Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 April 2026
A A
Lulusan SMK cuma kerja jadi pegawai di SPBU, diremehkan saudara tapi malah jadi tempat ngutang MOJOK.CO

Ilustrasi - Lulusan SMK cuma kerja jadi pegawai di SPBU, diremehkan saudara tapi malah jadi tempat ngutang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hanya lulusan SMK dan kerja di SPBU awalnya membuat Kaka (19) diremehkan saudara. Namun, di saat yang sama, justru ia jadi tempat ngutang saudara yang kekurangan uang. 

***

H-2 lebaran lalu, dalam perjalanan balik dari Surabaya ke Jombang menjelang tengah malam, saya berhenti di sebuah Indomaret di perbatasan Sidoarjo-Mojokerto. 

Tidak ada kursi untuk duduk di depan Indomaret. Maka saya memutuskan duduk ngemper di teras kecilnya. Saat itulah saya akhirnya berbincang dengan Kaka, dimulai dari Kaka meminjam korek api untuk menyulut rokok. 

Kaka ternyata baru saja ganti shift di sebuah SPBU tempatnya bekerja. Ia memutuskan tidak langsung pulang. Ingin nyebat sambil ngemil dulu di Indomaret. 

Diremehkan saudara karena hanya lulusan SMK dan langsung kerja

Obrolan dengan Kaka membuka mata saya, ternyata bagi sebagian orang, pendidikan bukan semata untuk membuka cakrawala pengetahuan dan investasi hidup jangka panjang. Tapi juga menjadi gengsi sosial. 

Ketika ada orang lulus SMA/SMK tidak lanjut kuliah, maka dianggapnya jalan hidupnya akan suram. Tanpa perlu melihat konteks dari orang yang memilih tidak kuliah tersebut. 

“Anak-anak saudara dikuliahkan. Orang tuaku sebenarnya juga mau menguliahkan. Tapi aku nggak mau. Sejak awal, aku milih sekolah SMK kan biar kalau lulus siap kerja. Aku harus lebih cepat membantu keuangan orang tua. Itu membuatku juga yakin nggak kuliah,” ujarnya. 

Kaka bukannya tidak tahu ada beasiswa. Tapi motifnya memang ingin lekas membantu orang tua. Minimal sudah bisa menghasilkan pendapatan sendiri. Kalau ada lebih syukur untuk tambah-tambah kebutuhan rumah. 

Tidak ada saudara yang tahu perihal motif Kaka tersebut. Alhasil, ada saja saudara yang meremehkan Kaka karena hanya berhenti sebagai lulusan SMK. Framing saudaranya: orang tua bersedia menguliahkan, tapi Kaka saja yang tidak mau. 

Setelah lulus sekolah, Kaka sempat menjajal bekerja di pabrik sekitar. Setelah masa kontraknya habis dan tidak diperpanjang, ia kemudian diterima kerja di sebuah SPBU yang memang mensyaratkan batas minimal pendidikan lulusan SMA/SMK/sederajat. 

Kerja sebagai pegawai di SPBU: saudara pura-pura tidak kenal tiap isi bensin

Asap rokok mengepul dari mulut Kaka, lalu dengan antusias ia menceritakan bagian yang menurutnya lucu:

Pertemuan dengan saudara sendiri di SPBU tidak terhindarkan. Terutama jika Kaka sedang dapat shift pagi atau siang. Apalagi SPBU tempat Kakak kerja memang jadi SPBU terdekat dari gang kampung Kaka. 

“Kalau anak-anak saudara yang kuliah, kalau kebetulan pulang dan isi bensin pas aku shift, mereka santai-santai saja sebenarnya. Guyon-guyon lah. Beda kalau orang tua mereka yang isi, terutama ibu-ibu mereka,” beber Kaka. 

Iklan

Sebab, jika ibu-ibu mereka yang mengisi bensin saat bertepatan dengan Kakak yang mengisi, kesannya seperti orang tidak kenal. Menyapa pun tidak. Pokoknya benar-benar seperti tidak kenal sama sekali. 

Mereka antre, menyebut angka pembelian, bayar, lalu pergi. Mirisnya adalah yang terjadi di luar itu…

Dikira punya uang segepok (gaji segepok), jadi tempat ngutang

Ada seorang saudara perempuan yang mengira bahwa gaji Kaka dari kerja di SPBU mestinya segepok. Sebab, SPBU selalu ramai nyaris 24 jam. 

Selain itu, biasanya dalam melayani pelanggan, pegawai SPBU (operator) menggenggam segepok uang. Biasanya untuk jaga-jaga kembalian. 

Nah, saudara Kaka beranggapan: dengan uang masuk yang sebanyak itu di SPBU, artinya gaji yang Kaka terima—meskipun hanya lulusan SMK—juga sama besarnya. 

“Gaji UMK sini. Ya Rp3 juta kurang dikit lah.” Kaka tidak mau menyebut angka pasti. Pamali katanya. 

Tapi yang jelas, gara-gara anggapan tersebut, ada saja saudara yang bisik-bisik ingin ngutang ke Kaka. Alasannya yang bikin Kaka ngelus dada.

Menghina lulusan SMK, tapi utang buat kuliah anak

Seorang saudara perempuannya terus terang, ia utang sering kali menggunakan alasan: anaknya yang kuliah butuh uang kiriman, sementara suaminya belum ada uang. 

Dengan terus terang pula Kaka tidak memberikan utangan. Sebab, uang gajinya memang ia peruntukkan untuk membantu kebutuhan rumah dan hidupnya sendiri. 

Memang, di depan Kaka, saudaranya tersebut bilang tidak masalah saat Kakak menolak memberi utangan. Toh Kaka juga menolaknya dengan tetap menjaga kesantunan. Tidak lantas belas dendam dengan membalik omongan mereka tentang Kaka yang hanya lulusan SMK, tidak kuliah, dan kerja sebagai pegawai SPBU. 

“Anak-anak saudara yang kuliah sesekali juga utang ke aku. Angkanya sih kecil, paling ya Rp200 ribu, Rp300 ribu. Kalau segitu masih kuutangi. Alasan mereka, kehabisan uang, belum dapat kiriman,” kata Kaka. 

“Tapi miris saja. Karena kalau lihat kehidupan mereka dari media sosial, mereka kan kayak foya-foya gitu. Ngopa-ngopi di kafe, healing entah ke mana, naik gunung. HP dan motor mereka bagus-bagus,” tutupnya. 

Pada akhirnya, situasi itu semakin meyakinkan Kaka bahwa pilihannya tidak lanjut kuliah sudah tepat. Bukan karena ia tidak peduli pendidikan, tapi karena situasi mengharuskannya begitu. Ia tidak ingin menjadi beban orang tuanya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Lulusan SMK Ngaku Kerja Gaji 20 Juta Perbulan agar Ortu Tak Direndahkan, Tapi Masih Tak Cukup buat Ikuti Standar Sukses di Desa  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 21 April 2026 oleh

Tags: kerja di spbulowongan kerja lulusan smklowongan kerja spbulowongan kerja spbu lulusan smklulusan SMKpegawai spbuSPBU
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO
Urban

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
Alfath, mahasiswa berprestasi UGM Jogja lulusan SMK di Klaten
Sekolahan

Sempat Banting Tulang Jadi Kuli Bangunan saat SMK, Kini Pemuda Asal Klaten Dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UGM

11 April 2026
SPBU Diserbu Jadi Bukti Buruknya Komunikasi Pemerintah MOJOK.CO
Tajuk

SPBU Diserbu: Isu Stok BBM 20 Hari Bikin Panik Menjadi Wujud Buruknya Komunikasi Pemerintah dan Publik Sulit untuk Percaya

9 Maret 2026
Lulusan SMK ngaku dapat gaji 20 juta saat kerja di Sidoarjo agar orang tua tidak direndahkan karena standar sukses di desa MOJOK.CO
Urban

Lulusan SMK Ngaku Kerja Gaji 20 Juta Perbulan agar Ortu Tak Direndahkan, Tapi Masih Tak Cukup buat Ikuti Standar Sukses di Desa

12 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026
Frugal Living, healing, MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

26 Mei 2026
Rozi, dosen penyandang disabilitas Unair yang lulus S3. MOJOK.CO

Perjalanan Dosen Unair yang Kehilangan 2 Kaki, Berhasil Selesaikan Kuliah S3 di FKH dengan IPK Sempurna

27 Mei 2026
Sebat Bareng menjadi upaya sederhana merespons kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Berlangsung di 16 daerah MOJOK.CO

Sebat Bareng di 16 Kabupaten/Kota: Cara Sederhana Tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Pengingat Industri Kretek Masih Dibutuhkan Indonesia

31 Mei 2026
Gambaran rapuhnya masyarakat kita di tengah teror pocong keliling MOJOK.CO

Teror Pocong Keliling Bukan Sekadar Iseng, Jadi Gambaran Masalah Sosial-Digital di Tengah Masyarakat Kita

26 Mei 2026

Video Terbaru

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

14 Mei 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.