Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Apa Salahnya Jika Menyelenggarakan Lamaran Mewah?

Audian Laili oleh Audian Laili
31 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Zaman berubah, kebutuhan pun ikut berubah. Maka bagi sebagian orang, menyelenggarakan lamaran mewah menjadi kebutuhan yang baru.

Coba amati baik-baik postingan Instagram di timeline kita. Berapa sering kita melihat postingan lamaran mewah yang diadakan oleh orang-orang yang kita kenal atau sekadar yang kita follow? Biasanya, lamaran mewah ini akan muncul dengan dekorasi yang cukup identik: bunga-bunga atau bunga-bungaan, nama kedua pasangan yang sedang lamaran—baik ditulis dengan nama asli ataupun hanya inisial, hingga penataan kursi yang menyebabkan kedua keluarga duduk saling berhadapan.

Hal lain yang biasanya juga tidak terlupa dari postingan acara lamaran ini adalah baju kebaya dan batik couple serta video yang berisi senyum malu-malu dan bercanda antar keluarga yang tampak awkward. Lalu konten ini akan dibagikan dengan caption panjang penuh cerita cinta mereka. Tentang bagaimana mereka bertemu, tentang bagaimana cinta itu bermula, hingga memutuskan untuk mengikatkan janji ke dalam hubungan yang lebih serius. Sungguh sangat manis dan layak mendapatkan komen, “Uuuh, relationship goals banget!”

Diadakannya lamaran yang mewah ini ternyata cukup bikin banyak orang nyinyir. Pasalnya, banyak yang menganggap menyelenggarakan acara lamaran dengan mewah merupakan sesuatu yang tidak perlu dan hanya menghabiskan biaya saja.

Loh, loh, loh, tunggu sebentar, kata siapa?

Apakah orang-orang yang nyinyir ini nggak paham, ya? Bahwa kebutuhan acara lamaran zaman sekarang ini memang berbeda dengan zaman ibu kita—atau nenek kita. Perbedaan ini tentu diakibatkan adanya perkembangan zaman sehingga sebuah acara lamaran akhirnya memiliki fungsi lainnya.

Jadi, selain sebagai pertemuan orang tua kedua belah pihak, proses pihak laki-laki nembung—meminta dengan baik-baik, sopan, dan serius—kepada pihak perempuan, serta momen pihak laki-laki menyerahkan hantaran yang penuh makna—meski untuk hantaran ini biasanya juga bisa diberikan pada saat sebelum acara akad nikah. Nah, acara lamaran saat ini, juga memiliki fungsi yang lain, yakni: sebagai konten untuk diposting di media sosial!!!11!!

Oooh, cuma jadi konten?

Eits, jangan meng­-underestimate begitu saja kekuatan sebuah konten. Pasalnya, jika ia digarap dengan serius lalu mendapatkan banyak like serta engagement dari netizen, dia bisa mendatangkan rezeki yang tidak kita duga. Misalnya saja, dengan viralnya konten lamaran kita, maka semua kebutuhan pernikahan kita dapat terpenuhi dari endorsement yang masuk. Coba saja hitung, berapa banyak biaya yang akhirnya dapat kita hemat untuk dijadikan modal berumah tangga? Ini sungguh pemikiran cerdas dan sangat jangka panjang, kan?!

Lalu, apa salahnya, sih, jika acara lamaran itu diselenggarakan dengan mewah? Mohon maaf nih, setiap orang kan punya selera untuk merayakan sesuatu. Meski acara lamaran itu mewah, namun jika kesyakralannya tetap terjaga? Terus, masalahnya di mana? Yang terpenting kan acara lamaran ini sebagai tanda bahwa kedua individu telah diikatkan dalam hubungan yang lebih serius, dan keduanya sudah sama-sama saling nge-keep.

Perkara itu mewah dan menghambur-hamburkan uang, diadakan di rumah atau di gedung, biar itu jadi urusan mereka yang punya gawe. Selain itu, mereka juga berhak untuk menentukan sendiri bagaimana cara menyambut kedatangan keluarga dari pihak laki-laki yang sudah dinanti.

Hal lain yang perlu kita pahami, akhir-akhir ini tren jasa dekorasi tengah menguasai pergaulan mahal kita. Jika dulu kita hanya akan menggunakan jasa dekorasi pada acara-acara yang betul-betul gede saja, saat ini kebutuhan itu meluas pada acara lainnya. Hal ini dikarenakan, orang-orang yang ingin menjadikan jasa dekorasi sebagai mata pencaharian kian bertambah. Maka tidak mengherankan, jika mereka tidak dapat mengandalkan proyekan dari acara pernikahan atau sunatan saja, tentu ini bakal menyulitkan untuk mencapai targetnya bos. Oleh karena itu, dimunculkan tren dekorasi yang semakin masif dengan diaplikasikan dalam acara yang lebih beragam.

Misalnya, acara surprise ulang tahun, merayakan anniversary, wetonversary, bridal shower, baby shower, hingga acara lamaran. Ya, dekorasi ini akhirnya dibutuhkan baik dari acara yang sebelumnya tidak membutuhkannya—karena tidak ada dekorasi pun tidak akan mengubah substansi acara. Ataupun acara yang sebelumnya memang tidak betul-betul butuh diadakan, akhirnya menjadi ada. Nah, acara lamaran, termasuk golongan yang pertama.

Maka, untuk membantu target orang-orang yang bekerja di bidang jasa dekorasi, apa salahnya jika kita mengadakan acara lamaran dengan mewah? Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya?

Iklan

Jadi, untuk situ-situ yang masih saja nyinyir kalau temennya ngadain acara lamaran baik dari gedung, dekorasi, hingga bla bla bla yang lainnya udah mirip-mirip acara pernikahan versi mininya, nggak perlu lagi ya, Jeng. Mohon maaf nih, itu duit-duit mereka sendiri, lagian kita kan nggak ikut nyumbang apa-apa, ya. Malah kalau kita diundang jadi dapat makan gratisan. Lumayan, loh, betul-betul makan gratis, nggak perlu ngamplop lagi.

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2019 oleh

Tags: Instagramlamaranlamaran mewahpernikahanrelationship goals
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Merintis Jastip ala Mahasiswa Flores Cuan Jutaan Tiap Bulan MOJOK.CO

Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan

23 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.