Ada mitos seperti ini. Hubungan tidak akan langgeng kalau membawa pacar ke Candi Prambanan. Sebaliknya, hubungan akan awet kalau membawa pacar ke Candi Plaosan.
Mitos itulah yang membuat Candi Plaosan Klaten begitu populer di kalangan calon pengantin yang ingin melakukan foto pre-wedding. Siang hari itu misalnya, pasangan dengan kostum adat dan riasan lengkap datang silih berganti. Berjam-jam saya nongkrong di Candi Plaosan setidaknya ada 5 pasangan melakukan sesi pemotretan. Kata penjaga di sana, sehari bisa ada 10 pasangan yang melakukan foto pre-wedding.
Nuri Yanto (40) pemandu wisata yang merupakan bagian dari Kelompok Sadar Wisata (Pordakwis) Plaosan, Dukuh Bugisan, tidak memungkiri mitos romantis Plaosan yang membuatnya populer di kalangan para calon manten. Di samping, Candi Plaosan memang indah dijadikan latar belakang berfoto.
Mitos itu muncul karena teori populer dari Johannes Gijsbertus de Casparis. Menurut Casparis, candi ini adalah hadiah dari Rakai Pikatan, Raja Medang (Mataram Kuno) yang beragama Hindu untuk Pramodawardhani dari Wangsa Syailendra yang beragama Buddha. Narasi itu didukung dengan perpaduan corak Buddha dan Hindu di dalamnya. Terlebih, candi induknya menyimbolkan laki-laki dan perempuan.
Akan tetapi, Nuri bilang teori itu tak kuat dan banyak dibantah. “Narasi itu bukan dari sumber primer,” jelas Nuri, Jumat (10/4/2026). Dia menekankan, ada nilai yang lebih penting dibanding cerita dua sejoli beda agama yang belum terbukti kebenarannya.
Candi Plaosan kompleks candi Buddha
Candi Plaosan adalah Candi Buddha yang dibangun para penguasa Dinasti Syailendra pada awal abad ke-8, sezaman dengan Candi Borobudur dan Candi Ratu Boko. Corak Buddha terlihat dari tokoh-tokoh Buddha yang mengisi candi induk. Selain itu terdapat Perwara Stupa yang mengelilinginya.
Bagi yang belum pernah ke Candi Plaosan, kompleks candi ini berada di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten. Terdapat dua kompleks Candi Plaosan yakni utara dan selatan.
Candi Plaosan Lor (utara) dengan dua candi induk yang berdiri megah menjadi daya tarik utamanya. Dua candi kembar yang menghadap ke barat itu menyimbolkan perempuan (candi utama sisi utara) dan laki-laki (candi utama sisi selatan), terlihat dari relief dan arca yang ada di dalam candi.
Candi kembar ini dikelilingi oleh candi-candi kecil disebut perwara. Ada perwara yang berdiri utuh, tapi lebih banyak yang berbentuk reruntuhan. Nuri menjelaskan setidaknya ada 174 candi kecil yang mengelilingi candi induk.
Sejauh ini diketahui ada 50 candi perwara biasa, 116 perwara stupa, dan sisanya adalah candi-candi patok. Jumlahnya kemungkinan akan bertambah mengingat ekskavasi masih terus dilakukan. Adapun untuk sekarang, perwara 1, 3, 10, 2, dan 50 tengah dalam proses pemugaran dengan dukungan dari Djarum Foundation.

Nilai toleransi dan gotong royong yang kuat
Candi Buddha ini begitu unik karena memiliki beberapa corak Hindu di dalamnya. Misalnya, candi perwara atau candi pendamping berbentuk perwara ratna, seperti pura-pura di Bali yang identik dengan agama Hindu. Walau memang, ada sumber lain yang mengatakan, perwara tersebut lebih mirip arsitektur gaya Jawa Kuno daripada pura.
Sentuhan Hindu lain adalah Prasasti Kemuncak pada perwara stupa deret 15 yang berbunyi “anumoda rakai gurun wani dyah saladu”. Anumoda merupakan ungkapan sukacita atau ikut bersukacita. Dalam konteks Candi Plaosan, bisa dikatakan sebagai penyumbang atau orang yang ikut menyumbang. Rakai merupakan pejabat setingkat bupati pada masa Mataram Kuno. Gurun wani adalah wilayah yang dipimpin oleh rakai atau bupati tadi. Dan, dyah saladu adalah nama Rakai Pikatan saat masih menjabat sebagai bupati, sebelum dia menjadi raja besar yang kelak membangun Candi Prambanan.
“Kalau dia membangun Prambanan, berarti dia kan beragama Hindu Siwa. Sementara Plaosan ini kan candi Buddha. Jadi, bisa terlihat di abad ke-8, atmosfer dari toleransi itu sudah begitu kental,” jelas Nuri.
Dia menambahkan, menurut catatan Casparis, “penyumbang” Candi Plaosan bisa mencapai 50 nama. Kemungkinan besar lebih banyak dari itu karena kompleks Candi Plaosan sekarang ini belum versi final. Ekskavasi dan penelitian masih terus dilakukan. Bukan tidak mungkin ada 70 hingga 80 nama yang menyumbang.
“Melihat banyaknya nama-nama yang menyumbang, itu menggambarkan adanya nilai kerja sama dan gotong royong di masa lalu hingga bisa menghasilkan Candi Plaosan,” imbuh dia.

Dia menegaskan, kisah romantis manis yang mewarnai Candi Plaosan memang menarik. Namun, pengunjung jangan sampai terbuai lalu melupakan nilai intinya, toleransi dan gotong royong. Dua nilai yang sudah hidup di tengah-tengah kita sejak ribuan tahun silam dan masih akan relevan tahun-tahun ke depan.
Itulah kenapa dilakukan upaya pemugaran terhadap perwara Candi Plaosan, yang harapannya bisa dirampungkan pada akhir 2026 nanti. Sebab, dengan bantuan pemugaran dari Djarum Foundation tersebut, harapannya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Candi Plaosan dapat terbangun kembali agar bisa terus terhubung dengan generasi-generasi berikutnya.
Bagi yang berminat menikmati uniknya Candi Plaosan bisa langsung berkunjung pada hari Senin-Minggu pukul 07.30-17.30 WIB. Tiket masuknya sebesar Rp10.000 untuk dewasa dan Rp2.000 untuk anak-anak.
Ingat, walau menjadi tempat wisata yang bebas dikunjungi siapapun, candi ini tetaplah tempat ibadah yang masih digunakan oleh saudara-saudara beragama Buddha. Maka, menjaga sopan santun dan kebersihan adalah hal wajib.
Penulis: Kenia Intan
Editor: Aly Reza
BACA JUGA Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.














