Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kucing Bukan Mainan! Pencinta Kucing Harus Ubah Mindset dari Sekarang

Zaki Annasyath oleh Zaki Annasyath
6 Oktober 2020
A A
pencinta kucing bodoh yang menganggap kucing adalah mainan mojok.co

pencinta kucing bodoh yang menganggap kucing adalah mainan mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu sebuah utas di Twitter menjadi perbincangan panas, terutama di kalangan para pencinta kucing. Pembuat utas tersebut ceritanya sedang minta tolong kepada warga Twitter untuk membantu kucingnya yang tengah sekarat. Saya agak lupa bagaimana detailnya, tapi usut punya usut, kucing itu sekarat akibat kelalaian sang majikan babu.

Fakta itu mengemuka ketika seorang penolong membuat utas setelah dirinya datang ke rumah empunya kucing untuk membantu. Pada utasnya, si penolong menginformasikan ternyata tak cuma satu kucing, melainkan dua kucing yang sakit dan butuh pertolongan.

Yang ngeselin adalah reaksi si pemilik kucing ketika tahu kucing yang kedua juga ingin dibawa oleh sang penolong. Si pemilik nggak ingin kucing kedua dibawa dengan alasan, “Nanti anak saya nggak punya mainan lagi.” Kontan saja, sang penolong tak habis pikir.

Kejadian itu sudah cukup lama. Mungkin sekitar dua-tiga bulan lalu. Namun, memori itu terlintas kembali gara-gara beberapa pekan lalu saya membaca sebuah status ndlogok di base pencinta kucing.

Isinya kurang lebih begini, “Males banget kalau kucing lagi sakit, terus pas nanya di base, jawabannya selalu nyuruh konsultasi ke dokter hewan. Padahal kan gabung base biar nambah ilmu. Dan nggak semua orang setajir itu untuk selalu ke dokter hewan.”

Dengan penuh semangat saya mengetik, “Dasar tuoloool!”

Namun, saya urungkan. Biarlah orang lain mengambil alih tugas mulia mengopyok kepala si pembuat status.

Acapkali hewan peliharaan, dalam hal ini kucing, diposisikan sebagai mainan bagi sang pemilik, alih-alih makhluk hidup seutuhnya. Kucing dipelihara cuma sebagai hiburan untuk mengentaskan depresi akibat seharian menjalani kehidupan yang keras dan merana. Ini sebetulnya pandangan yang lebih baik dibuang ke dasar neraka. Pandangan cupet itu bisa mengakibatkan sang pemilik berlaku seenaknya secara sadar maupun tidak dalam mengurusi kucing peliharaannya.

Baca Juga:

Tetangga yang Nggak Niat Mengurus Hewan Peliharaan Wujud Kehidupan Tanpa Adab: Kalau Nggak Niat Pelihara, Mending Nggak Usah

Rela Utang Koperasi Kantor demi Biaya Berobat Kucing yang Sudah seperti Keluarga, Saya Dicap Nggak Waras dan Bodoh

Orang-orang macam gini banyak banget lhooo di dunia nyata dan maya. Banyak kejadian anak kucing dibuang, penyakit kucing tambah parah akibat kebodohan pemilik, dan sebagainya.

Kita bisa lihat keseriusan seseorang dalam memelihara kucing paling kentara ketika kucingnya sakit. Orang-orang nggak berkomitmen selalu lebih memilih berkonsultasi di base pencinta kucing daripada datang ke dokter hewan. Mereka lebih suka mendengar saran dari teman media sosialnya daripada menyimak penjelasan veteriner. Lalu ketika ditanya alasannya, mereka berlindung di balik kemiskinan. Ini bisa saya bantah ya, meskipun cuma bantahan awam sih.

ADVERTISEMENT

Pertama, saya nggak sepakat konsultasi langsung ke dokter hewan itu dibilang mahal. Wong ada yang namanya puskeswan kok. Saya pernah membawa kucing pacar saya ke puskeswan. Pelayanannya bagus, bayarnya juga semampu kita. Makanya saya merasa aneh sama klaim ndlogok si sender. Kok bisa ke dokter hewan mahal. Coba deh sesekali si sender ke puskeswan. Atau jangan-jangan bukan karena masalah finansial, melainkan rasa malas? Wolah, tempeleng raimu, cuuuk.

Namun, tentu saja kalau kucing kita sakitnya parah dan butuh perawatan serta obat, kita harus rela merogoh gocek yang tak sedikit. Itu sebabnya dalam merawat kucing butuh sebuah keseriusan. Dan ini akan saya bahas di poin kedua.

Kedua, merawat kucing butuh keseriusan. Keseriusan ini harus dibarengi juga dengan kesiapan finansial. Kasarnya nih ya, kalau ingin melihara kucing, dompet kita harus tebal. Kenapa? Ya coba bayangin, kita harus beli makanan kucing, pasir buat buang hajat, beli mainan, melakukan vaksin, dan misalnya amit-amit sakit parah, kita mesti mengeluarkan biaya yang nggak sedikit.

Kucing juga membutuhkan perkakas kebersihan untuk menghilangkan kutu. Jadi, memang harus dipikirkan berkali-kali kalau ingin melihara kucing. Sanggup nggak nih uangnya? Atau bisa nggak membagi waktu antara merawat kucing dengan kegiatan lain? Saya aja sampai sekarang belum berani melihara kucing karena hal itu.

Dan yang ketiga, ketika kucing sakit, jangan bergantung kepada nasihat teman di base pencinta kucing. Bahkan ada yang bilang secara lebih radikal, “Jangan percaya sama mereka.”

Apa pasal? Maksudnya begini. Ketika manusia sakit, ia disarankan untuk langsung ke dokter. Hal itu biar diagnosis dokternya tepat. Dan ini manusia lho.

Apalagi hewan yang nggak bisa diajak berkomunikasi. Dokter hewan sekalipun akan kesulitan mendiagnosis cuma lewat media sosial. Harus langsung ke dokternya. OMAT.

Konsultasi di base pencinta kucing, terutama di Facebook, bisa mengakibatkan kesalahan diagnosa. Ini sangat fatal. Banyak sekali berseliweran di media sosial kucing-kucing yang tambah parah sakitnya gara-gara pemilik mengikuti saran teman Facebook.

ADVERTISEMENT

Teman saya ketika SMA dulu pernah juga mengalaminya. Saya lupa kucingnya sakit apa, tapi ia memberi makan tempe atas saran dari teman di base pencinta kucing. Dan apa hasilnya? Yak betul, kucingnya mati mengenaskan.

Mungkin akan ada yang bertanya dengan nada sinis, “Lha, tapi kucing saya sembuh dikasih jamu. Itu saran dari teman sesama pencinta kucing lhooo, gimana hayooo.”

Ya Allah, itu kan kucingmu. Belum tentu ketika kita nyaranin obat ke kucing orang lain, obat itu akan mempunyai reaksi yang sama. Setiap kucing tentu saja punya kondisi berbeda-beda. Kucing A belum tentu sama dengan Kucing B diagnosanya. Kalau ndilalah obatnya bekerja, ya syukur. Lha kalau nggak?

Tolong ya, sebelum memutuskan memelihara kucing, ada baiknya kita perbaiki dulu mindset bahwa kucing itu mainan. Anggaplah kucing itu makhluk hidup. Bahkan amannya, anggaplah seperti anak sendiri, seperti Malika. Jangan sampai kucing kita menderita karena perbuatan dari kita sendiri yang lalai dan bloon dalam merawatnya. Ingat, perkara hewan kesayangan, jangan pernah coba-coba.

BACA JUGA Ngakunya Pecinta Kucing, tapi Cuma Cinta Kucing Impor dan tulisan Zaki Annasyath lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2020 oleh

Tags: hewan peliharaanKucingkucing sakit
Zaki Annasyath

Zaki Annasyath

Medioker

ArtikelTerkait

Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Rela Utang Koperasi Kantor demi Biaya Berobat Kucing yang Sudah seperti Keluarga, Saya Dicap Nggak Waras dan Bodoh

18 Maret 2026
Panduan Memahami Bahasa Kucing biar Makin Akrab terminal mojok

Panduan Memahami Bahasa Kucing biar Makin Akrab

1 Oktober 2021
Rekomendasi Hewan Peliharaan untuk Anak Kos yang Low Budget terminal mojok.co

Rekomendasi Hewan Peliharaan untuk Anak Kos yang Low Budget

5 Februari 2021
kucing hilang kucing scabies pet lovers memelihara kucing mojok

Ngakunya Pet Lovers tapi Nggak Mau Bersihin Kotoran Peliharaan Mending Pelihara Batu aja

25 Januari 2021
ibu berubah dari pembenci kucing menjadi pencinta kucing mojok.co

Transformasi Mengharukan Emak Saya, dari Pembenci Jadi Pencinta Kucing

9 September 2020
ciu

Viral Kucing Ras Dicekoki Miras Ciu: Kebelet Terkenal Apa Gimana Ya?

17 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026
Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

16 Agustus 2026
Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga Mojok.co

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga

20 Agustus 2026
Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan Terminal

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan

15 Agustus 2026
Kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong, saya sudah membuktikannya Mojok.co

Kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong, saya sudah membuktikannya

15 Agustus 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Ganti pemimpin Surabaya ternyata nggak makin berbenah: lahan parkir selalu saja jadi masalah pelik meski berkali-kali dikritik

15 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.