Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Evolusi Gaya Chat dari Masa ke Masa: Dulu SMS, Sekarang Voice Note

Haris Firmansyah oleh Haris Firmansyah
23 November 2019
A A
gaya chat sms bbm mojok.co

gaya chat sms bbm mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Platformnya berubah, gaya chat juga berubah. Yang dulu keren, sekarang dianggap alay. Gitu terus.

Gaya masyarakat dalam bertukar pesan terus berubah seiring perkembangan zaman. Dari mulai surat via pos sampai surat elektronik. Kemudian kemunculan hape mengubah gaya perpesanan masyarakat semakin instan. Pesan bisa dibalas saat itu juga.

Sejak itulah pengguna fitur perpesanan jadi banyak gaya. Sebab setiap gaya ada masanya, dan setiap masa ada gayanya.

Gaya chat di era SMS

Saat aplikasi pesan instan belum sepopuler sekarang, SMS adalah jasa yang dipakai orang-orang untuk bertukar pesan. Tarifnya lumayan mahal kala itu. Sudah begitu, jumlah karakter ketikannya terbatas.

Tak heran pada masanya pengguna SMS siasati keterbatasan itu dengan menyingkat kata. Ditambah ada kartu seluler yang mengenakan tarif SMS per huruf. Makin singkat, makin hemat.

Mau bilang “Aku” disingkat jadi “Q”, “lo” jadi “L”, dan ucapan salam jadi cuma “Ass”. Belum apa-apa udah ngajak ribut karena bilang ‘pantat’ dalam bahasa Inggris.

Umumnya, hape yang digunakan saat itu masih pakai keypad dua belas tombol (di luar tombol navigasi). Kalau mau memunculkan huruf C pada layar, mesti menekan tombol 2 sebanyak tiga kali.

Anak muda yang gesit tentunya ingin segala sesuatunya cepat. Sementara proses pergantian huruf dari A ke B mayan makan waktu. Maka, selesai mengetik satu huruf, ia ubah mode capslock, lalu mengetik huruf berikutnya. Akibatnya, hasil ketikan jadi gede-kecil seperti bukan kaum terpelajar yang paham penggunaan huruf kecil dan huruf kapital.

Gaya chat di era aplikasi chat

Gaya ketikan mulai membaik seiring hadirnya keypad qwerty yang dimotori BlackBerry. Kini, satu huruf punya satu tombolnya sendiri. Tarif SMS masih belum murah, tapi bisa beralih ke aplikasi pesan instan bawaan hape. Tak ada alasan untuk menyingkat kata dan memakai huruf besar-kecil secara asal. Soalnya itu alay.

Jika SMS mesti mengetikkan BLS GPL (balas nggak pakai lama) di akhir pesan, BBM (Blackberry Messenger) memudahkan pengguna untuk mendesak balasan dengan fitur PING!. Lalu PING disingkat jadi cuma P. Tapi P di sini diulang beberapa kali sampai penerima merespons.

Selain BBM, banyak alternatif fitur chat lain seperti WeChat, KakaoTalk, dan LINE. Sebelumnya ada mig33, Mirc, dan Yahoo! Messenger. Ketika berkenalan dengan strangers di room chat lawas itu biasanya diawali dengan ASL PLS (age, sex, location, please). Ya, menanyakan umur, jenis kelamin, dan domisili. Yang nantinya jadi tidak relevan lagi ketika datang masa jayanya media sosial.

Gaya chat di era media sosial

Media sosial memuat informasi pribadi penggunanya. Jadi, yang mau kenalan sama orang tinggal menambahkannya jadi daftar teman. Lalu mulai berbincang-bincang dengan gaya bahasa kiwari.

Pada masanya, kita menggunakan kata kamseupay, ciyus miapah, atau cemungut eaaaa qaqa. Tapi jangan digunakan untuk sekarang karena itu sudah ketinggalan zaman.

Kita dituntut update gaya bahasa yang tren di media sosial. Seperti kata kerad sebagai plesetan kata keras. Santai jadi santuy. Slow jadi woles. Ada juga istilah nolep yang artinya no life untuk menggambarkan seseorang yang hidup tanpa meninggalkan rumah.

Iklan

Media sosial banyak melahirkan kata dan istilah baru. Sebagian kata menghilang dari peredaran, sebagian lagi bertahan dan tetap relevan. Seperti kata kepo dan lebay. Ya karena sampai sekarang memang mayoritas netizen masih kepo dan lebay.

Gaya chat di era revolusi industri 4.0

Di era ini, teknologi perpesanan tidak hanya digunakan untuk ajang silaturahim, melainkan untuk berniaga. Chatting pun bisa dilakukan di aplikasi marketplace dan ojek online. Grup chat jadi tempat koordinasi urusan pekerjaan.

Di internet, pengguna aplikasi saling menyapa dengan sapaan “Gan” atau “Sis”. Tanda mereka terlibat dalam hubungan bisnis e-commerce. Bisa juga namanya memang Gandi dan Siska.

Aplikasi digunakan jika ada faedah dari fitur-fiturnya. Sudah begitu ada yang namanya pesan otomatis dan voice note. Jadi, tidak perlu repot mengetik. Contohnya, di grup komunitas driver taksi online, mereka menggunakan grup WhatsApp untuk berbalas voice note. Jadi histori chat di grup WA isinya voice note semua. Soalnya tangan mereka sibuk nyetir.

BACA JUGA Hey Customer Ojol, Driver Grab dan Gojek Itu Bukan Babu! atau ulasan lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 23 November 2019 oleh

Tags: bbmgaya chatSMSvoice note
Haris Firmansyah

Haris Firmansyah

Pegawai Bank Ibukota. Selain suka ngitung uang juga suka ngitung kata.

Artikel Terkait

Pertamax Turbo Naik, Curiga Pertamax dan Pertalite Langka Stres
Pojokan

Kata Siapa Pemakai Pertamax Turbo Nggak Ngamuk Melihat Kenaikan Harga? Saya Juga Stres karena Curiga Pertamax dan Pertalite Akan Jadi Barang Langka

19 April 2026
PNS tetap WFO saat WFH
Sehari-hari

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Perbandingan BBM di SPBU, Pertalite dan Pertamax
Sehari-hari

Anak Muda Isi BBM Tergantung Antrean SPBU: Pertalite-Pertamax Dianggap Sama, padahal Terbiasa Buru-buru dan “Buta” Kualitas

4 Maret 2026
Pertamina MOJOK.CO
Ekonomi

Sambut Libur Nataru di DIY, Pertamina Siagakan Motorist

20 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Romantisasi bunuh diri di Jembatan Cangar Mojokerto harus dihentikan MOJOK.CO

Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi

24 April 2026
Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa

Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet

29 April 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

WNI Jadi Guru di Luar Negeri Dapat Gaji 2 Digit, Pulang ke Indonesia Malah Sulit Kerja

23 April 2026
kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.