Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
6 Februari 2026
A A
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Ilustrasi - Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bekerja di tanah asal menjadi salah satu kelebihan, tidak terkecuali untuk gen Z. Tidak perlu mengeluarkan biaya khusus untuk tinggal karena ada rumah orang tua (ortu), tidak perlu memikirkan makan karena masuk tanggungan. Juga, tidak perlu terlalu khawatir soal transportasi. Ada kendaraan yang sudah tersedia, atau orang tua yang bisa mengantarkan sesekali.

Namun, kerja dari kota yang sama dengan yang didiami keluarga melahirkan beban tersendiri. Data juga menunjukkan kerentanan anak yang mengalami gangguan mental tinggal bersama keluarga, dengan gen Z yang memperoleh persentase paling tinggi. Alhasil, pergi memang bukan menjadi solusi, bahkan terkesan melarikan diri, tetapi mampu membantu menjaga kewarasan diri.

Gen Z lebih menyadari kondisi rumah yang kurang baik

Sebagai salah satu dari penghuni sebuah tempat, kesadaran terhadap kondisi tempat tersebut sudah melekat utuh. Setidaknya bagi Salma (24) yang mengakui, rumahnya bukanlah tempat yang nyaman untuk ditinggali terlalu lama. 

“Ibuku mengalami masalah kondisi kesehatan, sudah lama. Begitulah, rumah kurang kondusif,” katanya, Kamis (5/2/2025).

Salma menceritakan, kedua orang tuanya masih lengkap. Dia juga berasal dari keluarga yang utuh. Tapi, kata “utuh” menjadi cukup kompleks apabila diartikan dari sudut pandang Salma. Menurut KBBI, utuh berarti sempurna sebagaimana adanya atau sebagaimana semula (tidak berubah, tidak rusak, tidak berkurang). Lain dengan kamus Salma, baginya makna utuh terpenggal pada “sebagaimana adanya”. Bisa jadi adanya adalah telah berubah, telah rusak, atau berkurang. Toh, begitulah adanya.

Bermula dari kondisi kesehatan ibu yang kian serius, keluarga utuhnya menjadi sebagaimana sebuah keluarga yang berusaha untuk melengkapi peran-peran yang perlahan mulai kosong. Utamanya, bapak mencoba mengambil alih.

“Ketika ibu nggak ada, bapak yang jadi mendominasi di rumah,” kata Salma.

Ada dominasi peran orang tua dalam mengepalai keluarga

Absennya ibu dalam beberapa bagian besarnya membuat bapak menjadi sosok yang lebih berkuasa. Setidaknya, Salma mengatakan, bapak tidak jarang bertitah untuk kehidupannya.

“Kalau bisa, bekerja di rumah aja. Bantu ngurus rumah,” kata Salma.

Di sinilah, dilema Salma mencuat. Dia menyadari kondisi rumah yang kurang baik, bahwa bapak mungkin juga kelelahan dalam berperan ganda. Namun, kondisinya menjadi serbasalah: memilih untuk bekerja (sekaligus mengurus) rumah atau bekerja dengan lebih fokus sendiri di luar kota.

Merantau sedari kuliah, bisa jadi melarikan atau mewaraskan diri

Yang sebenarnya, Salma sudah menyimpan kegelisahannya sejak lama. Dia telah meninggalkan rumah sejak kuliah, meredam bibit-bibit perenungan panjang soal keluarga atau karier yang harus dipikirkan beberapa tahun mendatang.

Begitu saatnya tiba, bekerja di luar Kota Purwokerto yang menjadi daerah asalnya bisa dengan mudah dibenarkan melalui alasan sebab sudah berkuliah di Yogyakarta. Kampus negeri pula. Rasanya, bisa dibayangkan orang awam akan lebih mudah menerima alasan tersebut tanpa mengulik lebih dalam.

Itulah yang meninggalkan Salma pada alasan sebenarnya yang coba disembunyikan, “Karena kondisi rumah nggak ideal. Menjaga kedekatan dengan tetap ada jarak juga menjaga kewarasan,” kata Salma.

Keresahan Salma tidak hanya dialaminya seorang diri. Pertimbangan untuk tidak berada dalam jarak terlalu dekat dengan keluarga pun valid. Data Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, melalui olahan Harian Kompas, menunjukkan sebanyak 1.719.844 juta orang yang tinggal bersama dalam keluarga utuh mengalami gangguan kesehatan mental. 587.342 orang di antaranya adalah anggota keluarga berstatus anak.

Iklan

Bagi anak seusia Salma, data dari sumber yang sama bahkan mencatatkan bahwa anak yang mengalami gangguan mental di keluarga utuh paling banyak berasal dari generasi Z kelahiran tahun 1997 hingga 2012 sebesar 40,7 persen. Alhasil, pergi memang bukan menjadi solusi, terkesan melarikan diri, tetapi mampu menjaga kewarasan diri.

Baca halaman selanjutnya…

Gen Z dibebani tanggung jawab anak berbakti dan “bank berjalan”

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 8 Februari 2026 oleh

Tags: bank berjalanbeban finansialberbaktiGen Zkariermentalorang tuapekerjaperantaupilihan redaksirumah
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO
Urban

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.