• 18
    Shares

MOJOK.COBenarkah Jokowi lebih offensive ketimbang Pilpres 2014? Padahal, sebetulnya, beliau bermain “agak” bertahan, bersenjatakan gegenpressing.

Terlihat sebuah perubahan dari cara Jokowi merespons serangan lawan jika membandingkan Pilpres 2014 dengan Pilpres 2019. Pilpres 2014, ketika berpasangan dengan Jusuf Kalla, mantan Gubernur DKI tersebut lebih santun dan dingin. Namun, ketika Pilpres 2019, beliau lebih robust atau agak kasar. Beliau dipandang lebih offensive. Benarkah demikian?

Saya sih tidak sepenuhnya setuju dengan penggunaan diksi “menyerang”. Yang dilakukan Jokowi bukan menyerang atau pressing lawan secara sengaja, tetapi respons terhadap gameplay lawan di Pilpres 2019. Jadi, menggunakan analogi di sepak bola, yang dilakukan Jokowi adalah gegenpressing, bukan pressing semata.

Pressing atau menekan lawan, memang identik dengan sebuah tim yang gemar menyarang. Sejak awal, sang pelatih punya ide untuk menyerang. Biasanya dipicu situasi unggul materi tim dan kualitas pemain. Nah, yang dilakukan oleh Jokowi, lewat diksi sontoloyo, genderuwo, dan tabok adalah perkara respons. Sebuah gegenpressing merespons serangan balik lawan.

Serangan balik? Sebagai petahana, kampanye yang dilakukan biasanya bernada positif, berisi paparan kelebihan dan pencapaian selama menjabat. Kampanye (pencapaian) itu lantas di-counter, atau diserangbalik oleh kubu lawan, dalam hal ini Prabowo dan Sandiaga Uno. Lantaran serangan balik dari kubu lawan cukup keras, yang dipilih Jokowi juga cara bermain yang “keras”. Gegenpressing.

Apa itu gegenpressing?

Untuk memahaminya, kita harus berkenalan dengan tiga fase sepak bola, yaitu menyerang, bertahan, dan transisi. Fase transisi dapat berupa transisi bertahan ke menyerang atau sebaliknya.

Jose Mourinho pernah menyatakan bahwa fase transisi merupakan fase paling krusial. Mengapa? Karena pada fase ini, umumnya, struktur pemosisian pemain suatu tim sedang tidak terorganisir. Maka, tim yang dapat memanfaatkan situasi ini dengan lebih baik memiliki keuntungan atas lawannya.

Berdasarkan siklus di atas, ketika kehilangan bola, suatu tim harus melewati fase transisi bertahan sebelum masuk ke situasi bertahan terorganisir. Setelah kembali berhasil mendapatkan bola, mereka akan kembali lewat fase transisi sebelum bisa mencapai fase mengusasi bola secara terorganisir.

Baca juga:  Al-Fatihah ala Jokowi dan Ribetnya Ragam Dialek Bahasa Arab

Apa yang terjadi ketika kamu berhasil memotong siklus di atas, di mana ketika kita kehilangan bola tidak perlu masuk ke fase bertahan dan secepat mungkin kembali berada pada fase menyerang? Inilah kegunaan gegenpressing.

Penerapannya sederhana. Ketika kehilangan bola, maka tim kamu harus segera merebutnya kembali. Mengapa? Pertama, tentu kamu tak ingin para pemain menempuh jarak yang jauh ketika berada pada fase transisi. Kedua, mencegah serangan balik lawan. Lewat penerapan gegenpressing, kamu bakal menghambat serangan balik lawan.

Apa keuntungan gegenpressing?

Pertama, karena serangan balik lawan patah dengan cepat, pemosisian pemain mereka akan kacau. Tentu lebih mudah menyerang pertahanan lawan yang kacau ketimbang yang terorganisasi dengan baik.

Kedua, merebut bola secepat mungkin lewat gegenpressing, memungkinkan tim kamu berada lebih dekat dengan gawang. Kalau mau bikin gol, tentunya lebih enak kalau dekat gawang lawan.

Mempertimbangkan serangan balik kubu Prabowo dan Sandiaga Uno yang keras dan terkadang, maaf, konyol, Jokowi memilih gegenpressing. Menyerang ketika bola terebut, dan secepat mungkin melakukan “serangan kepada serangan balik lawan”.

Ketika berhasil dilakukan, analogi-analogi Jokowi membuat kubu lawan kesulitan merespons karena tepat sasaran. Jawaban dari kubu lawan yang berupa puisi atau mencoba membalikkan “tuduhan” terasa kering dan tidak kreatif.

Yang dilakukan Jokowi adalah sebuah respons. Beliau tidak merencanakan akan bilang sontoloyo, genderuwo, atau tabok sejak jauh-jauh hari, atau sebelum rame-rame Pilpres 2019 mulai muncul. Jadi, bisa dibilang, Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin sebetulnya bermain bertahan. Namun, keduanya bertahan dengan garis pertahanan yang tinggi sehingga lebih enak melakukan gegenpressing karena dekat dengan gawang lawan.

Pada Pilpres 2014 yang lalu, ketika hoaks “Obor Rakyat” begitu menyita energi dan perhatian, Jokowi merespons secara elegan. Dilansir oleh Kompas, tanggal 16 Juni 2014, capres yang bernama lengkap Joko Widodo tersebut mengungkapkan bahwa:

“Bebas (terkait kebebasan pers), tapi tidak bisa semaunya seperti itu karena ada aturan, regulasi. Kalau sudah menabrak undang-undang, itu pidana. Boleh berpendapat apa saja, silakan. Namun, kalau sudah fitnah, ya balik lagi ke situ (pidana).”

Baca juga:  Pidato Ekonomi Jokowi Soal Avenger dan Dicibir Gerindra Itu Analogi yang Milenial Butuhkan

Diksi yang beliau gunakan masih sangat wajar, datar, dan cenderung menjaga citra. Mengapa? Karena serangan-serangan dari kubu lawan memang masih bisa di-counter secara “adem”. Nah, kenapa sekarang berubah?

Perlu diakui, saat ini, perang diksi dalam narasi kampanye sudah semakin keras, bahkan liar. Celakanya, masyarakat lebih mudah memahami nada-nada provokasi, ketimbang paparan data yang dipandang jelimet dan menghabiskan waktu lebih banyak ketika membacanya. Masyarakat cenderung lebih suka, tentu tidak semua, dengan makian-makian seperti “kafir”, “antek PKI”, aseng/asing”, dan lain sebagainya yang bikin kampanye Pilpres 2019 makin runyam.

Oleh sebab itu, ketika kubu Prabowo menyerang balik kampanye petahana dengan narasi Indonesia akan bubar tahun 2030, 99 persen rakyat hidup susah, 50 ribu nggak bisa buat beli apa-apa, Jokowi menggunakan gegenpressing yang robust. Sudah hampir mirip gegenpressing Jurgen Klopp. Keras!

Ketika rakyat ditakut-takuti, beliau menggunakan analogi “politik genderuwo”. Ketika dihantam dengan hoaks, diksi “tabok” yang dipakai. Analogi itu tepat sasaran. Keras, karena begitulah kesukaan netizen maha benar saat ini. Ketika data yang dipaparkan, yang dicari tetap sensasi, kontroversi. Lantas, kalau sudah begitu, kenapa tidak dimanfaatkan sekalian? Toh, pesan yang dibalut dengan “keras” itu tersampaikan.

Banyak yang mengkritik penggunaan serangan yang keras akan berdampak kepada citra capres dan cawapres nomor satu. Saya kira tidak sepenuhnya benar. Terkadang, yang keras, memang harus dibalas dengan keras. Meski memang, dampak ke dalam situasi kontestasi politik tidak terlalu bagus. Kalau yang diterima saat ini adalah yang keras-keras, mau bagaimana lagi? Toh diksi yang dipilih tetap mampu bikin senyum tersungging ketika membacanya.

Pada akhirnya, bagi saya, Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin bermain bertahan. Sekali lagi, mereka bertahan, namun dengan garis pertahanan tinggi dan kompaksi yang terjaga.

Kalau kamu bilang ini aksi offensive ya nggak apa-apa. Siapa tahu memang kubu petahana yakin unggul materi pemain dan kualitas tim. Atau bahkan, yakin akan menang telak di 2019 nanti. Wallahualam

  • 18
    Shares


Loading...



No more articles