MOJOK.COYa enak kalau jadi kucing peliharaan yang dimanjakan. Lha kalau kucing jalanan, kadang ditendang, kadang dijagal lho. Mending bercita-cita jadi Putri Tanjung aja lah, Beb,

Terutama setelah pandemi, makin banyak manusia menyadari bahwa mereka bukan makhluk hidup paling berkuasa di semesta. Telah disadari bahwa di atas manusia, tapi masih di bawah di bawah Tuhan beserta malaikat, nabi-nabi, kitab, takdir, dan hari kiamat, rupanya masih ada satu makhluk hidup lain yang bercokol. Namanya kucing.

Kucing, hewan yang dikenal sebagai hewan kesayangan Nabi Muhammad saw. saat ini mematahkan eksistensi manusia sebagai penguasa bumi. Alih-alih jadi khilafah, posisi manusia dianggap sudah berbalik jadi budak yang selalu menuruti keinginan kucing. Memang, kita tak sampai perlu meminta para ulama merembukkan konsekuensi teologis perkembangan baru ini, misal dengan mempertimbangkan Rukun Iman bertambah dari enam jadi tujuh, dengan poin ketujuh adalah iman kepada kucing. Namun, makin bertambahnya kekuasaan kucing tetap perlu diwaspadai di samping ancaman perang nuklir maupun dugaan konspirasi 5G.

Saya bahkan sudah menjadi korban dari fenomena ini. Di lingkup paling pribadi, saya menemukan bahwa pacar saya punya tiga majikan di rumahnya. Ada Azad, Igun, dan Item, dan dia seperti tergila-gila kepada mereka. Padahal saya berharap cinta gilanya itu selalu ditujukan ke saya. Namun apa daya, seekor kucing bernama Igun telah menikung saya dengan begitu kejam saat ia dengan seenaknya tidur bareng pacar saya, dicium-cium pacar saya, hingga dikasih makan setiap hari oleh pacar saya.

Baca juga:  Kiat Memberi Nama Anak untuk Tren 2017

Di lingkup lainnya, teman-teman saya juga sama dengan pacar saya. Sembilan puluh persen teman saya mencintai kucing dan punya kucing peliharaan. Dari instastory mereka, saya melihat betapa sayangnya mereka terhadap kucing peliharaannya. Dan juga betapa kucing yang mereka pelihara sungguh sangat bossy. Mereka dimandikan, diajak bermain, dikasih makan, sampai disediakan pasir buat pup. Bahkan ketika sakit, dikasih obat puyer. Hubungannya sudah seperti majikan dengan pembantu, dan teman-teman saya itu berperan sebagai pembantu.

Saya bukan hater kucing (jaman sekarang, siapa yang berani?). Tapi saya juga bukan pencinta kucing. Saya berada di posisi tengah saja, menjadi penonton perbudakan manusia di abad ke-21. Hingga saya menemukan, ternyata di antara jutaan manusia di dunia ini, banyak sekali yang ingin jadi kucing. Ada-ada saja memang. Banyak orang beranggapan bahwa menjadi kucing sepertinya akan sangat enak, damai, dan menyenangkan. Dan cita-cita manusia modern yang kerjaannya suka rebahan selain menjadi sukses, ternyata adalah menjadi kucing.

Apakah sebegitu menyenangkannya menjadi kucing?

Kata Sigmund Freud, jadi kucing itu bermanfaat. “Waktu yang dihabiskan bersama kucing tidak pernah sia-sia,” katanya. Entah apakah Sigmund Freud benar atau itu ungkapan spontan saja karena ia juga budak kucing.

Sampai di titik ini barulah saya ingin protes. Saya kira sebaiknya kita berpikir dua kali jika punya cita-cita ingin jadi kucing. Daripada jadi kucing, masih lebih realistis jadi menantu Presiden, begitu pikir saya.

Memang, ketika melihat video-video lucu tentang kucing, tampaknya menyenangkan sekali jadi hewan ini.

Baca juga:  Komunikasi Itu Penting, Tak Terkecuali Ngobrol dengan Kucing

Tapi coba pikir lagi. Itu hanya potongan kecil dari dunia kucing. Itu hanya sekelumit kisah bahagia dunia kucing yang terekspose. Ingin menjadi kucing karena sering menonton video lucu kucing rumahan ibarat menilai kehidupan manusia hanya dari biografi Chairul Tanjung.

Alias: dunia kucing sama dengan dunia kita, tidak melulu dipeluk dan dimanja.

Menjadi kucing itu memang enak. Dibelai, dikasih makan, dirawat, sampai dimandiin. Iya, itu kalau kucing rumahan dengan budak manusia yang baik. Akan berbeda dengan kucing-kucing jalanan di luar sana. Tidak punya rumah, tidur kedinginan, kalau panas kepanasan, kalau hujan kehujanan. Apalagi soal makanan. Tidak ada Royal Canin, yang ada sisa-sisa makanan dari orang-orang yang masih iba dengan kehadiran mereka. Syukur-syukur dikasih daging. Kalau sial, mungkin dapat tulang, mungkin juga dapat tendangan.

Menjadi kucing artinya harus siap mental dan fisik. Sebab, sewaktu-waktu bisa ditendang tanpa alasan yang jelas ketika kamu hanya lewat di kolong meja orang yang lagi makan. Padahal kamu tidak mengganggu. Kamu diusir hanya karena mereka merasa risih dengan kehadiranmu.

Siapkah kamu menjadi kucing yang seperti itu?

Jika referensimu bercita-cita jadi kucing hanya karena melihat kucing peliharaanmu seolah tidak punya beban hidup karena kerjaannya makan, main, dan pup, kamu sebenarnya sangat naif. Kita tidak tahu apakah para kucing di luar sana bahagia dengan kehidupan mereka yang tanpa tujuan jelas. Menjadi manusia yang setiap hari kerjaannya rebahan dan jadi pengangguran saja sudah sangat menyiksa. Bisa saja lho, ketika kamu sudah jadi kucing, terus aktivitasmu begitu-begitu saja, kamu malah jadi sadar hidup tak ada maknanya sama sekali. Sejauh ini tidak ada kucing yang berani membagikan kisah mereka, jadi siapa yang tahu kalau misal mereka aslinya bosan dan malah pengin jadi manusia.

Baca juga:  Berpamitan dengan Mojok

Yang ekstrem, menjadi kucing harus siap bertaruh nyawa ketika berhadapan dengan manusia-manusia kejam. Ingat kasus jagal kucing di Medan? Kasus itu gambaran bahwa dunia kucing bukan kejam doang, tapi kejam banget.

Terakhir, bayangkan apa yang kucing rasakan ketika mereka didandani aneh-aneh oleh para budak mereka? Apa yang kucing rasakan ketika para budak menamai mereka dengan nama-nama aneh? Mungkin saja para kucing itu tidak suka dengan apa yang dilakukan para budaknya. Bisa jadi mereka tertekan dan sebagian sampai kena mental breakdown. Siapa yang tahu.

Penting kiranya kita (hah, kita???) memikirkan matang-matang sebelum memutuskan bercita-cita menjadi kucing. Karena kalau dipikir-pikir, beberapa sikap manusia nggak jauh beda dengan kucing. Koruptor yang saat ditangkap masih bisa cengengesan itu mirip dengan kelakuan kucing garong.

Ketimbang benar-benar ingin menjadi kucing, sebaiknya manusia mikir kenapa segitunya pengin lari dari kenyataan sampai rela berubah jadi hewan. Nyatanya, cita-cita jadi kucing itu nggak masuk akal. Toh kamu bisa dapat semua kenikmatan ala kucing dengan, misalnya, jadi menantu Presiden. Tapi jadi menantu Presiden pun bukan cita-cita yang gampang.

BACA JUGA Komunikasi Itu Penting, Tak Terkecuali Ngobrol dengan Kucing dan esai-esai M. Farid Hermawan lainnya.