“Ditambah, jabatan yang ku ambil saat seleksi CPNS ini merupakan formasi baru, sehingga sangat sulit mencari referensi soal tes SKB. Untungnya ada kisi-kisi dari Kemenpan-RB, ya walaupun isinya berupa seabrek Undang-Undang (UU) yang bikin mual,” kata Desi.
Karena merasa tak punya cukup waktu untuk membaca UU secara utuh, Desi mencoba bantuan Chat GPT. Dari sana, Desi mendapatkan soal-soal berdasarkan referensi UU tersebut. Selain itu, Desi juga membeli e-book berisi kumpulan soal untuk tambahan belajar.
“Waktu itu temanku yang ajak. Jadi, masing-masing dari kami iuran sekitar Rp60 ribu untuk akses try out online yang terdiri dari 6 paket soal,” jelas Desi.
Nyasar dan terlambat di hari seleksi CPNS
Di hari pelaksanaan seleksi CPNS untuk SKB, Desi masih harus menghadapi drama nyasar. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 13 menit (jarak 7 kilometer) menggunakan sepeda motor, jadi 30 menit karena Desi tak paham jalan.
“Aku nggak sadar awalnya, baru pas motoran lumayan jauh kok nggak sampai-sampai. Karena merasa aneh, akhirnya aku berhenti dan buka G-Maps. Ternyata beneran salah arah. Aku sampai nangis di jalan dan mengutuki kebodohan diri sendiri karena nyaris telat ikut tes,” kata Desi.
Masa kalah sebelum bertanding, pikir Desi waktu itu. Apalagi, ia sudah belajar rutin. Kalau sampai gagal sebelum tes, Desi bakal menyesal bertahun-tahun, mengingat peluangnya kali ini lebih besar. Terlebih, ini bukan seleksi CPNS pertamanya.
“Aku terus baca sholawat sepanjang jalan menembus kemacetan dan meyakinkan diri ‘wis, nek ancen rezekine ya Gusti Allah paring dalan’ (sudah, kalau memang rezekinya, Allah bakal memberikan jalan),” kata Desi.
Untungnya, Desi sampai lokasi tes dengan selamat meski terlambat. Ia pun bergegas lari dari lapangan parkir ke gedung tes. Melihat Desi yang buru-buru menuju ruangan, panitia hanya melihatnya dengan jutek. Syukurnya, ia masih diperbolehkan masuk.
Salah pilih formasi saat seleksi CPNS
Perjuangan Desi akhirnya tidak sia-sia karena ia diterima di salah satu jabatan pelaksana setelah melalui tahap seleksi CPNS. Nah, di sinilah letak penyesalannya. Sebelum mendaftar CPNS, Desi tak terlalu memperhatikan jabatan yang ia pilih di mana ada jabatan pelaksana atau jabatan fungsional.
“Jujur, aku daftarnya ngasal waktu itu. Ternyata, jabatan pelaksana itu tunjangannya lebih kecil,” kata Desi.
Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa instansi pilihannya memiliki tambahan penghasilan (tamsil) paling rendah di kampung halamannya.
“Jadi combo kecilnya hahaha, tapi ya sudah nggak apa-apa,” kata Desi berusaha menerima kenyataan tersebut.
Toh, salah satu hal yang paling ia syukuri adalah bisa mewujudkan keinginan orang tuanya, agar anaknya kerja sebagai PNS atau ASN. Lebih dari itu, Desi juga bersyukur bisa ditempatkan di daerah yang ia pilih mengingat banyak PNS yang mengundurkan diri karena penempatannya tak sesuai.
“Aku memang terselip sedikit keinginan untuk kembali ke kampung halaman dan merawat orang tuaku yang sudah semakin renta di sana. Soalnya adik-adikku juga di luar kota semua,” kata Desi.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














