dunia, bahkan memenangi enam piala dalam satu tahun kalender.

Jika di belakang Prabowo dicurigai ada penasehat politik Donald Trump, jangan-jangan di belakang Jokowi ada Guardiola. Hmm…. (ra) masyoook!

Terakhir diperbarui pada 14 Desember 2018 oleh

Tags: Erick ThohirjokowiPilpres 2019prabowo
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.