Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

Gabriella Sunsugos Sianturi oleh Gabriella Sunsugos Sianturi
13 Juli 2026
A A
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Ilustrasi Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menjadi sehat adalah anugerah. Namun, bagi penyandang disabilitas, terlihat sehat justru bisa menjadi musibah.

Ada orang yang tampak sehat tetapi bisa pingsan kapan saja. Ironisnya, mereka harus membuktikan dulu bahwa dirinya memang sakit agar dipercaya.

Iklan

Dua tahun lalu saya menjadi bagian dari sekitar 2,5 juta penyandang autoimun di Indonesia. Dari luar saya tampak baik-baik saja. Padahal kelelahan ekstrem, tremor, hingga jantung berdebar bisa datang sewaktu-waktu. 

Paradoksnya, karena terlihat sehat, kondisi itu sering tidak dipercaya. Kurangnya pemahaman terhadap isu ini pernah mengantarkan saya pada keputusan yang sederhana, tapi berbahaya.

Suati hari, saat berada di dalam bus, seorang ibu meminta kursi yang saya duduki. Sebagai orang muda yang tampak sehat, tentu saya berdiri. 

Namun, perjalanan itu justru memperburuk kondisi saya. Saat itulah saya sadar bahwa penampilan sering kali lebih dipercaya daripada kondisi kesehatan seseorang. 

Penyandang disabilitas yang tak tampak di ruang publik

Pengalaman tersebut hanyalah satu contoh dari persoalan yang lebih besar: penyandang disabilitas tak tampak masih hidup dalam sistem yang mengandalkan bukti fisik.

Persatuan Reumatologi Indonesia (2025) menjelaskan bahwa disabilitas tak tampak adalah kondisi yang membatasi aktivitas seseorang meskipun fisiknya terlihat normal, seperti autoimun, epilepsi, gangguan saraf, maupun penyakit kronis tertentu. 

WHO bahkan memperkirakan satu dari enam penduduk dunia hidup dengan disabilitas. Artinya, jumlah penyandang jauh lebih banyak daripada yang tampak di ruang publik.

Tantangan terbesar pada penyandang disabilitas tak tampak adalah kontradiksi ketika dianggap sehat karena tampak normal. Padahal, penyandang dapat mengalami gejala darurat yang terjadi mendadak di transportasi umum, kantor pelayanan, pusat perbelanjaan, dan ruang publik lain. 

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Hal ini menyebabkan masyarakat dan petugas dapat kehilangan momentum emas untuk menolong hanya karena sibuk mencari “bukti fisik”.

Padahal pada situasi darurat, mereka belum tentu mampu berbicara atau berdebat. Persoalan ini tidak hanya menyangkut kursi prioritas. Setiap penyandang memiliki kebutuhan berbeda. 

Ada yang membutuhkan akses duduk, ada yang harus menghindari makanan tertentu karena berisiko memicu anafilaksis. Ada pula yang memerlukan penanganan khusus ketika gejala kambuh. Sistem yang hanya mengandalkan penilaian visual jelas tidak cukup.

Lanyard khusus penyandang disabilitas dan KPD masih banyak celah

Indonesia sebenarnya telah mengambil langkah awal melalui penggunaan lanyard khusus disabilitas tak tampak dan Kartu Penyandang Disabilitas (KPD). Namun, keduanya masih menyisakan banyak celah.

Iklan

Lanyard hanya memberi sinyal bahwa seseorang membutuhkan bantuan tanpa menjelaskan bantuan seperti apa yang diperlukan. Pengakuannya pun belum seragam di berbagai layanan publik. 

Di sisi lain, penggunaan lanyard juga berpotensi memunculkan stigma karena penyandang tetap harus membuktikan bahwa dirinya memang membutuhkan perlakuan khusus.

KPD pun menghadapi persoalan serupa. Meski menjadi identitas resmi penyandang disabilitas, kartu tersebut belum memuat informasi mengenai kebutuhan spesifik pemiliknya. 

Selain itu, jumlah pemegang KPD masih jauh di bawah estimasi jumlah penyandang disabilitas di Indonesia. Banyak orang masih memandang autoimun atau penyakit kronis sekadar sebagai penyakit, bukan kondisi yang juga dapat menimbulkan disabilitas.

Akibatnya, pengakuan terhadap penyandang tetap bergantung pada penjelasan verbal. Mereka masih harus menjelaskan kondisi kesehatannya berulang kali kepada orang yang berbeda.

Karena itu, sistem perlindungan perlu bergerak dari sekadar identitas menuju sistem informasi yang terintegrasi.

VISI, tawaran solusi untuk perlindungan disabilitas tak tampak

Saya menawarkan konsep VISI: Verifikasi Digital, Identitas Dua Lapis, dan Edukasi.

Pertama, identitas dua lapis. KPD diperkuat dengan kartu tambahan atau identitas digital yang hanya ditunjukkan ketika penyandang membutuhkan bantuan. 

Setelah diagnosis dan asesmen dari tenaga kesehatan dan dinas sosial, identitas akan memuat informasi ringkas mengenai status disabilitas dan kebutuhan utama penyandang yang cenderung variatif. 

Akhirnya, petugas publik dan masyarakat umum memiliki acuan yang jelas tanpa harus memaksa penyandang menjelaskan kondisinya saat tidak stabil. Selain itu, identitas hanya ditunjukkan ketika terjadi situasi yang membutuhkan akomodasi atau pertolongan tertentu di ruang publik. 

Bukankah privasi penyandang menjadi lebih terjaga karena tidak perlu dikalungkan selayaknya lanyard?

Kedua, identitas tersebut akan didukung oleh verifikasi digital melalui platform yang terintegrasi dengan layanan publik dan fasilitas kesehatan. Berbeda dengan identitas dua lapis yang berfungsi sebagai bukti awal dari status disabilitas, website berperan sebagai sarana verifikasi lanjutan. 

Sistem menerapkan prinsip check and recheck melalui pembaruan data berkala oleh fasilitas kesehatan karena kondisi penyandang yang dinamis, yakni dapat membaik, memburuk, stabil, atau bahkan sembuh. 

Petugas dapat memindai identitas dua lapis untuk mengakses website yang akan berisi informasi detail, seperti kebutuhan akomodasi, kontak darurat, fasilitas kesehatan, serta tindakan yang perlu dilakukan saat kondisi darurat. 

Dengan demikian, pemberian bantuan tidak lagi bergantung pada penjelasan verbal dari penyandang.

Edukasi untuk semua lapisan masyarakat

Ketiga, edukasi. Teknologi tidak akan efektif jika masyarakat masih percaya bahwa disabilitas hanya berarti kursi roda atau tongkat atau yang disabilitasnya terlihat. 

Pemerintah perlu memperluas kampanye mengenai disabilitas tak tampak melalui sekolah, fasilitas kesehatan, media sosial, dan pelatihan bagi petugas kesehatan dan petugas layanan publik. 

Pada tingkat petugas layanan, materi mengenai disabilitas tak tampak dapat diintegrasikan ke dalam pelatihan pelayanan publik sehingga seluruh petugas memiliki standar penanganan yang sama. 

Tenaga kesehatan juga berperan penting untuk membantu pasien mengenali status disabilitasnya serta mengarahkan mereka pada pemanfaatan KPD. 

Seluruh solusi ini membentuk sistem yang seimbang antara perlindungan dan efektivitas layanan publik. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat perlindungan data, tetapi juga lebih efisien, rasional, dan implementatif karena memanfaatkan regulasi dan infrastruktur yang telah tersedia. 

Prinsip controlled disclosure membuat penyandang tetap memiliki kendali penuh atas informasi kesehatannya karena sistem hanya diungkapkan ketika diperlukan untuk memperoleh akomodasi atau bantuan.

Tak perlu dimulai dari nol untuk melindungi yang tak tampak

Pendekatan ini tidak memerlukan sistem baru dari nol. Indonesia sebenarnya telah memiliki dasar hukum, infrastruktur administrasi, dan KPD. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan seluruh elemen tersebut agar perlindungan tidak lagi bergantung pada penjelasan verbal penyandang disablitas tak tampak.

Tentu penerapannya membutuhkan perlindungan data pribadi, standar klasifikasi yang jelas, serta integrasi antarlembaga. Infrastruktur digital juga harus merata agar sistem dapat diakses di seluruh wilayah Indonesia. 

Namun, tantangan tersebut jauh lebih kecil dibandingkan risiko yang terus dihadapi jutaan penyandang disabilitas tak tampak setiap hari.

Selama ruang publik masih mengukur keterbatasan dari apa yang terlihat, penyandang disabilitas tak tampak akan terus dipaksa membuktikan dirinya sebelum memperoleh bantuan. 

Paramedis juga perlu didorong agar tidak hanya berfokus pada “diagnosis dan perawatan”, tetapi turut mengedukasi pasien mengenai hak administratif mereka.

Masyarakat yang inklusif bukanlah masyarakat yang menyediakan fasilitas paling banyak, melainkan masyarakat yang mampu memahami kebutuhan setiap warganya.

Sudah saatnya sistem kita belajar melihat mereka yang selama ini tidak terlihat.

Penulis: Gabriella Sunsugos Sianturi
Editor: Agung Purwandono

*) Tulisan ini merupakan Juara I Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Naskah telah disunting oleh redaksi Mojok.co tanpa mengubah gagasan utama penulis.

Terakhir diperbarui pada 13 Juli 2026 oleh

Tags: beswan djarumdifabeldisabilitas
Gabriella Sunsugos Sianturi

Gabriella Sunsugos Sianturi

Penyintas autoimun, mahasiswa aktif angkatan 2023 dari Universitas Udayana, Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Elektro. Penerima Djarum Beasiswa Plus.

Artikel Terkait

Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO
Eksplor

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO
Eksplor

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Cerita Lola Nadiya Putri, peserta Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 yang mengangkat persoalan crab mentality yang menghambat perempuan desa di Nganjuk untuk tumbuh dan maju MOJOK.CO
Eksplor

Ironi Perempuan di Desa: Dihambat Tumbuh dan Maju karena Crab Mentality

4 Juli 2026
Essay Contes Beswan Djarum: menulis esai memberi soft skills yang menunjang karier profesional MOJOK.CO
Eksplor

Menulis Esai Jadi Bekal Karier Anak Muda, Beri Ragam Soft Skills Vital yang Dicari Dunia Kerja Profesional

3 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa tapi malah laris MOJOK.CO

Berdasarkan pengamatan saya, Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa, tapi malah laris kebangetan dasar aneh

7 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.