Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
17 Mei 2026
A A
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

Ilustrasi sesuatu di Jogja. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meskipun dianggap bumi dan langit, nyatanya, Pandeglang dan Jogja itu punya kesamaan. Sama-sama nggak ramah buat pekerja, dan sama-sama ditinggalkan anak mudanya yang tak betah sama keadaan kotanya. Bahkan, urusan nrimo ing pandum pun, dua kota ini juga sama saja.

***

Malam Minggu kemarin, saya nongkrong di sebuah warung kopi di Jogja bersama seorang kawan asal Pandeglang. Obrolan kami awalnya mengalir santai, ngobrol seputar nilai tukar rupiah yang makin loyo dan harga kebutuhan pokok pelan-pelan naik mencekik leher.

Di tengah obrolan itu, teman saya ini tiba-tiba tersenyum getir dan melempar pernyataan telak. “Lama-lama aku rasa,  Jogja ini sebenarnya sebelas dua belas sama Pandeglang. Sama-sama hancur buat orang yang mau cari duit,” katanya, Sabtu (16/5/2026) malam kemarin.

Awalnya saya agak mengernyitkan dahi. Selama ini, saya nyaris tidak pernah terpikir perbandingan seperti itu. 

Di atas kertas, Jogja dan Pandeglang seperti bumi dan langit. Jogja adalah kota pelajar, pusat kebudayaan, dan destinasi wisata yang selalu diromantisisasi.

Sementara Pandeglang, di kepala banyak orang, hanyalah kabupaten di ujung barat Pulau Jawa itu yang lebih sering diidentikkan dengan jalan rusak dan ketertinggalan. 

Namun, setelah mendengarkan alasan kawan saya lebih lanjut, ternyata masuk akal juga. Kedua kota ini ternyata mengidap “penyakit” struktural yang sama persis.

UMR Pandeglang dan Jogja sama-sama bikin pekerja tersiksa

Kesamaan pertama, yang paling menampar, adalah soal upah minimum. Bagi Mamad (27), teman saya yang sudah lima tahun merantau di Jogja itu, saat masih berstatus mahasiswa, tinggal di Jogja memang terasa seperti surga. 

Harga makanan di burjo dan angkringan serba murah. Biaya sewa kos juga masih terjangkau. Namun, tentu saja, rasa enak itu ada karena gaya hidupnya waktu itu masih disubsidi penuh oleh uang saku bulanan dari orang tua.

Begitu lulus dan masuk dunia kerja sejak akhir 2024 lalu, realitas upah murah langsung terasa mencekik. 

“Nggak di Pandeglang, nggak di Jogja, nyari kerjaan yang gajinya punya kepala tiga (tiga jutaan rupiah) saja susahnya minta ampun,” jelasnya.

Pernyataan teman saya itu rupanya sangat masuk akal jika kita menelisik data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Faktanya, UMK Pandeglang tahun 2024 menyentuh angka Rp3.010.000. 

Coba bandingkan dengan Kota Jogja yang tertatih di angka Rp2.492.000. Belum lagi jika melihat kabupaten lain di sekitarnya seperti Gunungkidul yang hanya di kisaran Rp2,1 juta.

Iklan

Saya berpikir, kawan saya ini merantau jauh-jauh dari daerah yang sering dilabeli tertinggal menuju kota yang dianggap jauh lebih menjanjikan. Namun, nyatanya keringat dan waktunya dibayar lebih murah.

Sama-sama ditinggalkan anak mudanya

Kesamaan kedua, anak mudanya sama-sama frustrasi dan terpaksa memilih eksodus meninggalkan kampung halamannya. Di Pandeglang, alasannya sangat jelas. Anak mudanya pergi merantau mencari pabrik ke Tangerang atau Jakarta karena minimnya lapangan pekerjaan yang layak di daerah asal.

“Nyari anak muda di Pandeglang susah. Karena banyak yang pergi ke luar daerah,” kata Mamad.

Di Jogja, situasinya justru jauh lebih ironis. Jogja memang menjadi kota rujukan banyak orang dari berbagai daerah untuk kuliah dan bekerja. Namun, anak muda aslinya perlahan-lahan tersingkir. 

Bukti paling nyata bisa dilihat saat arus mudik Lebaran. Saat sedang meliput arus mudik lebaran lalu, Kepala Seksi BPTD Kelas II DIY Anang Dwi Suryanto bercerita kepada saya bahwa tahun ini ratusan ribu pemudik kampung ke Jogja.

Bahkan, peserta mudik gratis menggunakan bus yang dibiayai kementerian perhubungan, sebagian besar dari Jogja.

Jika Jogja adalah surga bagi pekerja, lalu ke mana selama ini orang-orang asli Jogja itu pergi mencari nafkah? Jawabannya tentu saja eksodus merantau ke luar daerah.

Frustrasi anak muda lokal ini tervalidasi jika kita melihat rasio ketimpangan ekonomi. BPS konsisten mencatat bahwa DIY adalah provinsi dengan Gini Ratio tertinggi di Indonesia. Artinya, jurang ketimpangan antara si kaya dan si miskin sangatlah lebar. 

Perputaran uang di Jogja mungkin besar dan fasilitas kian modern, tapi hanya bisa dinikmati oleh segelintir elite atau pendatang berduit. Sementara itu, harga tanah dan properti meroket gila-gilaan. 

Anak muda Pandeglang terusir dari kotanya karena tak ada pekerjaan, sedangkan anak muda Jogja terusir dari tanah kelahirannya sendiri karena sudah tak sanggup lagi membelinya menggunakan standar UMR lokal.

Pandeglang dan Jogja pun sama-sama punya konsep “nrimo ing pandum”

Di balik kemiskinan struktural tersebut, muncul kesamaan ketiga yang membuat perbaikan nasib kelas pekerja terasa sangat mustahil: tidak ada gejolak sosial berarti dari warganya. Baik di Jogja maupun Pandeglang, masyarakatnya sama-sama mengidap “kepasrahan” yang akut alias nrimo ing pandum.

“Lho jangan salah lho. Orang Pandeglang lebih nrimo ing pandum daripada di sini,” ujar Mamad sambil tertawa.

Di Pandeglang, sikap diam ini sering dibalut oleh kultur “Kota Santri” dan sistem patronase yang kuat. Ketika infrastruktur rusak bertahun-tahun atau ekonomi daerah terus mandek, masyarakatnya cenderung pasrah. Kemiskinan sering direduksi menjadi takdir dan cobaan hidup yang harus diterima dengan ikhlas tanpa banyak protes.

Sementara itu, di Jogja, mesin pembungkamnya berwujud feodalisme dan jargon-jargon kebudayaan. Konsep “nrimo ing pandum” atau menerima apa adanya pembagian nasib membuat kemiskinan sering diwajarkan demi menjaga kerukunan dan kedamaian semu.

Ujung dari kepasrahan massal ini sama saja. Elite politik di Pandeglang dan para pemangku kebijakan di Jogja bisa tidur nyenyak setiap malam. Mereka tidak pernah merasa terancam jabatannya karena tahu persis warganya terlalu penurut dan kerap menganggap protes sebagai tindakan yang kurang sopan.

“Bedanya, ya, di Jogja masih ada demo meskipun sering dilabelin perusuh sama ormas lokal. Kalau di Pandeglang, nah itu, terlalu nurut sampai demo pun nggak ada,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Mei 2026 oleh

Tags: anak muda jogjabantenJogjakota jogjaMahasiswa Jogjapandeglangpandeglang bantenperantau di jogjapilihan redaksiumr jogjaumr pandeglang
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO
Kabar

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.