Hanya lulusan SMK dan kerja di SPBU awalnya membuat Kaka (19) diremehkan saudara. Namun, di saat yang sama, justru ia jadi tempat ngutang saudara yang kekurangan uang.
***
H-2 lebaran lalu, dalam perjalanan balik dari Surabaya ke Jombang menjelang tengah malam, saya berhenti di sebuah Indomaret di perbatasan Sidoarjo-Mojokerto.
Tidak ada kursi untuk duduk di depan Indomaret. Maka saya memutuskan duduk ngemper di teras kecilnya. Saat itulah saya akhirnya berbincang dengan Kaka, dimulai dari Kaka meminjam korek api untuk menyulut rokok.
Kaka ternyata baru saja ganti shift di sebuah SPBU tempatnya bekerja. Ia memutuskan tidak langsung pulang. Ingin nyebat sambil ngemil dulu di Indomaret.
Diremehkan saudara karena hanya lulusan SMK dan langsung kerja
Obrolan dengan Kaka membuka mata saya, ternyata bagi sebagian orang, pendidikan bukan semata untuk membuka cakrawala pengetahuan dan investasi hidup jangka panjang. Tapi juga menjadi gengsi sosial.
Ketika ada orang lulus SMA/SMK tidak lanjut kuliah, maka dianggapnya jalan hidupnya akan suram. Tanpa perlu melihat konteks dari orang yang memilih tidak kuliah tersebut.
“Anak-anak saudara dikuliahkan. Orang tuaku sebenarnya juga mau menguliahkan. Tapi aku nggak mau. Sejak awal, aku milih sekolah SMK kan biar kalau lulus siap kerja. Aku harus lebih cepat membantu keuangan orang tua. Itu membuatku juga yakin nggak kuliah,” ujarnya.
Kaka bukannya tidak tahu ada beasiswa. Tapi motifnya memang ingin lekas membantu orang tua. Minimal sudah bisa menghasilkan pendapatan sendiri. Kalau ada lebih syukur untuk tambah-tambah kebutuhan rumah.
Tidak ada saudara yang tahu perihal motif Kaka tersebut. Alhasil, ada saja saudara yang meremehkan Kaka karena hanya berhenti sebagai lulusan SMK. Framing saudaranya: orang tua bersedia menguliahkan, tapi Kaka saja yang tidak mau.
Setelah lulus sekolah, Kaka sempat menjajal bekerja di pabrik sekitar. Setelah masa kontraknya habis dan tidak diperpanjang, ia kemudian diterima kerja di sebuah SPBU yang memang mensyaratkan batas minimal pendidikan lulusan SMA/SMK/sederajat.
Kerja sebagai pegawai di SPBU: saudara pura-pura tidak kenal tiap isi bensin
Asap rokok mengepul dari mulut Kaka, lalu dengan antusias ia menceritakan bagian yang menurutnya lucu:
Pertemuan dengan saudara sendiri di SPBU tidak terhindarkan. Terutama jika Kaka sedang dapat shift pagi atau siang. Apalagi SPBU tempat Kakak kerja memang jadi SPBU terdekat dari gang kampung Kaka.
“Kalau anak-anak saudara yang kuliah, kalau kebetulan pulang dan isi bensin pas aku shift, mereka santai-santai saja sebenarnya. Guyon-guyon lah. Beda kalau orang tua mereka yang isi, terutama ibu-ibu mereka,” beber Kaka.
Sebab, jika ibu-ibu mereka yang mengisi bensin saat bertepatan dengan Kakak yang mengisi, kesannya seperti orang tidak kenal. Menyapa pun tidak. Pokoknya benar-benar seperti tidak kenal sama sekali.
Mereka antre, menyebut angka pembelian, bayar, lalu pergi. Mirisnya adalah yang terjadi di luar itu…
Dikira punya uang segepok (gaji segepok), jadi tempat ngutang
Ada seorang saudara perempuan yang mengira bahwa gaji Kaka dari kerja di SPBU mestinya segepok. Sebab, SPBU selalu ramai nyaris 24 jam.
Selain itu, biasanya dalam melayani pelanggan, pegawai SPBU (operator) menggenggam segepok uang. Biasanya untuk jaga-jaga kembalian.
Nah, saudara Kaka beranggapan: dengan uang masuk yang sebanyak itu di SPBU, artinya gaji yang Kaka terima—meskipun hanya lulusan SMK—juga sama besarnya.
“Gaji UMK sini. Ya Rp3 juta kurang dikit lah.” Kaka tidak mau menyebut angka pasti. Pamali katanya.
Tapi yang jelas, gara-gara anggapan tersebut, ada saja saudara yang bisik-bisik ingin ngutang ke Kaka. Alasannya yang bikin Kaka ngelus dada.
Menghina lulusan SMK, tapi utang buat kuliah anak
Seorang saudara perempuannya terus terang, ia utang sering kali menggunakan alasan: anaknya yang kuliah butuh uang kiriman, sementara suaminya belum ada uang.
Dengan terus terang pula Kaka tidak memberikan utangan. Sebab, uang gajinya memang ia peruntukkan untuk membantu kebutuhan rumah dan hidupnya sendiri.
Memang, di depan Kaka, saudaranya tersebut bilang tidak masalah saat Kakak menolak memberi utangan. Toh Kaka juga menolaknya dengan tetap menjaga kesantunan. Tidak lantas belas dendam dengan membalik omongan mereka tentang Kaka yang hanya lulusan SMK, tidak kuliah, dan kerja sebagai pegawai SPBU.
“Anak-anak saudara yang kuliah sesekali juga utang ke aku. Angkanya sih kecil, paling ya Rp200 ribu, Rp300 ribu. Kalau segitu masih kuutangi. Alasan mereka, kehabisan uang, belum dapat kiriman,” kata Kaka.
“Tapi miris saja. Karena kalau lihat kehidupan mereka dari media sosial, mereka kan kayak foya-foya gitu. Ngopa-ngopi di kafe, healing entah ke mana, naik gunung. HP dan motor mereka bagus-bagus,” tutupnya.
Pada akhirnya, situasi itu semakin meyakinkan Kaka bahwa pilihannya tidak lanjut kuliah sudah tepat. Bukan karena ia tidak peduli pendidikan, tapi karena situasi mengharuskannya begitu. Ia tidak ingin menjadi beban orang tuanya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Lulusan SMK Ngaku Kerja Gaji 20 Juta Perbulan agar Ortu Tak Direndahkan, Tapi Masih Tak Cukup buat Ikuti Standar Sukses di Desa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














