MOJOK.COJangan pernah berpikir bahwa mengobrol dengan kucing adalah hal yang aneh dan tiada berfaedah. 

Pada suatu sore yang mendung tapi gerah, saya dibuat terpingkal oleh sebuah “obrolan” yang bocor dari arah kamar sebelah.

Sosok pertama dalam obrolan itu berkata “Neng, kabogoh (pacar) kamu datang, tuh. Sana main atuh!”

Sosok kedua yang diajak ngobrol tidak merespons. Namun saat sosok pertama kembali mengulang pembicaraannya, dengan nada males si sosok kedua menjawab “Meoooowww!”.

Iyes, itu adalah obrolan yang sangat berfaedah antara tetangga saya dengan seekor kucing yang dalam beberapa bulan terakhir ini semi-menetap di area kos-kosan kami.

Saya sempat menduga kucing ini turun dari langit, tapi melihat kelakuannya yang segera akan saya ceritakan, kuat dugaan dia adalah kucing yang dibuang pemiliknya.

Sosok kucing berbulu lebat dengan warna abu dan garis kecokelatan di bagian punggungnya ini biasa tidur manja di atas keset depan kamar saya atau depan kamar si ibu tetangga —untuk menghemat jumlah karakter, sebut saja si ibu tetangga ini sebagai Bu Dal-Mi.

Kucing ini tidak datang sendirian. Setelah dia semi-menetap di sini, kucing lain mulai berdatangan. Salah satu yang ikut stay adalah sosok kucing bertubuh kekar yang oleh bu Dal-Mi disebut kabogoh si kucing abu —saya namai Drake.

Setelah dua kucing ini terlihat sering bersama, kucing abu pun bunting. Hmm, saya menduga, inilah alasan pertama dia dibuang pemiliknya: kucing nakal.

Baca juga:  Mengatasi kesedihan Ditinggal Hewan Peliharaan

Sesuai percakapan pertama tadi, kucing abu itu biasa dipanggil Neng atau Geulis oleh bu Dal-Mi. Tentu ini karena si kucing berjenis kelamin betina. Jika saja dia jantan, pasti bakal dipanggil Aa seperti Aa Rafathar, Aa Gym, Aa Haji Sorban Palid, atau Aa Aa berbau Sunda lainnya.

Namun, teman kosan saya memanggilnya Lulu. Namun lagi, sebagai orang yang paham sekali penderitaan punya nama dengan satu kata saja, saya pun termotivasi untuk bergerak. Saya kasih dia embel-embel kata Hono di bagian depan nama Lulu. Biar lebih semarak. Maka, jadilah Hono-Lulu. Terasa sangat Hawaii.

Karena obrolan Lulu alias Hono-Lulu alias Neng alias Geulis dengan bu Dal-Mi ini kian hari makin kompleks, saya yang tadinya menertawai bahkan dalam hati meng-apa-sih-i, kini jatuhnya justru mengagumi Bu Dal-Mi.

Bayangkan saja, dari yang asalnya Bu Dal-Mi cuma menyapa “Hai!” pada Lulu, kini berkembang menjadi saling bertukar kabar. Kalau saja mereka sering terlibat 3 AM conversation, saya jamin saat ini mereka juga sudah saling follow akun media sosial.

Setiap kali Bu Dal-Mi keluar kamar dan kebetulan Lulu sedang nongkrong di depan pintunya, dia pasti akan mengajak ngobrol si kucing geulis ini. Beberapa obrolannya kurang lebih terdengar seperti ini:

Obrolan 1
Bu Dal-Mi: “Hai sayang! Gimana kabarnya hmm?”
Lulu: “Meooww!”

Obrolan 2
Bu Dal-Mi: “Hey cantik, baru bangun iya? he’eh?”
Lulu: “Meooww!”

Obrolan 3
Bu Dal-Mi: “Eh ada Si Geulis. Ke mana aja?”
Lulu: “Meooww!”

Baca juga:  Kerusuhan Papua Akibat Melulu Anggap Identitas Nasional = Pakai Baju Adat

Obrolan 4
Bu Dal-Mi: “Uluh-uluh Si Sayang. Belum makan, ya?
Lulu: “Meooww!”

Obrolan 5
Bu Dal-Mi: “Tunggu aku pulang kerja, ya. Nanti aku beliin makanan buat kamu. Tunggu ya, bageur!”
Lulu: “………” (hening)

Wow, sungguh perbincangan yang out-of-the-box, bahkan cenderung without-the-box. Terlebih, yang diajak berbincang irit respons. Sekalinya merespons cuma bilang meow aja, dong. Hmm… Mungkin ini alasan kedua Lulu dibuang pemiliknya: tidak talkative.

Saya sungguh kagum. Bisa-bisanya ada orang seperti Bu Dal-Mi yang bisa dan kepikiran ngobrol sama kucing. Bahkan sering mengadakan sesi QnA macam itu.

Saya sendiri mah, pas ketemu Lulu bukannya ngobrol, yang ada malah speechless. Ketika dia me-meow-i saya, saya hanya bisa terdiam. Mau duluan nanya kabar, takut disangka basa-basi busuk. Mau nanya punya pacar atau tidak, takut digas: “Lo pikir gue bunting sama diri sendiri hah? Mikir woyyy!”

Bukan sekadar ngobrol, kalau diperhatikan, dalam obrolan 4 tadi, Bu Dal-Mi bahkan sempat-sempatnya memberikan janji. Janji untuk membawa makanan saat dia pulang bekerja —yang bahkan, Lulu sebagai pihak yang dijanjikan tidak pernah terdengar memintanya.

Entah mendapat jawaban apa dari ngeongan, tatapan, atau kibasan ekor Lulu, tapi pada sore harinya Bu Dal-Mi benar-benar pulang dengan membawa sekantong besar makanan kucing.

Bagaimana tanggapan Lulu atas kebaikan bu Dal-Mi? Seingat saya, dia malah menghilang beberapa hari. Entah ngambek karena tidak sanggup menunda jam makan sampai sore tiba, atau mungkin pelesiran bersama sang kekasih, Drake. Kocheeng brengsek. Nah, mungkin ini alasan ketiga kenapa Lulu dibuang pemiliknya: tidak tahu diri.

Baca juga:  Karena Memberi Sumbangan di Jalan Raya adalah Amal yang Membahagiakan

Bagi saya, yang boro-boro sama kucing, sama sesama manusia saja suka bingung mau ngomong apa, orang seperti Bu Dal-Mi juga para pencinta kucing lain di luar sana yang tidak merasa canggung ngobrol sama kucing tuh sungguh luar biasa.

Dia menyadarkan saya bahwa komunikasi itu sangat penting. Apalagi komunikasi dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Sesederhana apa pun bentuk komunikasinya, itu tetap komunikasi. Karena seperti halnya minyak dan gas bumi adalah minyak bumi dan gas bumi, komunikasi pun adalah komunikasi.

Meskipun yang diajak komunikasi hanya membalas dengan ngeongan tidak jelas, yang kadang terdengar berisik di satu sisi tapi melodius di sisi yang lain, itu tiada jadi soal. Toh, Bu Dal-Mi sepertinya sudah sangat paham arti dari setiap meow yang keluar dari mulut Lulu.

Dan ya, yang tidak kalah penting, Bu Dal-Mi juga menyadarkan saya bahwa kepedulian itu baiknya diungkapkan, lalu dibuktikan. Jika tidak, mana bisa orang lain tahu bahwa kamu peduli.

Mengutip kata-kata Sa Hye-Jun pada kakaknya di drama Korea berjudul Record of Youth yang saya acak-acak sedikit: “Jika tidak diungkapkan dan dibuktikan, itu bukan kepedulian. Itu fantasi.”

Meooowwwww~

BACA JUGA Kenapa Hidup Kucing Lebih Menyenangkan daripada Hidupmu? dan tulisan Nurjanah lainnya.