Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sulitnya Penyandang Tunanetra Ikut Seleksi CPNS, Akses Dipersulit padahal Punya Kemampuan Lebih

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
18 November 2024
A A
seleksi cpns untuk penyandang tunanetra. MOJOK.CO

ilustrasi - sulitnya penyandang tunanetra ikut seleksi CPNS. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagian penyandang disabilitas, khususnya tunanetra masih kesulitan mendaftar seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Sistem pendaftaran yang tidak aksesibilitas berpeluang besar menggagalkan mereka saat tes. 

***

Alfian Andhika Yudhistira menjadi salah satu peserta tunanetra yang lolos seleksi CPNS tahun 2021. Usai lulus dari S1 Antropologi di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Alfian mempersiapkan diri untuk ikut seleksi hingga akhirnya lolos dan menjadi pegawai di Kementerian Desa (Kemendes).

Namun, tidak mudah bagi Alfian melalui proses seleksi tersebut. Stigma tentang orang berkebutuhan khusus yang tidak bisa apa-apa membuat mereka sering kali diremehkan. Belum lagi, lapangan pekerjaan yang sedikit dan aksesibilitas yang belum terpenuhi juga menghambat mereka mencari pekerjaan. 

Peluang peserta tunanetra lolos CPNS kecil

Sebagai “lulusan Corona”, tidak mudah mencari kerja saat pandemi. Begitu pun Alfian yang, selesai wisuda di Universitas Airlangga (Unair), sulit memperoleh pekerjaan. Pemuda penyandang tunanetra itu tak mau menyiakan-nyiakan peluang untuk mendaftar CPNS tahun 2021. 

“Kalau aku kan prioritasnya pandemi ya, butuh duit. Jadi ya udahlah cari kerja yang pasti-pasti aja dan yang kira-kira peluangnya lebih besar. Waktu itu juga nggak ngerti harus ngapain lagi,” kata Alfian kepada Mojok, Sabtu (16/11/2024).

Sebagai informasi, pemerintah pusat dan daerah menyediakan kuota paling sedikit 2 persen dari keseluruhan formasi CASN bagi penyandang disabilitas pada tahun 2021. Pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas tercantum dalam Undang-Undang No.8 Tahun 2016.

Bagi Alfian yang merupakan penyandang tunanetra, aturan itu membuat persaingan menjadi ketat. Jika diibaratkan, para penyandang berkebutuhan khusus harus bersaing 1 dibanding 10 dengan peserta seleksi CPNS lainnya.

“Karena kan setiap tahun kuoatnya cuman 2 persen dari total rekrutmen dan tidak semua perusahaan juga mau merekrut disabilitas. Sampai sekarang pun masih begitu,” ujarnya. 

Teknologi yang tidak aksesibilitas untuk tunanetra

Selain persaingan yang ketat, Alfian mengungkap banyak penyandang disabilitas khususnya tunanetra kesulitan saat tes, karena sistem atau teknologi yang dipakai oleh pemerintah. Jangkan mereka, orang-orang yang tidak menyandang disabilitas saja kesulitan. 

“Jadi kami nggak bisa baca soalnya. Ada sih jenis aplikasi pembaca layar yang dipasang di situ, tapi ketika itu dinyalakan yang dibaca hanya soal, jawabannya nggak,” ucapnya.

Selama ini Alfian sudah bejar dan berkutat menggunakan teknologi secara otodidak demi membantu segala aktivitasnya, termasuk saat kuliah. Jadi dia paham mana aplikasi yang menurutnya cocok dipakai untuk tunanetra.

Seleksi CPNS sendiri diadakan menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT), di mana seluruh tes dilaksanakan secara online menggunakan komputer. Namun, Alfian menyayangkan aplikasi yang digunakan pemerintah masih belum aksesibilitas. 

Berdebat sengit dengan petugas CPNS

Alfian sempat berdebat dengan petugas jaga agar bisa menggunakan laptop pribadinya saat tes CPNS. Alasannya, karena itu tadi. Alfian merasa tidak nyaman mengerjakan soal lewat komputer yang disediakan dengan aplikasi yang tidak aksesibilitas. 

Namun, petugas tetap berkelit agar Alfian tetap menggunakan komputer yang disediakan. Barangkali dia takut Alfian bermain “tidak jujur” saat menggunakan laptop pribadinya. Pada akhirnya petugas menawarkan bantuan untuk membacakan soal di layar.

Alfian tetap tak mau kalah berargumen. Dia merasa tidak nyaman jika petugas membacakan soal di ruangan besar. Belum lagi, kata dia, tidak semua orang bisa membaca dengan lugas.

“Kadang-kadang kan orang baca nggak ngerti titik komanya. Nah itu menyulitkan kami. Masalahnya kami dikejar waktu, meskipun penyandang disabilitas punya extra time,” kata dia.

Oleh karena itu, dia tak masalah jika ada 5-10 penjaga yang mengawasi di dekatnya, selama dia diperbolehkan menggunakan laptop pribadinya. Namun, petugas masih tidak mengizinkan. 

Iklan

Tak patah arang, Alfian akhirnya meminta izin agar aplikasi di laptopnya bisa dipasang di komputer yang disediakan. Dia sampai berbagi salah satu earphone-nya ke telinga petugas agar tidak dicurigai.

Sebetulnya, pemerintah juga sudah memberi waktu khusus untuk penyandang disabilitas sensori netra. Mereka diberi waktu pengerjaan soal selama 130 menit. Sementara, untuk peserta CPNS lain, hanya boleh mengerjakan selama 1 jam lebih 40 menit atau setara dengan 100 menit dengan jumlah soal 110 butir.

Namun, tetap saja Alfian merasa penambahan waktu tersebut tak cukup membantu, sebab soal-soal yang diberikan untuk teman-teman disabilitas lebih banyak deskriptif. Meskipun peserta lain lebih banyak mengerjakan soal numerik.

“Kalau dihitung-hitung sebetulnya sama aja. Toh jumlah soalnya juga sama,” kata Alfian.

Merasa dipersulit saat mendaftar CPNS

Selain itu, selama mendampingi teman-temannya yang juga penyandang disabilitas, Alfian sering mendapat keluhan mengenai kebingungan mereka menyiapkan syarat administrasi. Salah satunya adalah surat keterangan disabilitas, meski tidak semua kementerian atau lembaga meminta surat keterangan tersebut.

Saat meminta surat keterangan tersebut, rupanya masih banyak rumah sakit, puskesmas, ataupun klinik yang tidak paham. Petugas rumah sakit justru menanyakan, bagaimana bentuk surat tersebut? Sementara, teman-teman disabilitas juga bingung.

Setelah mencari tempat periksa yang paham, teman-teman disabilitas diperiksa untuk tingkat derajat disabilitasnya. Merujuk pada surat keterangan disabilitas milik Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Bali, terdapat derajat 1 sampai 6.

Mulai dari mampu melaksanakan aktivitas atau mempertahankan sikap dengan kesulitan, hingga tidak mampu penuh melaksanakan kegiatan sehari-hari meskipun dibantu penuh orang lain. Namun, Alfian sendiri ragu dengan penilaian tersebut. 

“Istriku saja, mandirinya sama kayak aku, teknologinya pintar, intinya bisa mandiri dan segala macam lah, tapi masih dikasih derajat 3 sama dokter,” ujar Alfian.

Gagal memahami teman-teman tunanetra

Selain surat keterangan disabilitas, peserta juga harus mengirimkan video kegiatan sehari-hari mereka sebagai pertimbangan penyeleksi. Ketika ada peserta yang derajat disabilitasnya rendah, penyeleksi bisa menyocokkannya dengan video tersebut.

Video, kata Alfian, seharusnya bisa lebih membuktikan kelayakan penyandang disabilitas untuk bekerja di bidang apapun termasuk CPNS. Sayangnya, dia merasa pengumpulan video itu sia-sia, sebab stigma bagi penyandang disabilitas sudah mengakar.

“950 orang dari seribu orang saya rasa nggak paham tentang disabilitas dan masih punya stigma negatif,” ucapnya.

“Tidak bisa dimungkiri bahwa yang banyak dikenalkan masyarakat di media itu kan disabilitas yang harus dikasihani, padahal ada juga yang punya kemampuan lebih dan berpendidikan tinggi,” lanjutnya.

Hingga saat ini, Alfian merasa belum ada perubahan soal hak-hak penyandang disabilitas untuk bekerja, terutama saat mendaftar CPNS. Padahal, dia sudah memberikan kritiknya melalui kotak saran.

“Dalam hal ini aku berani mengatakan pemerintah salah, penerapan untuk aksesibilitas itu gagal. Aku nggak takut ngomong kayak begini, karena memang faktanya salah dan harus diperbaiki,” ucapnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Saya Ikut CPNS 2021 sampai Tahap Akhir agar Tahu Sesulit Apa Jadi PNS

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 18 November 2024 oleh

Tags: Cpnskementerian desalowongan kerjaseleksi CPNStunanetra
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
Lulusan SMK buka jasa cleaning service. MOJOK.CO

Lulusan SMK Pernah Kerja Jadi Cleaning Service dengan Upah Rp20 per Jam, Kini Buka Usaha Sendiri hingga Hasilkan Omzet Rp70 Juta

29 Juli 2026
sarjana muda gusar mencari kerja. MOJOK.CO

Realita Sarjana Muda Gusar Mencari Kerja: 4 Tahun Lamanya Berkutat dengan Buku, Lulus Kuliah Memilih Pasrah

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026
Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026
TPU Farm: Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan MOJOK.CO

TPU Farm: Ketika Cabai Tumbuh di Area Makam

17 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.