Ada sebuah akun X, sudah pasti anonim, menyemburkan opini busuk. Dia mempertanyakan ke mana pengguna Pertamax Turbo yang katanya orang kaya. Sudah begitu, dia juga menyebut yang malah ngamuk di media sosial justru pengguna Pertamax dan Pertalite.
Pertama, saya bukan orang kaya. Saya menggunakan Pertamax Turbo semata karena Vario 160 yang saya pakai cocok dengan Ron 98. Sekali lagi, saya bukan orang kaya. Puji Tuhan saya masih bisa membeli bensin dengan Ron tinggi demi kenyamanan berkendara. Lantas, apakah saya nggak ngamuk melihat kenaikan harga ini?
Kedua, ya jelas ngamuk, lah. Harga Pertamax Turbo dari Rp13 ribuan melonjak ke Rp19 ribuan. Naiknya saja sudah 51% sendiri. Jelas, saya ngamuk. Namun, apakah saya harus menunjukkan kemarahan itu ke media sosial? Ngapain. Lagian, ngamuk ke pemerintah yang tuli hati itu nggak ada gunanya.
Ketiga, saya mendukung pengguna Pertamax dan Pertalite untuk ngamuk juga. Kenapa begitu? Ada dua alasannya. Poin 3.1: Saya resah, bahkan sampai agak stres juga memikirkan kalau Pertamax dan Pertalite kelak akan langka. Iya, dong. Saya yakin pembaca punya keresahan yang sama melihat semakin banyak orang busuk di negara ini.
Poin 3.2: Kenaikan harga bahan bakar, pasti melahirkan efek domino. Misalnya, pengguna Pertamax Turbo sampai beralih ke Pertalite. Otomatis, permintaan Pertalite pasti akan naik. Di momen itulah, orang bisa saja menimbun. Sudah begitu, harga bahan bakar untuk ekspedisi atau pengiriman barang juga naik. Sudah pasti, harga-harga terkait pasti akan naik.
Momen isu Pertamax Turbo, Pertamax, dan Pertalite yang bikin stres
Sebelum harga Pertamax Turbo naik, kawan saya mengabarkan ada kebutuhan lain yang harganya naik. Yang dia maksud adalah harga minyak goreng. Coba saja searching dengan kata kunci “harga minyak goreng naik atau tidak”. Kamu akan menemukan banyak berita terkait isu ini.
Memang, kenaikan harga minyak goreng tidak (atau belum berkaitan) dengan kenaikan harga Pertamax Turbo. Ia juga belum ada kaitannya dengan isu kemarahan pengguna Pertamax dan Pertalite. Harga minyak goreng naik menyusul naiknya harga plastik menyusul krisis di Timur Tengah.
Satu lagi. Bulan Mei dan Juni adalah momen orang tua bayar sekolah. Bayarnya masih Juni, tapi saya yakin pusingnya sudah ada sejak Februari.
Yang ingin saya bilang adalah, kenaikan harga Pertamax Turbo dan mengamuknya pengguna Pertamax dan Pertalite ini sungguh bikin stres. Kombinasi kenaikan dua kebutuhan dasar; minyak goreng dan bahan bakar, pasti akan melahirkan sesuatu. Apa itu kawan-kawan? Yak, efek domino.
Makanya, saya pengin bilang ke akun X brengsek tadi bahwa kemarahan pengguna Pertamax Turbo dan Pertalite ketika yang naik “baru” Pertamax Turbo adalah valid. Meski Bahlil bilang BBM subsidi baru akan naik di tahun depan, siapa yang bisa menjamin janji itu ditepati? Apa yang terjadi kalau krisis di Timur Tengah makin runyam?
Wong nggak ada krisis saja, kalau harga BBM naik, pasti terjadi gejolak. Apalagi yang subsidi, kelak. Rasa cemas itu nyata. Kita nggak usah munafik, lah.
BACA JUGA: Kenaikan Harga Pertamax Turbo Tak Akan Timbulkan Gejolak Ekonomi
Rasa cemas yang berubah jadi tumpukan stres
Jujur saya, saya sudah skeptis dengan banyak manusia di Indonesia ini. Siapa yang bisa menjamin kalau tidak ada penimbunan Pertamax dan Pertalite ketika harga Pertamax Turbo barusan naik? Apakah saya yang terlalu negatif? Ah, jangan munafik. Akui saja bahwa rasa cemas itu nyata.
Kata orang, chaos is a ladder. Ketika terjadi kelangkaan Pertamax dan Pertalite kelak, sudah otomatis orang terpaksa membeli Pertamax Turbo. Yang menimbun, akan dapat “ladder” menuju kekayaan secara instan. Sudah lazim yang seperti itu terjadi. Dan bisa jadi, produk BBM “perusahaan lain” akan dipersulit untuk sampai ke rakyat.
Apalagi, salah satu sifat dasar manusia adalah homo homini lupus atau ‘manusia adalah serigala bagi manusia lainnya’. Nggak heran kalau ada manusia akan makan sesama. Padahal, dulu pernah dibantu. Tapi tetap saja dimakan demi keselamatan diri sendiri. Manusia suci itu tidak ada. Yang tersisa adalah siapa suka makan bangkai sesamanya.
Saya tidak akan menutup tulisan ini dengan manis kata. Tulisan ini akan berakhir dengan sebuah peringatan. Jaga tingkat stres Anda. Banyaklah berdoa dan berusaha. Situasi masih bisa berubah dengan cepat dan semakin buruk. Kemarahan rakyat terkait isu Pertamax Turbo hingga Pertalite itu nyata.
Kami sudah tahu efek domino yang kelak terjadi dan kami resah….
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kenaikan Harga BBM di Indonesia dari Soeharto hingga Era Joko Widodo dan kemarahan lainnya di rubrik POJOKAN.














