Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

SPBU Diserbu: Isu Stok BBM 20 Hari Bikin Panik Menjadi Wujud Buruknya Komunikasi Pemerintah dan Publik Sulit untuk Percaya

Redaksi oleh Redaksi
9 Maret 2026
A A
SPBU Diserbu Jadi Bukti Buruknya Komunikasi Pemerintah MOJOK.CO

Ilustrasi SPBU Diserbu Jadi Bukti Buruknya Komunikasi Pemerintah. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil masih sangat tinggi. Maka, informasi mengenai ketersediaan BBM di SPBU memiliki resonansi yang kuat. Ketika pemerintah, melalui pernyataan yang kurang terukur, melontarkan klaim bahwa ketahanan stok BBM hanya 25 sampai 26 hari, yang tercipta adalah kepanikan massal.

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyampaikan bahwa ketahanan penyimpanan energi Indonesia hanya 25-26 hari. “Faktanya, ketahanan energi kita, storage kita itu maksimal di angka 25–26 hari, nggak lebih dari itu,” kata Bahlil, seperti dikutip oleh Antara.

Sepintas, kalimat dari Bahlil ini tidak mengandung masalah. Namun, informasi ini sejatinya belum jelas. Khususnya jika kita mempertimbangkan faktor “siapa” yang akan membaca informasi ini. Pasalnya, banyak media yang kemudian menggunakan judul “cadangan BBM Indonesia hanya cukup 20 hari”.

Lalu, banyak media membuat komparasi dengan Jepang yang mampu menyimpan BBM sampai 250 hari. Sontak, isu ini melahirkan antrean panjang di beberapa SPBU.

Baca juga: Derita Operator SPBU: Gaji UMR dan Harus Nombok Duit kalau Ada Kekurangan

Kecemasan yang sedang melanda masyarakat akibat kenaikan harga dan isu yang bikin SPBU diserbu

Narasi dari berbagai media, sepintas, juga tidak mengandung masalah. Namun, lagi-lagi, publik yang menerima informasi ini mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Banyak yang berhenti di judul, banyak pula yang salah mengartikan “cadangan” sebagai kondisi aktual kondisi BBM Indonesia hanya cukup sampai 20 hari setelah itu habis. Maka, beberapa SPBU ramai diserbu.

Saat ini, publik sedang dalam kondisi cemas. Khususnya akibat fluktuasi harga komoditas global dan ancaman perang di Timur Tengah. Kecemasan ini membuat mereka menangkap angka “20 hari” sebagai hitung mundur menuju kelangkaan total. 

Padahal, secara teknis, “angka 20 hari” adalah cadangan operasional minimum yang selalu dijaga melalui proses pengisian ulang (top-up) secara rutin dari produksi kilang domestik dan impor yang terjadwal. Namun, penjelasan teknis ini baru muncul secara masif setelah masyarakat Aceh dan Jember mulai mengantre di SPBU pada tanggal 4 dan 5 Maret 2026.

Maka, tidak heran apabila informasi ini menjadi viral. Seperti yang ditegaskan oleh tajuk ini di awal, bahwa ketergantungan terhadap bahan bakar fosil masih sangat tinggi. Ketersediaan dan harga BBM itu tak hanya mempengaruhi kondisi ekonomi, tapi juga psikologi orang banyak.

Dampak dari komunikasi yang berjarak dan tidak lengkap

Kita tidak boleh memandang kegaduhan yang terjadi ini sebagai insiden komunikasi biasa. Faktanya, sudah terjadi panic buying di berbagai wilayah, dengan eskalasi paling signifikan tercatat di Aceh dan Jember. 

Antrean panjang di SPBU ini lahir bukan lagi karena batang akan hilang dari peredaran, melainkan hilangnya kepercayaan publik terhadap kepastian pasokan. Dalam konteks jurnalisme warga, fenomena ini adalah sinyal bahaya bagi tata kelola informasi publik. 

Pemerintah tampaknya belum belajar dari rentetan blunder komunikasi masa lalu. Saat itu, klarifikasi sering datang terlambat ketika api kepanikan sudah terlanjur menghanguskan rasionalitas publik. Ketimpangan informasi antara pernyataan birokrat dengan pemahaman masyarakat menciptakan jurang persepsi yang berbahaya.

Dampak dari jurang komunikasi ini adalah kekacauan fisik di SPBU. Masyarakat yang merasa terancam mobilitasnya segera melakukan pembelian secara berlebihan. Dalam istilah psikologi massa, sering disebut sebagai social proof atau tindakan mengikuti perilaku orang lain karena asumsi bahwa orang lain memiliki informasi lebih banyak. 

Meskipun Pertamina Aceh menjamin bahwa stok cukup, ketidakpercayaan terhadap pernyataan pemerintah pusat sudah terlanjur meresap. Antrean mengular di SPBU juga terjadi di Jember. 

Iklan

Sejak Kamis, 5 Maret 2026, kendaraan mengular di berbagai SPBU di wilayah tersebut. Isu kelangkaan lokal dan narasi kerentanan nasional yang menyebabkan panic buying ini.

Pihak otoritas terpaksa melakukan penambahan pasokan stok untuk meredam antrean ini. Namun, langkah ini secara ironis membuktikan bahwa masalah utamanya bukan pada ketersediaan BBM di SPBU, melainkan manajemen ketakutan publik. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi publik yang buruk adalah katalis bagi inefisiensi ekonomi. Maksudnya, penambahan pasokan secara mendadak demi meredam kepanikan justru mengganggu ritme logistik yang seharusnya berjalan efisien.

Baca juga: Anak Muda Isi BBM Tergantung Antrean SPBU: Pertalite-Pertamax Dianggap Sama, padahal Terbiasa Buru-buru dan “Buta” Kualitas

Lupakan dulu soal chaos di SPBU, mari bertahan hidup

Kelangkaan BBM tidak akan terjadi dan SPBU akan aman. Minimal itulah yang pemerintah sampaikan menyusul isu “20 hari”. Sekarang, yang juga tak kalah penting adalah bagaimana caranya bertahan hidup di tengah krisis karena perang di Timur Tengah.

Minimal ada 5 langkah sederhana yang bisa kita sama-sama lakukan. Mereka adalah (1) Menata arus kas. Cek lagi segala pengeluaran. Banyak yang kelihatannya kecil, tapi boros. Misalnya langganan streaming, aplikasi, atau belanja online. Kalau bisa, potong 10-15% dari pengeluaran tersebut selama satu atau dua bulan. 

(2) Hemat BBM. Satukan agenda, prioritaskan rute yang mengharuskan berkendara, dan pertimbangkan berjalan kaki atau gunakan transportasi umum jika jaraknya jauh. Itu kalau bisa.

(3) Jangan pinjol. Hindari pinjol untuk menutup lubang utang yang lain. Dalam situasi krisis, biaya hidup yang naik bisa jadi mendorong orang untuk tetap konsumtif dengan memanfaatkan layanan utang.

(4) Jangan punic buying. Hati-hati dengan informasi yang kamu temukan di media sosial. Jangan sampai ikut-ikutan punic buying karena akan melahirkan chaos seperti di SPBU tempo hari.

(5) Nabung dan siapkan dana darurat. Terdengar paling klise dan basic, tapi dua hal ini bisa menyelamatkanmu di saat krisis.

Terakhir, hati-hati dengan segala informasi yang datang dari segala arah. Kalau bisa, lakukan double check supaya kamu tidak tersesat oleh informasi baru. Di zaman sekarang, terkadang, yang bisa kita andalkan hanya diri sendiri.

Semoga bermanfaat.

Redaksi

BACA JUGA Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia dan sikap redaksi lainnya di rubrik TAJUK.

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh

Tags: AcehbahlilBahlil Lahadaliabbm 20 haribbm langkacadangan bbm nasionalJemberPerang Iran IsraelSPBUstok bbm 20 hari
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Pertamax Turbo Naik, Curiga Pertamax dan Pertalite Langka Stres
Pojokan

Kata Siapa Pemakai Pertamax Turbo Nggak Ngamuk Melihat Kenaikan Harga? Saya Juga Stres karena Curiga Pertamax dan Pertalite Akan Jadi Barang Langka

19 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Supra X 125, Motor Honda yang Menderita dan Nggak Masuk Akal MOJOK.CO
Otomojok

Supra X 125 Adalah Motor Honda Penuh Penderitaan dan Nggak Masuk Akal, tapi Menjadi Motor Paling Memahami Derita Keluarga Muda

14 April 2026
Pekerja Jakarta WFH demi hemat BBM
Urban

Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah

25 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib pekerja gen Z dicap lembek oleh milenial

Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag”

16 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals MOJOK.CO

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals 

15 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.