Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Lipsus

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

Kenia Intan oleh Kenia Intan
27 April 2026
A A
Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman (Dok: Mojok/Kenia Intan)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada mitos seperti ini. Hubungan tidak akan langgeng kalau membawa pacar ke Candi Prambanan. Sebaliknya, hubungan akan awet kalau membawa pacar ke Candi Plaosan.

Mitos itulah yang membuat Candi Plaosan Klaten begitu populer di kalangan calon pengantin yang ingin melakukan foto pre-wedding. Siang hari itu misalnya, pasangan dengan kostum adat dan riasan lengkap datang silih berganti. Berjam-jam saya nongkrong di Candi Plaosan setidaknya ada 5 pasangan melakukan sesi pemotretan. Kata penjaga di sana, sehari bisa ada 10 pasangan yang melakukan foto pre-wedding.

Nuri Yanto (40) pemandu wisata yang merupakan bagian dari Kelompok Sadar Wisata (Pordakwis) Plaosan, Dukuh Bugisan, tidak memungkiri mitos romantis Plaosan yang membuatnya populer di kalangan para calon manten. Di samping, Candi Plaosan memang indah dijadikan latar belakang berfoto. 

Mitos itu muncul karena teori populer dari Johannes Gijsbertus de Casparis. Menurut Casparis, candi ini adalah hadiah dari Rakai Pikatan, Raja Medang (Mataram Kuno) yang beragama Hindu untuk Pramodawardhani dari Wangsa Syailendra yang beragama Buddha. Narasi itu didukung dengan perpaduan corak Buddha dan Hindu di dalamnya. Terlebih, candi induknya menyimbolkan laki-laki dan perempuan. 

Akan tetapi, Nuri bilang teori itu tak kuat dan banyak dibantah. “Narasi itu bukan dari sumber primer,” jelas Nuri, Jumat (10/4/2026). Dia menekankan, ada nilai yang lebih penting dibanding cerita dua sejoli beda agama yang belum terbukti kebenarannya. 

Candi Plaosan kompleks candi Buddha 

Candi Plaosan adalah Candi Buddha yang dibangun para penguasa Dinasti Syailendra pada awal abad ke-8, sezaman dengan Candi Borobudur dan Candi Ratu Boko. Corak Buddha terlihat dari tokoh-tokoh Buddha yang mengisi candi induk. Selain itu terdapat Perwara Stupa yang mengelilinginya. 

Bagi yang belum pernah ke Candi Plaosan, kompleks candi ini berada di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten. Terdapat dua kompleks Candi Plaosan yakni utara dan selatan. 

Candi Plaosan Lor (utara) dengan dua candi induk yang berdiri megah menjadi daya tarik utamanya. Dua candi kembar yang menghadap ke barat itu menyimbolkan perempuan (candi utama sisi utara) dan laki-laki (candi utama sisi selatan), terlihat dari relief dan arca yang ada di dalam candi.

Candi kembar ini dikelilingi oleh candi-candi kecil disebut perwara. Ada perwara yang berdiri utuh, tapi lebih banyak yang berbentuk reruntuhan. Nuri menjelaskan setidaknya ada 174 candi kecil yang mengelilingi candi induk. 

Sejauh ini diketahui ada 50 candi perwara biasa, 116 perwara stupa, dan sisanya adalah candi-candi patok. Jumlahnya kemungkinan akan bertambah mengingat ekskavasi masih terus dilakukan. Adapun untuk sekarang, perwara 1, 3, 10, 2, dan 50 tengah dalam proses pemugaran dengan dukungan dari Djarum Foundation.

Pengunjung di antara candi-candi perwara yang mengelilingi Candi Plaosan. (Dok: Mojok.co/Kenia Intan)

Nilai toleransi dan gotong royong yang kuat 

Candi Buddha ini begitu unik karena memiliki beberapa corak Hindu di dalamnya. Misalnya, candi perwara atau candi pendamping berbentuk perwara ratna, seperti pura-pura di Bali yang identik dengan agama Hindu. Walau memang, ada sumber lain yang mengatakan, perwara tersebut lebih mirip arsitektur gaya Jawa Kuno daripada pura. 

Sentuhan Hindu lain adalah Prasasti Kemuncak pada perwara stupa deret 15 yang berbunyi “anumoda rakai gurun wani dyah saladu”. Anumoda merupakan ungkapan sukacita atau ikut bersukacita. Dalam konteks Candi Plaosan, bisa dikatakan sebagai penyumbang atau orang yang ikut menyumbang. Rakai merupakan pejabat setingkat bupati pada masa Mataram Kuno. Gurun wani adalah wilayah yang dipimpin oleh rakai atau bupati tadi. Dan, dyah saladu adalah nama Rakai Pikatan saat masih menjabat sebagai bupati, sebelum dia menjadi raja besar yang kelak membangun Candi Prambanan. 

“Kalau dia membangun Prambanan, berarti dia kan beragama Hindu Siwa. Sementara Plaosan ini kan candi Buddha. Jadi, bisa terlihat di abad ke-8, atmosfer dari toleransi itu sudah begitu kental,” jelas Nuri. 

Dia menambahkan, menurut catatan Casparis, “penyumbang” Candi Plaosan bisa mencapai 50 nama. Kemungkinan besar lebih banyak dari itu karena kompleks Candi Plaosan sekarang ini belum versi final. Ekskavasi dan penelitian masih terus dilakukan. Bukan tidak mungkin ada 70 hingga 80 nama yang menyumbang. 

Iklan

“Melihat banyaknya nama-nama yang menyumbang, itu menggambarkan adanya nilai kerja sama dan gotong royong di masa lalu hingga bisa menghasilkan Candi Plaosan,” imbuh dia. 

Nuri menunjukkan Prasasti Kemuncak di Candi Plaosan, Jumat (10/11/2026). (Dok: Mojok/Kenia Intan)
Nuri menunjukkan Prasasti Kemuncak di Candi Plaosan, Jumat (10/11/2026). (Dok: Mojok/Kenia Intan)

Dia menegaskan, kisah romantis manis yang mewarnai Candi Plaosan memang menarik. Namun, pengunjung jangan sampai terbuai lalu melupakan nilai intinya, toleransi dan gotong royong. Dua nilai yang sudah hidup di tengah-tengah kita sejak ribuan tahun silam dan masih akan relevan tahun-tahun ke depan. 

Itulah kenapa dilakukan upaya pemugaran terhadap perwara Candi Plaosan, yang harapannya bisa dirampungkan pada akhir 2026 nanti. Sebab, dengan bantuan pemugaran dari Djarum Foundation tersebut, harapannya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Candi Plaosan dapat terbangun kembali agar bisa terus terhubung dengan generasi-generasi berikutnya. 

Bagi yang berminat menikmati uniknya Candi Plaosan bisa langsung berkunjung pada hari Senin-Minggu pukul 07.30-17.30 WIB. Tiket masuknya sebesar Rp10.000 untuk dewasa dan Rp2.000 untuk anak-anak.

Ingat, walau menjadi tempat wisata yang bebas dikunjungi siapapun, candi ini tetaplah tempat ibadah yang masih digunakan oleh saudara-saudara beragama Buddha. Maka, menjaga sopan santun dan kebersihan adalah hal wajib. 

Penulis: Kenia Intan 
Editor: Aly Reza

BACA JUGA Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 27 April 2026 oleh

Tags: candicandi klatencandi plaosancandi plaosan klatenklatenplaosan
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co
Lipsus

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO
Sosok

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
Suzuki Satria FU, motor yang pernah bikin penunggangnya merasa paling tampan tapi kini memalukan MOJOK.CO

Suzuki Satria FU: Dulu Motor yang Bikin Tampan dan Idaman Pasangan, Tapi Kini Terasa Jamet dan Memalukan

22 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Cerminan pemberdayaan dan kontribusi nyata perempuan di Kota Semarang MOJOK.CO

Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University

22 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.