Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Lipsus

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

Kenia Intan oleh Kenia Intan
24 April 2026
A A
Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing (dok: Mojok.co/Kenia Intan)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Terasa gerah. Namun, hal itu tidak menghalangi wisatawan mengunjungi kompleks Candi Plaosan yang berada di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten. Walau tidak begitu ramai, pengunjung siang itu datang silih berganti. Tua, muda, warga lokal, orang asing, semua tertarik melihat candi yang diperkirakan ada sejak abad ke-9 Masehi itu. 

“Biasanya pagi atau sore lebih ramai, Mbak,” kata Juru Pelihara Candi Plaosan, Gunawan (53), Jumat (10/4/2026), saat ngobrol di bawah pohon dekat pintu masuk candi. 

Selain suasana yang syahdu, pemandangan di pagi dan sore hari lebih ciamik. Di pagi hari, candi tampak magis dengan paparan cahaya matahari pagi yang lembut. Kebetulan dua candi induk Plaosan menghadap ke arah barat, ke arah matahari terbit. Keberadaan kabut tipis membuat suasana semakin magis. 

Di sore hari, pengunjung bisa menyaksikan candi dengan latar belakang langit yang tak kalah elok: langit siang yang sebelumnya biru cerah perlahan diwarnai semburat jingga menyala, lalu berganti menjadi ungu menuju petang.

Sebenarnya pemandangan indah di Candi Plaosan sudah tidak diragukan. Sekitar 2013-2014, saat candi masih dikelilingi sawah, tempat ini sangat populer di kalangan fotografer. Sawah dengan latar belakang candi dan langit pagi atau sore yang indah menjadi komposisi foto paling favorit.

“Dulu fotografer sampai jongkok-jongkok di sekitar sawah untuk dapat gambar,” kenang Nuri Yanto (40), warga dan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Plaosan, Dukuh Bugisan. 

Saat ini, sawah yang mengelilingi memang sudah tiada karena perluasan ekskavasi kompleks Candi Plaosan. Namun, keindahannya masih tetap ada dan bisa dinikmati pengunjungnya mulai dari pukul 07.30-17.00 WIB.

Menikmati pemandangan dengan harga terjangkau 

Dibanding Candi Prambanan yang hanya terpisah 2,6 km jauhnya, Candi Plaosan memang masih kalah populer. Namun, perlahan, situs yang kerap dijuluki dengan candi kembar ini mulai masuk “radar” wisatawan lokal maupun luar negeri. 

“Sudah punya jaringan dengan driver-driver, sehingga turis, khususnya turis asing, bisa dibawa ke sini,” tutur Gunawan.  

Salah satu wisatawan yang datang berkat rekomendasi supir adalah Al Hafiz (23) dari Kuala Lumpur, Malaysia. Setelah menghadiri acara pernikahan kerabat di Boyolali, dia dan keluarga sengaja menjelajahi tempat wisata yang ada di Jawa Tengah. Dan, Candi Plaosan masuk dalam salah satu rekomendasi supir yang mengantar mereka. 

Betapa kaget Hafiz ketika tahu tarif masuk Candi Plaosan hanya dipatok Rp50.000 saja. Sebab, di tempat wisata lain, tarif masuk untuk turis asing kadang tidak masuk akal. Lebih dari itu, dia tidak mengira Candi Plaosan ternyata luas dan aksesnya relatif mudah. Orang tua dan anak-anak bisa menikmati candi dengan nyaman. 

Sebagai informasi, harga tiket masuk di hari biasa dan akhir pekan dipatok sama. Pengunjung lokal tarifnya Rp10.000 untuk orang dewasa dan Rp2.000 untuk anak-anak. Sementara turis asing dikenai Rp50.000.  

Wisatawan menikmati Candi Plaosan, Jumat (10/04/2026). (Dok: Mojok.co/Kenia)

Fasilitas Candi Plaosan yang nyaman 

Harga tiket yang ramah di kantong juga membuat Yola Rezki Handika (23) dan Septha Bayu Saputra (20) senang berkunjung ke Candi Plaosan Klaten. Pemuda asal Purworejo yang sedang kuliah di Jogja itu merasa tarifnya cocok untuk mahasiswa mendang-mending seperti mereka. 

Dengan harga segitu pengunjung bisa dapat fasilitas yang memadai. Misal, gerbang masuk kawasan candi yang sudah dilengkapi dengan alat pemindai tiket QRIS. Jalan masuk area candi pun mudah karena belum lama ini ada penambahan jalur pejalan kaki dari kayu. Di dalam kompleks candi juga sudah tersedia toilet dan musala. Lingkungan sekitar candi pun bersih, tidak ada sampah berserakan. 

Iklan

Kalau pengunjung kepanasan atau kelelahan, mereka bisa duduk-duduk di bawah pohon dekat pintu masuk candi. Dari sana mereka bisa menikmati pemandangan dua candi induk tanpa harus lelah berjalan kaki. Pengunjung yang haus atau lapar juga bisa jajan di warung-warung yang berada tepat di pintu keluar kawasan candi. 

Septha yang gemar menyusuri candi-candi belum populer mengaku sudah beberapa kali mengunjungi Plaosan. Dia pun melihat perkembangan yang semakin baik dari tiap kunjungannya. Selain kompleks candi yang kian luas, penemuan-penemuannya baru terus ada. Itu mengapa, dia tidak ragu merekomendasikan tempat ini ke orang lain. 

Kendati menuai pujian dari pengunjung, Gunawan dan Nuri sepakat Candi Plaosan sebenarnya bisa lebih dimaksimalkan dibanding kondisi saat ini. Terlebih, candi ini sebenarnya punya potensi wisata yang sangat besar. Misal, pengunjung sebenarnya bisa menikmati Candi Plaosan Klaten dipadukan dengan paket wisata lain seperti bersepeda di sekitar kawasan candi, menikmati gejok lesung, hingga membatik. Dengan begitu, pariwisata candi bisa lebih berdampak untuk warga sekitar. 

Tambahan fasilitas di Candi Plaosan, Jumat (10/04/2026). (Dok: Mojok/Kenia Intan)

Mengenal kompleks Plaosan

Bagi kalian yang belum tahu, Candi Plaosan Klaten dibangun oleh para penguasa Dinasti Syailendra yang terdiri atas Plaosan Lor (utara) dan Plaosan Kidul (selatan). Jarak keduanya tidak begitu jauh, terpisah jalan kampung sekitar 1 km saja. Bahkan, dari pintu keluar Candi Plaosan Lor kalian sudah bisa melihat pintu masuk candi Plaosan Kidul yang berada di sisi selatan. 

Candi Plaosan Lor dengan dua candi induk yang berdiri megah menjadi daya tarik utamanya. Dua candi induk yang berjejeran itu menyimbolkan perempuan (candi utama sisi utara) dan laki-laki (candi utama sisi selatan), terlihat dari relief dan arca yang ada di dalam candi.

Candi induk kembar itu dikelilingi oleh candi-candi kecil disebut perwara. Beberapa candi “pendamping” ada yang berdiri utuh, tapi lebih banyak yang masih dalam berbentuk reruntuhan. 

Nuri menjelaskan setidaknya ada 174 candi kecil yang mengelilingi candi utama. Sejauh ini diketahui ada 50 perwara biasa, 116 stupa perwara, dan sisanya adalah candi-candi patok. Kemungkinan jumlahnya masih bisa bertambah ke depan karena ekskavasi terus dilakukan. Adapun sekarang ini Perwara 1, 3, 10, 2, dan 50 tengah dalam proses pemugaran dengan dukungan dari Djarum Foundation. Harapannya, pemugaran tersebut bisa selesai di akhir 2026 ini, sehingga 1 per 1 perwara dapat berdiri dengan utuh. 

Selain candi kembar yang ikonik, Candi Plaosan Klaten unik karena arsitekturnya perpaduan Buddha dan Hindu. Corak Buddha terlihat dari keberadaan Dhyani Boddhisatwa, stupa, dan ukiran teratai. Sentuhan Hindu terlihat dari candi perwara yang mengelilinginya adalah perwara ratna yang mirip dengan pura-pura di Bali. 

Keunikan ini menyimpan cerita panjang yang sarat akan nilai toleransi dan gotong royong. Nilai-nilai inilah yang membuatnya penting untuk dilestarikan dan diketahui lebih banyak orang. 

Penulis: Kenia Intan
Editor: Aly Reza

BACA JUGA Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 April 2026 oleh

Tags: candi klatencandi plaosancandi plaosan klatenhidden gem klatenklatenplaosanwisata klaten
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO
Sosok

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Saya Orang Jogja yang Iri pada Klaten yang Keberadaannya Makin Diperhitungkan Mojok.co
Pojokan

Klaten Daerah Tertinggal yang Perlahan Berubah Menjadi Surga, Dulu Diremehkan dan Dianggap Kecil Kini Sukses Bikin Iri Warga Jogja

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
Merintis Jastip ala Mahasiswa Flores Cuan Jutaan Tiap Bulan MOJOK.CO

Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan

23 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026
Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik”, Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin

21 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.