Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
5 Februari 2026
A A
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Ilustrasi - pengasuh anak (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bayangkan, kamu menghabiskan waktu empat tahun di bangku kuliah, begadang demi mengerjakan skripsi, hingga akhirnya berhasil mendapatkan gelar sarjana.

Dengan ijazah S1, harapanmu di dunia kerja pasti besar. Misalnya, bisa kerja kantoran, kerja sesuai passion, atau kerja dengan gaji yang besar.

Sialnya, bagi Nadya Grisczenkow (25), realitas tak seindah harapan. Bukannya kerja di gedung-gedung tinggi, ia justru harus kerja di rumah-rumah orang kaya untuk mengawasi para balita.

Ya, Nadya adalah satu dari sekian banyak lulusan perguruan tinggi yang harus berhadapan dengan kerasnya dunia kerja. Ketika pintu-pintu kantor seolah tertutup rapat bagi para fresh graduate, ia mengambil sebuah langkah yang bagi sebagian orang dianggap agak lain, yakni menjadi seorang pengasuh anak atau nanny.

“Awalnya saya merasa seperti kegagalan total. Saya punya gelar sarjana, tapi saya malah menyeka ingus anak orang lain di taman bermain,” ujarnya, seperti dikutip dari Business Insider, Kamis (5/2/2026).

Gengsi nggak bikin kenyang para sarjana

Setelah lulus kuliah di Monclair State University pada 2024 lalu, Nadya merasa dirinya mampu bersaing di dunia kerja. Setidaknya dengan bekal ijazah sarjana, ia bakal mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

Sialnya, banyak lamaran kerja mengendap di email tanpa ada satupun balasan. Dalam situasi itu, ia menyadari bahwa untuk bisa kerja kantoran di kota besar seperti Boston tidaklah mudah.

Sementara itu, ia juga terus dihantui oleh utang pinjaman pendidikan (student loan) yang menumpuk dan biaya hidup yang terus melonjak. 

“Saya harus melakukan apa saja untuk mendapatkan pekerjaan tetap,” ungkapnya.

Dalam situasi mendesak itu, ia melihat celah. Di kompleks perumahan mewah kota Boston, ia menyebutnya rumah-rumah “kaum 1 persen”, ada lowongan pekerjaan untuk pengasih anak. Upah yang ditawarkan pun cukup besar.

Awalnya, ia ragu buat melamar. Ada rasa canggung, bahkan sedikit malu, saat ia harus menceritakan pekerjaannya kepada teman-teman sejawatnya yang mulai bekerja sebagai karyawan kantoran di kotanya.

“Untuk apa kuliah tinggi jika akhirnya kembali ke urusan popok dan botol susu?” pikirnya kala itu.

Namun, lulusan sarjana ini sadar, gengsi tak bisa mengisi perut yang lapar. Nadya pun memantapkan hati untuk melamar kerja sebagai nanny.

Upahnya tak main-main, nyaris Rp500 ribu per jam

Satu hal yang paling mengejutkan dari profesi ini adalah upahnya. Di saat teman-temannya yang bekerja di kantor harus puas dengan gaji yang pas-pasan–bahkan terkadang harus lembur demi bayaran tambahan–Nadya justru mendapatkan upah yang sangat tak masuk akal.

Iklan

Bayaran sebesar 30 dolar AS per jam (sekitar Rp470 ribu) bukanlah angka yang kecil. Dalam satu minggu, pendapatannya bisa jauh melampaui gaji karyawan kantoran di kotanya.

Belum lagi fasilitas tambahan yang sering ia dapatkan. Seperti jaminan makan hingga kesempatan bepergian bersama keluarga pemberi kerja.

Secara logika, pilihan Nadya ini sangat masuk akal. Lulusan sarjana ini tak lagi harus pusing memikirkan bagaimana cara melunasi cicilan utang pendidikannya. Stabilitas finansial yang selama ini ia idamkan justru datang dari pekerjaan yang awalnya ia pandang sebelah mata.

“Pekerjaan ini tidak masuk akal untuk ditolak. Saya dibayar 30 dolar per jam untuk melakukan sesuatu yang saya kuasai, sementara teman-teman saya di kantor hanya dibayar separuhnya untuk bekerja dua kali lebih lama,” jelasnya.

Gelar sarjana sangat membantu proses pengasuhan

Seiring berjalannya waktu, Nadya menyadari bahwa pekerjaannya bukan sekadar menjaga anak. Bekerja sebagai nanny, ia juga belajar tentang psikologi perkembangan anak, manajemen waktu, hingga keterampilan berkomunikasi yang sangat kompleks.

Ia menjadi saksi mata bagaimana seorang anak belajar mengucapkan kata pertamanya, atau bagaimana seorang balita belajar berani menghadapi rasa takutnya. 

Nadya menemukan bahwa gelar sarjananya ternyata sangat membantu. Pola pikir kritis, kemampuan berbahasa yang baik, dan wawasannya yang luas membuatnya menjadi pengasuh yang disukai oleh keluarga-keluarga kaya tersebut. 

Mereka tidak hanya mencari seseorang untuk menjaga anak, tetapi mencari sosok pendamping yang terdidik bagi buah hati mereka.

Ada kepuasan emosional yang tak terduga. Hubungan yang terjalin antara dirinya dan anak-anak asuhnya menjadi sangat erat. Di dunia yang serba cepat, dan seringkali jahat, ia menemukan kehangatan dalam pelukan kecil seorang balita yang merasa aman di dekatnya.

“Ada sesuatu yang sangat istimewa saat seorang anak berlari ke arahmu dan memelukmu seolah-olah kamu adalah pusat semesta mereka. Itu adalah jenis validasi kerja yang tidak akan pernah kamu dapatkan dari email atasan di kantor.”

Kata “sukses” terkadang harus dimaknai ulang

Kisah Nadya membuka mata kita tentang apa arti sukses yang sebenarnya di zaman sekarang. Apakah sukses itu harus berarti memiliki jabatan mentereng di sebuah kantor, atau berjalan di jalur lain seperti Nadya? Kalian yang menentukkan.

Yang jelas, Nadya kini telah berdamai dengan pilihannya. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai sarjana yang gagal masuk ke dunia kerja. Sebaliknya, ia melihat dirinya sebagai perempuan cerdas yang mampu melihat peluang di tengah kesempitan. 

Ia membuktikan bahwa profesi pengasuh anak adalah profesi yang mulia dan profesional, yang jika ditekuni dengan serius, mampu memberikan kualitas hidup yang sangat layak.

“Dulu saya pikir pekerjaan ini hanyalah ‘batu loncatan’, tapi kemudian saya sadar bahwa ini adalah karier yang sah, menantang, dan sangat dihargai oleh orang-orang yang tepat.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA: Putus Asa usai Ditolak Kerja Ratusan Kali, Sampai Dihina Saudara karena Hanya Jadi Sarjana Nganggur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Februari 2026 oleh

Tags: babysitterlulusan S1lulusan sarjananannypengasuh bayiS1sarjana
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kuliah s2.MOJOK.CO
Edumojok

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Ortu dihina karena miskin. Anak kuliah sebagai mahasiswa jurusan Psikologi UIN buktikan lulusan PTN ecek-ecek malah hidup lebih terhormat MOJOK.CO
Edumojok

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Anak Kuliah di UIN, Dicap PTN Ecek-ecek tapi Lulus Punya Karier Lebih Terhormat

25 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO
Urban

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.