Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
3 Juni 2026
A A
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Ilustrasi - Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tinggal di kos yang memiliki rooftop memang riskan blangkrah (semrawut) oleh sampah dan jemuran baju. Akan tetapi, rooftop menjelma menjadi ruang healing anak kos untuk kabur dari kenyataan yang acap kali tidak menyenangkan. 

***

Semasa merantau di Surabaya, amat mudah bagi saya menemukan kos berlantai dua hingga tiga. Bangunan kos memang sengaja dibangun meninggi alih-laih melebar karena keterbatasan ruang di belantara perkotaan. 

Kos-kos model seperti itu seringkali dilengkapi dengan rooftop, sebagai alternatif pengganti halaman depan yang benar-benar terbatas.

Untungnya, di kos yang saya tempati, rooftop tidak dihitung sebagai bagian dari jenis fasilitas yang punya harga tersendiri. Sehingga, dengan harga Rp350 ribu, saya sudah bisa menempati kos tersebut (Karena setelah saya cek di aplikasi pencari kos, kos dengan rooftop umumnya punya harga yang lebih mahal). 

Rooftop kos riskan jadi ruang blangkrah 

Rooftop kos saya memang riskan menjadi ruang blangkrah dan bahkan kumuh. Setidaknya begitu yang terjadi di kos yang saya tempati. 

Pasalnya, karena ketiadaan halaman depan, para penghuni kos akhirnya memanfaatkan bagian atap tersebut untuk menjemur pakaian. Alhasil, kondisi rooftop kos pun nyaris selalu becek. 

Akan tetapi, situasi tersebut tidak lebih parah dari kebiasaan para penghuni kos yang kemproh. Sebab, seringkali ada penghuni kos yang sehabis merokok atau nyemil di atas, sampahnya dibiarkan berserakan: tidak dibawa turun untuk dimasukkan ke tempat sampah. 

Sampah-sampah tersebut tidak pelak mengundang beragam jenis hewan. Tidak hanya semut, nyamuk, dan lalat, ulat pun akhirnya muncul karena sampah-sampah yang membusuk. 

Sebenarnya, akhirnya pernah dicari solusi untuk mengatasinya. Ada satu tempat sampah yang kemudian disediakan di atas. Hanya saja, ketika sampah sudah meluber, tidak ada yang berinisiatif membawanya turun. Malah, kalau sudah tahu tempat sampahnya penuh, sampah baru dibuang begitu saja di sebelahnya. 

Kendati begitu, keberadaan rooftop di kos benar-benar memberi banyak arti…

Rooftop di kos: spot healing terbaik anak kos biar tidak gila di kamar

Pada mulanya saya tidak terlalu tertarik untuk sering-sering naik ke rooftop kos. Alasannya, pertama, saya ogah naik-turun tangga. Kedua, saya agak kurang nyaman dengan situasi blangkrah dan kemproh di sana. 

Selepas kerja, jika tidak ada urusan di luar, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Namun, jika situasi batin dan pikiran sedang sumpek karena overthinking dengan masa depan, terlalu lama di dalam kamar ternyata malah bikin makin stres. 

Oleh karena itu, suatu ketika saya pun iseng naik ke rooftop kos. Awalnya saya hanya sekadar duduk melamun. Namun, tiba-tiba saya menemukan ketenangan tersendiri dari pemandangan dari atas rooftop di malam hari. 

Iklan

Dari atas, saya bisa melihat gemerlap lampu kota, hiruk-pikuk Surabaya di malam hari, dan yang paling berpengaruh dengan situasi batinku adalah semilir angin dan langit lapang berhias bulan-bintang. 

Setelah itu, saya menjadi lebih sering naik rooftop kos, terutama di jam-jam menjelang tengah malam atau dini hari. Terutama ketika saya overthinking sudah sangat mengganggu. 

Di atas, saya menggelar matras, lalu duduk menatap lampu-lampu kota di kejauhan sembari nyebat dan menyeruput kopi. Adegan berikutnya adalah merebahkan badan sambil menatap langit. Di momen itu, saya mencoba melapangkan hati dan pikiran, melepaskan segala beban di hadapan hamparan langit kelabu. Ah, rasanya ternyata melegakan. 

Agar tangis anak kos tidak terlihat

“Ritual” semacam itu akhirnya sering saya ulangi. Bahkan tidak hanya melepaskan beban pikiran, tapi juga menjadi ruang menumpahkan rasa sakit dan kekecewaan. 

Ada banyak situasi menyakitkan dan mengecewakan. Misalnya, rekan kerja yang toksik, ucapan orang lain yang merendahkan, mimpi-mimpi yang tidak kunjung terwujud, pekerjaan dan gaji yang tidak ke mana-mana, hingga buruk sangka pada takdir Tuhan yang seolah menempatkan saya pada posisi sebagai orang kalahan. 

Jika sudah berhadapan dengan situasi demikian, berlari ke rooftop menjadi jalan yang saya pilih. Di atas, dalam kesendirian dan di balik gelap malam, saya bisa menumpahkan tangis dengan leluasa tanpa ada orang yang menyadari kalau mata saya memerah karena tangisan. 

Entah kenapa, menangis dan meluapkan rasa sakit sekaligus kekecewaan hidup di rooftop, membuat saya merasa puas dan lega. Sebab, saya melakukannya di hadapan langit, dengan asumsi Tuhan benar-benar melihatnya tanpa “penghalang”. Semata agara Tuhan menyaksikan kalau saya sudah amat kesulitan dan butuh pertolongan. 

Ternyata jadi ruang deep talk terbaik

Seiring waktu, rooftop kos saya kemudian tidak hanya menjadi tempat menyendiri. Beberapa teman yang main atau menginap di kos saya seringkali saya bawa ke atas. 

Mulanya untuk sekadar menikmati suasana Surabaya malam hari sembari ngopi. Namun, lama-lama, rooftop tersebut justru menjadi ruang deep talk satu sama lain. 

Ada sensasi berbeda dari deep talk yang sering kami lakukan di kedai kopi. Di rooftop, deep talk bisa berlangsung dengan nuansa amat jujur, karena didukung oleh suasana remang dan sunyi. 

Tidak terasa, saya dan seorang teman bisa melakukan deep talk dari selepas isya hingga menjelang jam 2 pagi. Lagu-lagu sendu yang mengalun lirih dari pemutar musik menjadi pengiring yang membuat suasana di rooftop kos tersebut terasa magis sekali. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas) atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Juni 2026 oleh

Tags: anak koskos dengan rooftopoverthinkingrooftop kos
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO
Sehari-hari

Dapur Bersama Memang Membantu Anak Kos, Tapi Sering Menimbulkan Konflik kalau Ada Penghuni Jorok dan Suka Nyolong

12 Mei 2026
Semester 5 kuliah: Masa paling overthinking kepikiran ortu dan masa depan, percuma cari pelarian MOJOK.CO
Catatan

Semester 5 Kuliah: Masa paling Overthinking bagi Mahasiswa karena Kepikiran Ortu dan Masa Depan, Percuma Cari Pelarian

5 Mei 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO
Sehari-hari

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon” MOJOK.CO
Catatan

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
tren olahraga kalcer.MOJOK.CO

Tren dan FOMO Olahraga “Kalcer” yang Mahal Lahir karena Minimnya Fasilitas Publik di Perkotaan

29 Mei 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Arca Unfinished Buddha yang ada di Candi Borobudur. MOJOK.CO

Ketika Patung “Cacat” Buddha di Lapangan Kenari Borobudur Justru Jadi Pusat Spiritual dan Magnet Doa Saat Waisak

27 Mei 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.