Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
6 Februari 2026
A A
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Ilustrasi - Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gen Z tidak lantas lari dari tanggung jawab ketika bekerja

Bagaimanapun, Salma menyadari tanggung jawabnya sebagai anak. Sekalipun tidak berada di rumah yang sama dengan keluarganya, Salma mengatakan dirinya mempunyai siasat sendiri untuk terlibat dalam keluarga. Dia mengupayakan tetap hadir. 

Salah satunya, diwujudkan melalui kepulangan secara rutin ke rumah. Setidaknya dua kali dalam sebulan, Salma akan mengunjungi rumah pada akhir pekan, dan ini sudah berlangsung sejak dirinya kuliah.

Orang-orang biasa menyebutnya dengan istilah nglaju untuk pulang pergi dari rumah ke tempat tujuan, tapi, mendengarkan cerita pulang pergi pada akhir pekan rasanya perlu dihargai sama. Bayangkan, menempuh setidaknya dua jam perjalanan dan mengeluarkan sedikitnya Rp70 ribu untuk tiket kereta satu kali perjalanan bukan sesuatu yang bisa dipandang remeh. Salma harus menyisihkan Rp280 dalam sebulan, empat hari dari delapan libur yang dimiliki, dan waktu istirahat yang bisa diperolehnya sebelum kembali pada rutinitas.

“Karena sudah bekerja, sesekali aku juga bantu untuk membeli kebutuhan. Aku kirim ke rumah, aku juga keep in touch dengan keluarga,” kata Salma.

Berada di persimpangan keinginan pulang, bakti, dan karier

Meski sudah berusaha semampunya, tidak lantas menghilangkan beban moral dari pundak Salma. Usahanya berkontribusi secara finansial dan membagikan waktu istirahat masih belum terasa cukup, sesekali terlintas pikiran untuk benar-benar kembali ke rumah dan mengikuti kata orang tuanya.

“Kalau menyeimbangkan pikiran dan perasaan, aku sering kepikiran, apa kerja di rumah aja? Kayak kata Bapak?” katanya.

Namun, di sisi lain, pertanyaan itu berbenturan dengan pertanyaan lain, “Kalau begitu, apa aku harus menjadi ibu aja? Atau menjadi apa yang aku mau?” pungkas Salma. 

Bukan hanya dirinya, perempuan kelahiran 2001, Resti (24), mengamini berkurangnya beban yang didapatkan apabila merantau tanpa mengelak kenyamanan rumah yang mungkin saja mengubah keputusannya untuk bekerja di luar kota. Perempuan yang meninggalkan Sidoarjo untuk bekerja di Mojokerto itu juga menuturkan keinginannya untuk bekerja di rumah apabila memungkinkan.

“Sebenarnya kalau rumah aman, nyaman, dan tenang mah enak di rumah ya. Ngapain kita merantau? Tapi, ya,” kata Resti, Kamis (5/2/25).

Resti menyadari posisinya sebagai seorang anak. Menurutnya, adalah tugasnya untuk patuh kepada orang tua sebagai bentuk bakti. Namun, nilai yang harus dibayarkan dengan mentalitasnya sendiri itu seakan memberatkan langkah Resti untuk mewujudkannya, dan mengedepankan karier.

Tinggal di rumah bisa jadi tambahan beban pengeluaran gen Z

Bukan hanya soal karier, Resti mengakui bahwa tinggal di rumah tidak selamanya gratis. Bahkan, tinggal di rumah mengharuskan Resti untuk mengorbankan dirinya sendiri. Dalam posisi ini, rumah menjadi prioritas sehingga menomorduakan diri.

Padahal, Resti menilai, untuk dapat berkembang, dibutuhkan waktu untuk diri sendiri. Harus ada ruang khusus yang sayangnya tidak bisa diberikan apabila tinggal bersama orang tua di rumah.

“Kita seorang anak ya, harus bertanggung jawab dan harus menurut patuh ke orang tua. Tapi ya, ada hal lainya kita juga butuh, butuh untuk menyederhanakan pikiran dan butuh untuk memberikan waktu ke diri sendiri agar kita bisa fokus kepada apa yang kita tuju,” akunya.

Setelah itu, hal-hal lain akan ikut terseret dalam pusaran masalah yang menambahkan beban tersendiri. Bagi Resti, penghasilannya bahkan tidak dapat dikatakan sebagai pendapatannya. Pemasukan Resti secara otomatis juga menjadi milik orang tua yang menuntutnya untuk berkontribusi dalam finansial.

Iklan

“Orang tua pasti menuntut banyak, makanya kita harus pulang. Tapi, orang tua kan selalu minta uang, jadinya kayak nggak pernah ngerti. Mereka cuma nyariin aku kalau butuh uang. Itu juga yang membuatku kesal,” katanya.

Mendengarkan ini, bisa dibayangkan bahwa Resti merasa demikian karena bebannya berlipat ganda. Ada tuntutan kerja, tuntutan sebagai anak, serta “bank berjalan” bagi orang tuanya. Jadilah, solusi akhir yang paling sederhana setidaknya adalah melarikan diri dari rumah dengan bekerja di luar kota.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA Duka Setelah Merantau: Ketika Rumah Menjadi Tempat yang Asing untuk Pulang atau liputan Mojok lainnya di rubrik liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 8 Februari 2026 oleh

Tags: bank berjalanbeban finansialberbaktiGen Zkariermentalorang tuapekerjaperantaupilihan redaksirumah
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO
Esai

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO
Urban

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Sri Sultan HB X dan Dubes Qatar siapkan kejutan program event di Yogyakarta dari kerja sama di bidang kesenian dan kebudayaan MOJOK.CO

Usai Temui Sri Sultan HB X, Dubes Qatar Siapkan Kejutan Program Event Kebudayaan di Yogyakarta

3 Agustus 2026
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.