Aris, seorang perantau asal Jawa Timur, kerap diremehkan karena tinggal di kos kumuh Jogja. Profesinya pun juga kadang dipandang miring: penjual pecel lele. Namun, ia berhasil membungkam mulut tetangga dengan membangun rumah besar di desa hasil dari merantau.
“Nggak ada yang lebih bikin puas selain bisa bikin mingkem mulut tetangga yang selalu ngomongin keluarga saya,” ujarnya, saat ditemui di warungnya, Rabu (24/2/2026) malam.
Merantau adalah simbol kedewasaan
Di desa tempat Aris tinggal di Lamongan, Jawa Timur, ada sebuah kebanggaan tersendiri bagi anak laki-laki yang memutuskan pergi merantau. Tradisi ini sudah mengakar kuat di masyarakat. Orang-orang desa menganggap, seorang anak muda baru pantas disebut laki-laki sejati kalau berani keluar dari zona nyamannya dan mencari penghidupan di kota orang.
Harapannya sudah sangat jelas: pulang membawa uang, mengubah nasib keluarga, dan mengangkat derajat orang tua di desa.
Namun, jalan hidup yang dipilih Aris agak berbeda dari kebanyakan teman sebayanya. Saat teman-temannya berlomba-lomba mendaftar kerja di pabrik, Aris justru memilih jalur yang berbeda. Ia memutuskan berangkat ke Jogja untuk membuka usaha kecil-kecilan dengan berjualan pecel lele.
Keputusan Aris tentu saja langsung memancing omongan. Di desa, profesi penjual pecel lele pinggir jalan sering dipandang sebelah mata dan dianggap tidak punya wibawa. Orang melihatnya hanya sebagai pekerjaan kasar.
Berkutat dengan bau amis ikan, menahan asap minyak goreng, dan mengulek sambal setiap malam bukanlah gambaran kesuksesan yang diidamkan di mata para tetangganya.
“Tapi saya bodo amat. Sejak awal sudah menghitung kok, kalau usaha pecel lele itu akan sangat menguntungkan,” jelasnya.
Kebal hinaan sejak kecil
Namun, cibiran tentang pekerjaannya itu sebenarnya belum seberapa menyakitkan. Jauh sebelum ia membulatkan tekad untuk merantau, Aris sudah kenyang menelan omongan tidak enak dari lingkungan sekitarnya.
Masalah utamanya ada pada kondisi ekonomi keluarganya sendiri. Sejak Aris masih kecil, rumah yang ia tinggali bersama orang tuanya adalah bangunan yang paling jelek di antara jejeran rumah tetangganya. Bangunannya sudah reot, lantainya seadanya, dan kondisinya sangat memprihatinkan.
“Sejak lahir precet, rumah memang belum pernah renov. Dapur masih tanah, yang tembokan cuma ruang belakang. Kalau dilihat memang paling jelek rumah saya,” akunya.
Kondisi rumah yang jauh dari kata layak itu seringkali membuat Aris merasa sangat minder saat bergaul. Tatapan meremehkan dari orang-orang sekitar ketika melihat tempat tinggalnya menjadi makanan sehari-hari.
Namun, rasa minder dan sakit hati itu tidak ia biarkan menjadi beban pikiran yang berlarut-larut. Justru omongan itulah yang menjadi dorongan terkuatnya untuk pergi mencari penghidupan. Ia ingin membuktikan bahwa keluarganya bisa bangkit dan pantas dihargai oleh lingkungan. Sejak 2018, ia memutuskan merantau ke Jogja.
Merasakan kerasnya hidup di Jogja
Tiba di lingkungan barunya, Aris langsung merasakan betapa kerasnya jalan hidup yang ia pilih. Berjualan pecel lele di kawasan padat seperti Condongcatur ternyata menguras tenaga yang luar biasa besar.
Ia harus bangun pagi-pagi buta untuk belanja kebutuhan ke pasar, siang harinya dihabiskan untuk membersihkan ikan lele dan meracik bumbu, lalu malamnya ia harus berdiri di balik tenda melayani pembeli hingga dini hari.
“Lihat nih tangan, sampai kebal kena cipratan minyak panas,” tawanya, sambil memperlihatkan lengannya yang penuh bopeng.
Namun, di balik penampilan dan pekerjaannya yang sederhana, penghasilan pemuda yang sedang merantau ini sebenarnya jauh dari kata sedikit. Warung pecel lelenya selalu laris manis didatangi pelanggan.
Berkat ketekunannya, ia bisa meraup omzet hingga puluhan juta rupiah dalam sebulan. Sebuah angka pendapatan yang bahkan mungkin sulit dicapai oleh teman-temannya yang bangga berseragam pabrik tadi.
Meski memegang uang dalam jumlah besar, Aris tidak lantas hidup foya-foya atau gelap mata. Di saat anak muda lain di Jogja asyik menghabiskan uang untuk nongkrong di kafe hits Jogja atau menyewa kamar kos yang bagus demi gengsi, Aris memilih menekan egonya dalam-dalam.
Ia tinggal di sebuah kos bedeng yang sangat sederhana, sempit, dan terkesan kumuh. Baginya, kenyamanan tidur di tanah perantauan bukanlah sebuah prioritas. Uang hasil keringatnya punya tujuan yang jauh lebih penting dari sekadar validasi orang-orang.
Sedikit demi sedikit, Aris mulai menabung dengan disiplin. Rencananya sudah sangat bulat: ia ingin membangun ulang rumah masa kecilnya di desa yang selalu dihina itu.
Uang hasil merantau berbuah rumah besar di desa
Namun, membangun sebuah rumah permanen tentu membutuhkan biaya besar. Aris sadar ia tidak bisa langsung membangunnya dalam hitungan satu atau dua bulan. Maka, mulailah ia bersiasat dengan mencicil pembangunannya.
Uang dari hasil menggoreng lele dan ayam itu ia kirimkan ke kampung halaman langsung dalam wujud material bangunan. Awalnya, truk pengangkut pasir datang ke pekarangan rumahnya.
Bulan berikutnya, giliran semen dan puluhan ribu batu bata yang ditumpuk. Ketika material dirasa sudah cukup, proses renovasi pun pelan-pelan dimulai. Keputusannya untuk merantau akhirnya mulai memperlihatkan hasil nyata.
“Bagian pertama, ya dikit-dikit, Mas, renov ruang tamu. Biar kalau ada orang kelihatan pantas,” kata dia.
Setelah ruang tamu selesai, tabungan Aris pun terkuras habis. Ia pun kembali fokus berjualan, mengumpulkan pundi-pundi rupiah di bedeng kumuhnya tanpa banyak mengeluh.
Beberapa bulan kemudian, uang terkumpul lagi, dan kali ini giliran kamar tidur yang mulai direnovasi. Begitu terus polanya berulang. Pembangunan berlanjut ke ruang keluarga, lalu yang terakhir menyentuh area dapur.
“Sedikit demi sedikit, rumah reot saya sekarang sudah jadi yang paling besar di lingkungan desa,” kata dia.
Butuh waktu sekitar empat tahun lamanya bagi Aris untuk menyelesaikan “proyek” ini. Namun, hasilnya sangat sepadan. Kini, sebuah rumah besar, permanen, dan bagus berdiri gagah menggantikan gubuk masa kecilnya.
Masih tetap dicaci, tapi bodo amat
Perubahan drastis ini tentu saja membuat gempar orang-orang di kampung. Mereka yang dulu sering meremehkan keluarga Aris kini mendadak kehabisan kata-kata. Pekerjaan yang mereka anggap kampungan dan berbau amis itu, ternyata mampu membangun rumah yang jauh lebih bagus dari milik mereka sendiri.
Di titik ini, mental baja seorang pemuda yang berani merantau benar-benar teruji dan terbayar lunas.
Namun, yang namanya tetangga, selalu ada saja celah untuk mencari-cari kesalahan. Ketika mereka sudah tidak bisa lagi menghina kondisi rumah keluarga Aris di desa, sasaran cibiran pun bergeser. Mereka mulai menyoroti kehidupan sehari-hari Aris di Jogja.
Kabar burung bahwa Aris hanya tinggal di kos bedeng yang kumuh di kota itu diolah menjadi senjata nyinyir yang baru.
“Buat apa rumah di kampung besar, kalau di sananya tidurnya berdesakan di kos kumuh? Kasihan hidupnya pasti susah di kota,” begitu kira-kira gunjingan yang sering ia dengar.
Mendengar omongan tak sedap itu sampai ke telinganya, Aris sama sekali tidak tersinggung atau marah. Ia sudah mencapai titik pendewasaan di mana omongan orang tidak lagi ada artinya. Baginya, kos kumuh dan bau asap pecel lele di tempat ia mencari nafkah adalah harga yang sangat pantas dibayar untuk kesuksesan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













