MOJOK.CO – Saya heran melihat adik saya memutuskan membeli Suzuki APV. Padahal akalnya sehat dan paham dunia otomotif. Sebuah misteri.
Setelah memperoleh promosi jabatan plus bonus tahunan, adik saya berkasak-kusuk ingin berganti tunggangan. Toyota Agya miliknya itu sudah meniup lilin ulang tahunnya yang kedelapan. Sudah begitu, LCGC lawas itu sering mengeluarkan bunyi-bunyi aneh ketika sekadar mengantar berpelesir ke kota sebelah.
Ide membeli mobil baru itu sebenarnya telah lama dia utarakan kepada saya, dan dengan hati riang saya menyodorkan mobil-mobil keluaran Suzuki. Adik saya menganggarkan Rp300. Jadi, menurut saya, dia bisa menebus Baleno Hatchback, All New Grand Vitara, atau Fronx yang sedang naik daun.
Seperti siswa di kursi paling belakang yang mendadak mendapat ilham perihal jawaban ujian yang sangat ruwet, dia mengangguk-angguk dan tersenyum. “Ya, Suzuki kayaknya boleh juga,” katanya, sebelum pamit dan berlalu.
Dia kembali ke rumah saya sebulan kemudian. Dengan binar yang hanya bisa disaingi oleh para peraih medali olimpiade. Dia menunjukkan mobil barunya yang terparkir di halaman, sebiji Suzuki berkelir silver yang membikin saya mengucek mata berkali-kali.
Mobil barunya itu ternyata adalah Suzuki APV.
Baca juga Suzuki Ertiga: MPV Pertama Suzuki yang Dulu Dikenal sebagai MPV Syariah
Suzuki APV, model usang yang menolak pensiun
Layaknya orang Cepu sejati yang baru saja membeli mobil, dia mengajak saya dan keluarga berpelesir ke telaga Sarangan di kaki Gunung Lawu. Saya duduk di kursi baris kedua, bersisian dengan ipar, dan sepanjang jalan saya merenungi keputusannya membeli Suzuki APV.
Pada tahun ini, Suzuki APV genap berumur 22 tahun di Indonesia. Pesaing terdekatnya dalam perebutan predikat “Model Mobil Tertua yang Masih Dijual Baru” adalah, tentu, Mitsubishi L300, yang umurnya beberapa belas tahun lebih lawas lagi.
Ada beberapa hal identik pada kedua mobil tersebut. Contohnya, Suzuki APV dan L300 sama-sama belum berganti model sejak kali pertama muncul.
Keduanya juga sama-sama menggunakan mesin kolong yang bisa menjadi pemanas kabin otomatis saat insulasinya mulai soak. Dan kedua mobil itu punya beragam fitur canggih dan kekinian yang seharusnya ada jika saja akuntan perusahaannya mau sedikit berbaik hati.
Adik saya memboyong Suzuki APV bertipe SGX, trim tertinggi kedua setelah Luxury. Kalau membandingkannya dengan Avanza yang menjadi pesaing satu segmen, maka ia setara dengan Avanza tipe G.
Mobil yang isinya serba usang
Namun, tak seperti Avanza yang telah bertransformasi menjadi mobil MPV modern, Suzuki APV berkeras untuk mempertahankan beragam perintilan yang kini tampak usang. Misal, spion tanpa lampu sein, bohlam di semua klaster lampu, tuas pintu model ungkit, dan antena model ulur seperti antena radio lawas. Satu-satunya bagian eksterior yang bisa dibanggakan, tentunya bagi sebagian orang, adalah penambahan elemen krom di banyak tempat.
Bagian interiornya juga tidak kalah jadul. Meski Suzuki sudah melengkapi trim SGX dengan captain seat di baris tengah, dan ini sesuatu yang sangat langka bahkan untuk mobil masa kini di rentang harganya.
Lainnya, Suzuki APV tidak punya head unit bermonitor, colokan USB, tombol MID pada lingkar setirnya, AC digital, bahkan tidak punya cup holder untuk penumpang baris kedua dan ketiga. Miris.
Baca halaman selanjutnya: Mobil yang tidak ingin merepotkan orang lain.













